Iri yang Dianjurkan

Oleh Nurul H. Maarif*)

Manusia tidak bisa menjalani kehidupannya sendirian. Mereka meski berbaur satu dengan yang lain. Saling membutuhkan. Saling membantu. Keragaman status sosial, menjadikan mereka bak satu tubuh yang saling melengkapi. Sayangnya, terkadang ada sifat iri (hasad) tatkala kita melihat status orang lain lebih tinggi atau harta mereka lebih banyak.

Sifat iri itu penyakit hati yang semestinya dihindari. Namun nyatanya, tanpa disadari sifat, sifat negatif ini acapkali bersemayam dalam hati setiap manusia. Allah Swt berfirman: “Ataukah mereka iri kepada manusia karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya?” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 54).

Dalam Hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam al- Tirmidzi, dari az-Zubair bin al-Awwam, Rasulullah Saw menyebutkan, iri (al-hasad) dan benci (al-baghdha’) adalah penyakit batin orang-orang terdahulu (dan orang-orang zaman ini). Allah Swt melarang sifat iri ini: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (Qs. al-Nisa’ [4]: 32).

Namun demikian, ternyata tidak seluruh sifat iri itu terlarang mutlak. Ada dua keirian yang (bahkan) dianjurkan oleh Islam. Dalam Hadis riwayat Imam al-Humaidi (Musnad al-Humaidi: I/515), Ahmad bin Hanbal (Musnad Ahmad bin Hanbal: VIII/520) dan Imam Ibn Hibban (Shahih Ibn Hibban: I/332), Rasulullah Saw bersabda: ”Tidak ada keirian kecuali pada dua orang: orang yang dianugerahi kemampuan membaca al-Qur’an oleh Allah dan ia selalu membacanya siang dan malam; dan orang yang dikaruniai harta kekayaan oleh Allah, lalu dia menginfakkannya siang dan malam.”  

al-Qur’an itu kitab suci yang berisi petunjuk (huda) bagi orang-orang bertakwa (Qs. al-Baqarah [2]: 2). Kandungannya berupa nilai-nilai luhur yang penting bagi kehidupan di dunia dan akhirat. Beruntunglah mereka yang hidupnya disinari cahayanya dan di bawah naungannya, siang dan malam. Pahala membacanya dilipatgandakan menjadi 10 kali perhurufnya. Kelak di akhirat, al-Qur’an juga akan menjadi syafaat baginya. Siapa yang tidak ingin seperti mereka yang hidupnya berkelimpahan berkah dan rahmat Allah? Pada merekalah iri perlu ditujukan.

Iri pada orang yang dermawan (al-sakhi), juga perlu ditujukan. Mereka inilah orang yang bermanfaat secara sosial. Oleh Allah, mereka disebut: ”Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.” (Qs. Ali Imran [3]: 134). Menurut Muhammad ‘Ali al-Shabuni (Shafwah al-Tafasir: I/210), dermawan sejati itu yang menyalurkan hartanya fi al-yusr wa al-‘usr (dalam keadaan mudah dan sulit). Wahbah al-Zuhaili (al-Tafsir al-Munir: IV/86) menuliskan, mereka orang yang menyedekahkan hartanya baik dalam keadaan longgar maupun sempit, merdeka maupun terpaksa, sehat maupun sakit dan bahkan dalam segala situasi.

Mereka yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, akan mendapat pahala di sisi Allah (Qs. al-Baqarah [2]: 174). Harta yang disedekahkan, juga akan diganti oleh-Nya (Qs. Saba’: 39). Kebaikan di dunia mereka raih. Begitu juga kebaikan di akhirat. Siapa yang tidak ingin seperti mereka?

Ramadan adalah bulan pelipatgandaan kebaikan/pahala. Jika membaca al-Qur’an dan sedekah dilakukan lillahi ta’ala di bulan spesial ini, maka pelakunya akan diberi reward terbaik oleh Allah Swt. Orang-orang beriman niscaya tidak akan menyia-nyiakan momen tahunan yang sangat penting ini. Dan jika sifat iri itu justru pada selain keduanya, itu tandanya keimanan kita belum beranjak menuju dewasa.[]
 
*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak dan Penerima Apresiasi Pendidikan Madrasah Kemenag Banten 2017 Kategori Guru Madrasah Produktif.

(HU Radar Banten, Rabu, 23 Mei 2018)