Ramadan Bulan Membaca

Oleh Nurul H. Maarif*)

Isteri Rasulullah Saw, ‘Aisyah bint Abi Bakr mengisahkan, wahyu pertama yang diterima suaminya berupa mimpi yang benar (al-ru’ya al-shadiqah). Beliau gemar menyepi (al-khala’) setelahnya. Dan Gua Hira menjadi tempat favoritnya.

Tak jarang, hingga beberapa malam beliau ber-tahannuts di sana. Wahbah al-Zuhaili, memaknai tahannuts dengan beribadah. Aneka perbekalan dibawanya. Beliau pulang ke rumah isteri pertamanya, Khadijah bint Khuwailid, tatkala perbekalannya habis. Lalu pergi lagi ke Gua Hira.

Hingga suatu ketika, putera Abdullah dan Aminah itu dikagetkan oleh datangnya wahyu Allah Swt melalui sosok ganjil yang sama sekali tak dikenalinya. “Bacalah!” perintahnya.

“Aku tak bisa membaca,” jawab Muhammad gemetaran. “Sosok itu memelukku erat, hingga aku kepayahan. Ia kemudian melepaskanku,” sambungnya.

“Bacalah!” pinta sosok itu lagi.

“Aku tak bisa membaca!” jawabnya sama. “Sosok itu memelukku untuk kedua kalinya. Dan lagi-lagi aku kepayahan. Aku dilepaskannya lagi,” kisahnya lagi.

“Bacalah!” pinta sosok misterius itu untuk ketiga kalinya.

“Aku tak bisa membaca!,” jawabnya juga untuk yang ketiga kalinya.

Muhammad lalu dipeluknya untuk yang ketiga kalinya. Kemudian sosok itu membacakan Qs. al-Alaq: 1-5, ayat pertama yang diturunkan dalam sejarah Nuzul al-Qu’ran. Apa yang penulis kisahkan itu hanya sepotong dari keseluruhan peristiwa penting di Gua Hira, yang terjadi pada 610 M, ketika Muhammad berusia 40 tahun. (al-Tafsir al-Munir: XV/700-701). Inilah titik awal dan babak baru kerasulan Muhammad.

Kisah turunnya ayat Iqra, yang terjadi pada Ramadan dan senantiasa diperingati sebagai Nuzul al-Qur’an, ini sejatinya kunci membangun peradaban yang agung: peradaban membaca dan menulis. Ayat pertama Qs. al-‘Alaq, iqra’, adalah seruan untuk membaca. Membaca atas nama Allah, bukan selainnya. Iqra’ ini perintah Allah Swt yang pertama diturunkan dan (barangkali) sekaligus yang pertama diabaikan.

Dalam kosa kata santri, perintah itu perbuatan yang bila dikerjakan beraih pahala dan bila ditinggalkan beraih dosa. Membaca itu pahala dan meninggalkanya itu dosa, karena melanggar perintah Allah Swt. Dan perintah iqra’, itu tidak ada obyek yang spesifik. Menurut para ahli tafsir, itu menunjukkan perintah membaca berlaku menyeluruh. Membaca apapun; baik yang tersurat maupun yang tersirat; baik ayat qauliah (teks) maupun kauniyah (alam raya).

Ayat keempat, ‘allama bi al-qalam, Allah mengajarkan dengan pena, acapkali dikaitkan dengan anjuran untuk meneliti dan menulis. Membaca semestinya diriingi dengan menuliskan hasil bacaan. Membaca tanpa menulis, menjadikan pelakunya “masuk angin dan kembung”. Menulis tanpa membaca itu kering makna dan substasi. Menulis, menurut Ali bin Abi Thalib, adalah cara untuk mengikat ilmu (Prophetic Learning: 2010, h. 190). Penulis Quantum Writing (2011), Bobby de Porter menyatakan, menulis dan membaca itu dua saudara kembar. TS Elliot (1888-1965) mengingatkan; “Sulit membangun peradaban tanpa (budaya) tulis dan buku” (Prophetic Learning: 2000, h. 170).  

Sayangnya, “spirit iqra’” atau “spirit wahyu pertama” itu kian melemah di kalangan generasi muslim saat ini, tak terkecuali di Indonesia. Kajian UNESCO tahun 2012, menunjukkan hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang khatam membaca buku. Tak bisa dipungkiri, mayoritas penduduk negeri ini muslim. Merekalah yang banyak menjadi obyek kajian UNESCO tentunya.

Karena itu, jika UNESCO merayakan 23 April sebagai World Book Day (WBD) atau Hari Buku Sedunia, dan telah diawali sejak 1995, maka semestinya umat Islam merayakan Ramadan sebulan penuh sebagai Bulan Membaca dan Menulis. Dan 17 Ramadan dirayakan sebagai Hari Membaca dan Menulis bagi umat Islam. Semoga saja, spirit iqra’ yang sudah digaungkan sejak 14 abad silam, jauh sebelum WBD, itu kembali menggeliat di Ramadan ini.[]  
 
*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak dan Penerima Apresiasi Pendidikan Madrasah Kemenag Banten 2017 Kategori Guru Madrasah Produktif.

(HU Radar Banten, Selasa, 22 Mei 2018)