Membangkitkan Spirit Literasi Remaja

Oleh Nurul H. Maarif*)

Seorang ulama muda, Muhammad Baqir, baru saja melangsungkan pernikahan. Malam itu adalah malam pertamanya. Malam yang tidak akan dilewatkan begitu saja, tanpa sentuhan makna bagi mereka yang telah menikah. Wajahnya tampak lelah. Ia ingin meluruhkan kelelahan itu dengan canda-tawa bersama kekasih hatinya. Iapun bergegas menuju kamar pengantin. Pastilah istrinya telah menanti penuh cinta, pikirnya.

Ia terus melangkah. Namun kakinya terhenti. Rupanya sang istri masih dikerumuni saudari-saudarinya sekedar untuk mengucapkan selamat atau bercengkerama. Niatnya untuk masuk kamar pengantin diurungkan. Langkahnya lantas dialihkan menuju kamar sebelah. Ia pun mengambil kitab dan membacanya. Terus membacanya.

Tatkala saudari-saudarinya telah beranjak dari kamar istrinya, ulama muda ini tidak menyadarinya. Ketika istri menanti penuh harap, iapun tidak merasakannya. Lelaki muda yang cerdas itu hanyut-tenggelam dalam lembaran-lembaran kitab. Ia terus membaca dan membaca. Ia baru tersentak, saat azan Shubuh dikumandangkan dari masjid dekat rumahnya. “Astaghfirullah al-adhim!” gumamnya kaget. Ia buru-buru melangkah ke kamarnya. Dilihatnya sang istri terlelap dalam tidur.

Beberapa Makna Penting

Cerita yang dikutip oleh Dwi Budiyanto (Prophetic Learning: 2010, h. 72-73) ini mengajarkan makna-makna penting terkait ketekunan membaca. Pertama, ulama muda itu mengerti betul urgensi waktu dan berupaya memanfaatkannya sebaik mungkin, kendati dengan mengabaikan kegembiraannya di malam pertama; malam yang dinanti-nanti semua pengantin baru. Kesadarannya pada wa al-‘ashri (demi masa), menjadikannya “gila” dan melalaikan hal-hal yang biasanya justru dikejar-kejar kalangan muda. Baginya, waktu laksana pedang. Siapa menyia-nyiakannya, dia akan tertebas mata tajamnya dan niscaya menjadi orang yang merugi.

Muhammad Baqir juga menyadari dengan baik, bahwa usia – dalam istilah Imam al-Ghazali – adalah ra’s malika atau “modal hartamu” (Risalah al-Mu’awanah: Tth., h. 7). Masa depan modal harta itu tergantung pada cara memenejnya. Menejemen yang baik, menjadikannya berkembang dan menghadirkan keberuntungan. Menejemen yang buruk, menjadikannya surut dan mendatangkan kebangkrutan. Demikian pulalah karakter waktu. Ia akan menghadirkan keuntungan atau kebangkrutan, itu tergantung menejemen dan pemanfaatannya.

Kedua, kecintaannya pada bacaan/buku mampu membuatnya lupa daratan. Istri yang tengah menantinya penuh kerinduan di kamar pengantin pun “terlupakan”. Bahkan, tak jarang, oleh bookaholic atau orang-orang yang gila bacaan (Prophetic Learning: 2000, h. 173), istri yang sesungguhnya acapkali diduakan atau dimadu dengan buku-buku. Buku-buku itulah “istri pertama”nya dan paling sering diajak bercengkerama di setiap waktu.

Ketiga, cinta membangkitkan energi untuk lebih produktif. al-Mar’u ‘ala ma ahabba, kata pepatah. Seseorang akan larut pada yang dicintainya. Dengan membaca, tahu-tahu telah datang Shubuh, rela tidak tidur dan meninggalkan istrinya tertidur sendirian. Dia rela menjadi pelayan dan melayani ilmu (khidmah al-‘ilm). Kecintaan ini akan menjadikannya siap lelah, capek, penat, dan seterusnya. Kecintaan ini pulalah yang menjadikannya rela “kehilangan masa muda, dari pada kehilangan masa depan.”

