Peran Strategis Pemuda Menanggulangi Terorisme

Oleh Cahyati*)

Tidak diragukan lagi, khususnya di Indonesia, sejak tahun 2000 terorisme kian hari kian menjadi isu yang sangat serius, yang menyibukkan dan menyedot energi semua kalangan, baik akademisi, aktivis, agamawan, dan terutama jajaran pemerintahan. Tak hanya di Indonesia, isu terorisme bahkan telah menjadi konsen dunia untuk ditangani.

Teror itu sendiri, secara etimologi berarti upaya menciptakan ketakutan kepada orang lain yang dilakukan oleh orang atau golongan tertentu, atas dasar apapun, termasuk agama. Sementara terorisme adalah paham yang menggunakan kekerasan untuk menciptakan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan. Dampaknya berupa ketidaktenangan secara sosial dan politik. Inilah yang disasar oleh para pelaku tindak terorisme.

Karena itu, tak salah jika dikatakan bahwa kekerasan senantiasa identik dengan terorisme; dan bahkan kekerasan menjadi puncak terorisme. Dalam The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act, 1984, pasal 14 ayat 1 dijelaskan bahwa: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear (terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk tujuan-tujuan politis, termasuk menggunakan kekerasan untuk membuat masyarakat atau anggota masyarakat ketakutan)”.

Penulis dan kita semua yang memiliki kewarasan meyakini, bahwa tak ada satu orang pun yang setuju dengan perbuatan teror ini. Tak akan ada seorang pun yang tak tersentuh hatinya melihat banyaknya korban tak berdosa yang berjatuhan. Orang tua kehilangan anaknya, istri kehilangan suaminya, dan sebaliknya. Yang mencintai kehilangan kekasihnya. Banyak kerugian yang dialami oleh masyarakat ataupun pemerintah; baik kerugian material berupa kerusakan fasilitas umum maupun non-material berupa trauma berkepanjangan para korban. Namun ironinya, sebagian aksi terorisme kini justru diberi lebel jihad untuk membela Allah dan ajaran-Nya. Inilah yang disebut kejahatan berkedok agama atau kesucian, yang justru lebih lebih mengerikan dibanding terorisme lainnya.

Oleh sebab itu, terorisme harus ditanggulangi tanpa jeda. Dan pemuda sebagai generasi emas bangsa, harus turut andil secara aktif membantu pemerintah dalam memberantas aksi terorisme ini. Selain pemuda sebagai aset bangsa, pemuda juga sebagai harapan bangsa. Pemuda memiliki kekuatan yang luar biasa, seperti pernyataan Bung Karno: “Beri aku 1000 orang tua, niscahya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscahya akan kugoncangkan dunia”. Ungkapan ini menggambarkan bahwa pemuda menjadi andalan bangsa.

Dalam hal ini, Herwan Chaidir selaku Direktur Perlindungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, pada Selasa, 23 Januari 2018, dalam kegiatan Lombok Youth Camp 2018, di Pantai Klui Lombok Utara Nusa Tenggara Barat, menyatakan bahwa generasi muda harus peka dan mampu menjadi problem solver (pemberi solusi) terkait berbagai permasalahan yang dialami oleh bangsa. Tentu saja tak terkecuali masalah terorisme yang kian marak terjadi di – pinjam istilah PSIK Paramadina – Negeri Zamrud Toleransi ini.

Kiranya langkah-langkah strategis apa yang perlu dimainkan oleh para pemuda negeri ini? Salah satu yang dapat dilakukan adalah metode soft approach, yakni pendekatan yang lembut; yakni pertama, kontra radikalisasi, yang merupakan salah satu strategi BNPT dalam pencegahan terorisme. Dalam hal ini, pemuda bisa melakukan dialog dan sosialisasi, dalam rangka meningkatkan kepekaan dan kesadaran masyarakat akan bahaya radikalisme dan terorisme, sehingga paham ini tidak masuk dan tidak cepat tersebar di masyarakat.  

Kedua, meluruskan pandangan dan kesalahpahaman tentang makna jihad. Hal ini tentu perlu dilakukan agar tidak banyak masyarakat yang terpengaruh oleh ideologi jihadis, sebab secara umum para teroris yang berkedok agama menganggap bahwa aksinya adalah sebuah jihad di jalan Allah yang kematiannya akan diganjar kesyahidan dan surga/bidadari. Pemahaman sempit ini, terjadi karena mereka mendapatkan doktrin-doktrin jihad yang salah. Pada hakikatnya, jihad memiliki arti yang sangat luas. Jihad bukan saja berarti peperangan. Menuntut ilmu, berbakti pada orang tua, berbakti pada tanah air, peduli sosial, menjalankan syariat agama dan menjauhi larangannya, itu juga jihad. Aksi yang merugikan banyak pihak, membunuh orang-orang yang tidak bersalah, menghancurkan fasilitas umum, justru bukan jihad yang sesungguhnya.

Ketiga, menetralisir berita hoax dan hate speech. Hoax adalah berita palsu atau usaha untuk menipu pembaca, sementara hate speech berarti ujaran kebencian yang dapat memicu konflik dan rasa benci dan dendam, baik karena unsur suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Hoax maupun hate speech merupakan kekerasan non-verbal yang akan menjadi bumerang bagi kebersamaan dan kebangsaan kita, karena dapat menghancurkan sensi-sendi persaudaraan dan merobohkan persatuan bangsa. Karena itu, pemuda sebagai generasi damai sepatutnya berpartisipasi dalam menetralisir kedua berita ini. Salah satunya bisa dengan menyebarkan pesan-pesan damai di berbagai media, seperti facebook, twitter, instagram, youtube, dan yang lainnya.

Keempat, adanya kesadaran hidup damai di kalangan pemuda khususnya, umumnya seluruh kalangan masyarakat. Dalam artian, semua masyarakat Indonesia harus menanamkan nilai persatuan tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, atau golongan. Karena sikap apatis atau acuh tak acuh dalam bermasyarakat dapat mendorong munculnya kekerasan dari oknum-oknum tertentu yang memiliki pemahaman dangkal akan makna kehidupan sosial.

Untuk itu, generasi muda Indonesia memiliki tanggung jawab bersama untuk mewujudkan Indonesia yang harmonis dan damai; sebuah bangsa yang sejahtera dan penuh kenyamanan. Mari kita tingkatkan peran kita untuk tanah air kita tercinta! Dan gerakan ini bisa dilakukan oleh 200 pemuda dari seluruh propinsi di Indonesia yang turut serta dalam kegiatan Lombok Youth Camp 2018, yang diselenggarakan pada 21-25 Januari 2018 lalu.[]

*) Alumni Lombok Youth Camp 2018, Mahasiswi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang dan Guru Ponpes Qothrotul Falah Lebak

(HU Radar Banten, 2 Februari 2018)