Ramadan yang Terkoyak


Hari-hari ini, kaum muslim di seluruh dunia tengah menjalani puasa Ramadan. Menghadapi bulan yang dirindukan ini, sisi lahiriah dan batiniah, ditata dengan baik. Kegembiraan tampak di mana-mana. Konon, siapa yang bergembira dengan hadirnya Ramadan, bersuka cita menyambut perintah-Nya dan aneka ibadah sunnah di dalamnya, Allah Swt akan memberikan reward surga untuknya.

Sayangnya, momen kekhusyu’an jelang Ramadan terkoyak oleh tragedi kemanusiaan yang sungguh memilukan; penyerangan pada aparat keamanan di Mako Brimob Depok Jawa Barat dan ledakan bom di beberapa gereja dan markas polisi di Jawa Timur. Suasana hening persiapan penyambutan Ramadan terganggu. Konsentrasi buyar. Bulan penuh rahmat dan berkah itupun hadir dalam situasi yang getir. Barangkali pelakunya sudah tidak sabar segera masuk “surga”. Entah surga apa dan surga siapa yang dicitakannya!

Herannya, pelakunya mengaku sebagai muslim. Atribut lahiriahnya menunjukkan hal itu. Namun, alih-alih meninggikan citra Islam, pengakuan sekaligus perilakunya justru merontokkannya ke titik paling bawah. Amaliahnya nyata-nyata menadirkan keluhuran Islam. Bukan dengan cara itu mengamalkan ajaran Islam, sebab jihad bukan terosisme dan terorisme bukan jihad.

Beberapa saat usai tragedi itu, penulis berkirim pesan ke beberapa pendeta, termasuk beberapa petinggi Musyawarah Pimpinan Gereja-gereja (MUSPIJA) Banten; “Entahlah, apa yang harus saya katakan soal bom Jawa Timur. Mereka bukanlah representasi Islam. Bukan mengamalkan ajaran Islam. Bahkan entah agama apa yang mereka anut. Semoga kita semua tetap menjalin tali kekeluargaan yang indah. Tuhan kita sama. Ayah dan bunda kita sama. Kita keluarga besar yang semestinya saling mencintai, bukan membenci.” Bersyukur, mereka memahami, apa yang terjadi bukanlah pengamalan ajaran agama. Tak perlu mengaitkannya dengan agama tertentu.

Kiriman pesan itu bukan untuk mengklarifikasi perilaku brutal di dua tempat itu, melainkan semata untuk menyatakan, bahwa kaum muslim tidak mengajarkan dan menyetujuinya. Kami bahkan sangat mengecamnya. Tindakan yang merugikan kemanusiaan, lebih-lebih yang menyebabkan hilangnya nyawa orang-orang tak berdosa, itu jauh dari nilai-nilai keluhuran Islam. Tidak hanya Islam, agama-agama lain juga tidak mengajarkan tindakan brutal itu.

Dalam Hadis riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah Saw bersabda: “Muslim sejati adalah orang yang lisan dan tangannnya tidak mengganggu muslim lainnya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berpindah dari perkara yang dilarang oleh Allah.” Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi dan Imam al-Nasa’i, Rasulullah Saw bersabda: “Seorang mu’min (yang sempurna) yaitu mereka yang tidak mengganggu darah dan harta manusia lainnya.” Muslim yang baik tidak merugikan siapapun, baik saudara muslimnya ataupun saudara non-muslimnya.

Inilah rambu-rambu yang harus ditaati oleh kaum muslim. Lisan dan tangannya harus dijaga dari menyakiti pihak lain. Hanya dalam keadaan mereka diserang, baru boleh melakukan pembelaan, tanpa melampaui batas. Apa yang dilakukan di Depok dan Jawa Timur, sama sekali tidak termasuk di dalamnya. Karenanya jelas, itu bukan tindakan yang mencerminkan nilai Islam.

Berjihad, dalam konteks hari ini, adalah dengan mempertahankan kehidupan, bukan memburu kematian. Hiduplah untuk kemanusiaan, membantu yang tertindas, yang miskin, yang terpinggirkan, juga yang teraniaya. Hidup yang diisi amal sosial jauh lebih bermakna ketimbang kematian yang sia-sia, yang menyebabkan hilangnya nyawa dan kerusakan.

Ramadan kali ini, seyogyanya kaum muslim tidak hanya menahan diri dari lapar dan dahaga, melainkan juga menahan lisannya dari mengujar dan mengumbar kebencian (hate speech); dan mengerem tindakannya dari menyakiti dan merugikan pihak lain. Momen puasa kali ini, semoga menjadi momen terbaik untuk menunjukkan Islam sebagai agama ramah, bukan marah.[]

*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak dan Penerima Apresiasi Pendidikan Madrasah Kemenag Banten 2017 Kategori Guru Madrasah Produktif.

(HU Radar Banten, 19 Mei 2018)