Keempat, melalui kecintaannya pada ilmu, ulama muda ini ingin meledakkan atau memancarkan potensi intelektualisme yang ada dalam dirinya. Inilah yang disebut quantum (Quantum Reading: 2003, h. 9). Dengan upaya keras sekeras-kerasnya ala quantum ini, maka potensi yang ada dalam dirinya akan maksimal dan hasilnyapun termanfaatkan dengan maksimal oleh masyarakat. Pada prinsipnya, semua manusia memiliki potensi yang sama. Hanya saja, cara meledakkan potensi itu yang berbeda-beda.      

Menumbuhkan Spirit Iqra’

Melihat “spirit iqra’” – istilah ini diambil dari buku karya Hernowo, Spirit Iqra’ (Mizan, 2003) – di kalangan remaja yang kian hari kian menurun – indikasinya mereka lebih sibuk bermain-main HP, motor, game, hura-hura, nongkrong di pinggir jalan, dan sepinya pengunjung forum-forum diskusi ilmiah atau perpustakaan – maka spirit yang diadopsi dari Qs. al-Alaq: 1 ini perlu ditumbuhkan kembali dengan berbagai cara:

Pertama, pemerintah/swasta berkewajiban menciptakan ruang-ruang belajar publik yang sesuai jiwa muda (ruangan nyaman, buku variatif, kegiatan menghibur, termasuk menonton film, dll). Bikinlah perpustakaan umum yang menyenangkan. Lebih sempurna lagi, perpustakaan itu dipasang hot spot, untuk memantik kesemangatan kawula muda hadir di sana. Dengan dana APBD, hal “kecil” ini tak mustahil terwujudkan.

Kedua, pemerintah/swasta perlu sering-sering mengadakan even-even pendidikan yang menghibur kalangan remaja. Termasuk perlunya menghadirkan motivaror-motivator ulung di bidang pendidikan. Tentu saja, semua ini butuh biaya. Dengan semangat kebersamaan, maka niatan mewujudkannya menjadi “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”.

Ketiga, perlunya mengingatkan kembali manfaat membaca bagi jiwa-jiwa remaja. Ingatkan kembali, baik oleh orang tua, guru, rekan atau siapapun, bahwa pengetahuan akan menghadirkan banyak kemanfaatan personal maupun publik. Misalnya, secara spiritual pengetahuan akan menjadikan pemiliknya diangkat derajatnya oleh Allah SWT, baik di hadapan manusia maupun makhluk lainnya. (Qs. al-Mujadilah: 11).     

Hernowo menuliskan, ilmu merupakan pupuknya iman. Iman, tulisnya, akan tumbuh bila diberi pupuk bernama ilmu (Spirit Iqra: 2003, h. 112). Pernyataan ini sejalan dengan semangat ayat iqra’ yang diiringi redaksi bismi rabbika (dengan menyebut nama Tuhanmu). Bagi M. Quraish Shihab, pengaitan ini menuntut pembaca tidak hanya membaca dengan ikhlas, melainkan juga bisa memilih bahan bacaan yang tidak mengantarnya pada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” (“Membumikan” al-Quran: 2004, h. 170).

Dengan demikian, untuk mengukuhkan dan menyuburkan keimanan remaja – supaya tidak terjerumus pada lubang kehidupan bebas, narkoba, minuman keras, geng motor, pergaulan permisif dan seks ala binatang – maka pengetahuan penting didalami. Pengetahuan juga syarat utama membangun peradaban. Semakin luas pembacaan, semakin tinggi peradaban dan begitu pula sebaliknya (“Membumikan” al-Qur’an: 2004, h. 170).
 
Manfaat lainnya, seperti dijelaskan Hernowo, kebiasaan membaca buku menjadikan pembacanya bisa belajar dari pengalaman orang lain dan dapat menambah pengetahuan dan banyak informasi. Selain itu, yang juga penting diingatkan, kegiatan membaca bisa menghindarkan pembacanya dari kerusakan jaringan otak di masa tua. Ini menurut riset mutakhir tentang otak. Bahkan konon membaca buku dapat membantu seseorang untuk menumbuhkan saraf-saraf baru di otak (Quantum Reading: 2003, h. 33-37). Membaca juga menjadikan saraf-saraf otak bekerja efektif dan terus berfikir (Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: 2003, h. 23).  

Keempat, siapapun harus menyuntikkan kembali spirit iqra’ dengan dosis tinggi ke dalam jiwa-jiwa remaja. Apalagi, ayat tentang membaca (iqra’) adalah ayat pertama yang diperkenalkan kepada kaum muslim sekaligus kewajiban pertama. Jangan sampai, ini menjadi ayat pertama yang diturunkan dan ayat pertama pula yang ditinggalkan dan ditanggalkan. M. Quraish Shihab menyatakan, perintah membaca merupakan perintah paling berharga bagi manusia, karena membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna (“Membumikan” al-Qur’an: 2004, h. 170).

Tak Cukup (Hanya) Membaca

Belajar yang baik, menurut beberapa orang, tidak cukup hanya dengan membaca, melainkan juga menuliskan hasil bacaan itu. Saya teringat pesan Gol A Gong, pendiri Taman Baca Rumah Dunia Serang Banten, saat memberikan sambutan pada workshop jelang Peresmian Pondok Baca Qi Falah, di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, beberapa tahun lalu. Menurutnya, menulis adalah proses membaca dua kali. Itu sebabnya, dengan menulis, ilmu atau informasi yang didapatkan akan lebih melekat di pikiran kita dan tentu saja tidak mudah hilang.  

Pertanyaannya: apa saja manfaat menulis? Selain untuk menjadikan bacaan yang kita baca lebih menempel di pikiran, menulis juga bermanfaat untuk mengikat makna. Apapun informasi yang kita serap, tidak semestinya hilang begitu saja dan haruslah ditali dengan kuat. Caranya? Melalui tulisan! ‘Ali bin Abi Thalib mengingatkan, “Ikatlah ilmu dengan tulisan/qayyidu al-‘ilm bi al-kitab” (Prophetic Learning: 2010, h. 190).

Menulis juga sama halnya melestarikan dan mewariskan kekayaan intelektual bagi generasi berikutnya. Ulama-ulama terdahulu, di bidang apapun, semisal Abu Hanifah (w. 150 H), Malik bin Anas (w. 179 H), Imam al-Syafi’i (w. 204 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Imam al-Ghazali (w. 505 H), al-Farabi, al-Kindi, Ibn Rusyd dan seterusnya, adalah orang-orang hebat yang meninggalkan warisan intelektual berupa tulisan yang juga hebat. Tanpa warisan berupa karya-karyanya, ulama-ulama yang hidup puluhan abad silam itu mustahil kita kenali saat ini, baik sosok maupun pikiran-pikirannya. al-Qur’an dan Hadis pun demikian, berupa tulisan. Ajaran-ajaran Islam mustahil kita terima, jika ayat-ayat dan Hadis-hadis tidak dituliskan.

Itu sebabnya, kata-kata hikmah menyatakan: al-khathth yabqa zamanan ba’da shahibih wa katib al-kathth taht al-ardh madfunun/teks atau tulisan akan kekal sepanjang masa, sementara penulisnya hancur lebur di kolong tanah (Kritik Hadis: 2000, h. v). Tulisan itu langgeng, kendati telah ribuan tahun ditorehkan. Karena tulisan lah, warisan intelektual Islam terus bisa dibaca kapan dan di manapun.

Tak heran, karenanya, jika Alm Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A. acapkali mengingatkan santri-santrinya, di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Jakarta; wa la tamutunna illa wa antum katibun/janganlah kalian meninggal sebelum menjadi penulis. Lantas, masihkah kita berpikiran bahwa belajar itu hanya membaca, membaca dan membaca, tanpa menuliskan hasil bacaan itu? Bukankah menulis sama halnya membaca? Bukankah TS Elliot (1888-1965) mengingatkan; “Sulit membangun peradaban tanpa (budaya) tulis dan buku”? (Prophetic Learning: 2000, h. 170).

Atas dasar ini, tak ada alasan apapun yang bisa dibenarkan bagi generasi muda untuk tidak membaca dan menulis. Dan, membaca plus menulis itulah hakikat literasi, yang saat ini penting ditumbuhkan dan dibangkitkan secara serius di kalangan remaja, sehingga tidak lagi terjadi “darurat literasi”. Wa Allah a’lam.[]   

*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak dan Peraih Apresiasi Pendidikan Madrasah Prop. Banten 2017 Kategori Guru Madrasah Produktif.

(HU Radar Banten, 28 Desember 2017)