Tidak Melewati Kerongkongan

Oleh Nurul H. Maarif*)

Alquran sebagai kitab suci umat Islam, jelas tak terbantahkan. Alquran sebagai satu dari dua warisan Nabi Muhammad yang jika dipegangi sungguh-sungguh niscaya kita tidak tersesat jalan, juga kita iyakan. Alquran sebagai kitab petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (Qs. al-Baqarah: 2), juga kita akui.

Lalu, masalahnya apa? Keyakinan kita terhadap Alquran, sepenuhnya tidak ada yang keliru. Hanya saja, jika keyakinan atas kitab suci itu hanya sebatas keyakinan, itu masalah. Jika kitab peninggalan Nabi itu benar-benar ditinggalkan, itu masalah. Dan jika kitab petunjuk itu tidak lagi digali dan diamalkan petunjuknya, itu juga problem serius.

Tidak sedikit diantara kita yang hanya menggilai kesuciannya, tanpa menyelami isi dan mengamalkan ajarannya. Membaca semata menjadi kebiasan yang tidak sakral. Memahami dan mengamalkan isinya bukan lagi tujuan utama. Alquran, lalu, menjadi bacaan yang kering pemahaman apalagi pengamalan. Buktinya, betapa banyak pembaca Alquran yang amaliahnya tidak sejalan dengannya.

Korupsi atau memakan harta orang lain dengan batil (Qs. al-Nisa: 29), itu jelas dilarang Alquran. Banyak yang membaca ayat tentangnya, namun amaliahnya berseberangan dengannya. Merusak alam raya, mengeksploitasinya, termasuk membakar hutan yang mengakibatkan kerugian besar material maupun moril, tidak dibenarkan Alquran (Qs. al-Rum: 41). Kezaliman bukan ajaran Alquran, namun kita acap melakukannya. Keadilan, kedamaian, kemaslahatan, kerahmatan, itu ajaran utama Alquran. Nyatanya, kita hanya membaca teks-teks doktrinalnya. Ironisnya, kita justru menunjukkan perilaku yang berbeda darinya.

Suka tidak suka, diakui atau tidak, kondisi ini sudah terlihat di mana-mana. Kondisi inilah yang kelak di Hari Kemudian diadukan oleh Nabi Muhammad Saw pada Allah Swt. Beliau berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku/ummatku telah menjadikan Alqur’an ini sebagai sesuatu yang mahjura.” (Qs. al-Furqan: 30).  

Apa maksud mahjura dalam ayat di atas? Dalam penjelasan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, yang termasuk kategori mahjura, adalah: Pertama, tidak tekun mendengarkan Alquran. Kedua, tidak mengindahkan aturan halal-haram di dalamnya kendati dipercaya dan terus dibaca.

Ketiga, tidak menjadikannya rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut prinsip-prinsip ajaran agama dan perinciannya. Keempat, tidak berupaya memikirkan dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah yang menurunkannya. Kelima, tidak menjadikannya sebagai obat bagi semua penyakit kejiwaan.

Pernyataan Ibn al-Qayyim menggambarkan, akan munculnya “jurang menganga” antara Alquran sebagai ajaran dan petunjuk kehidupan dengan amaliah para pembacanya. Isinya dipercaya sebagai petunjuk, namun tidak diamalkan dalam kehidupan. Bahkan terkadang dibaca sekedar untuk kepentingan politik yang pragmatis. Alquran, karenanya, tidak lagi menjadi menyelamatkanmu (laka) melainkan justru melaknatmu (alaika).

Ini sesuai isyarat Nabi Muhammad beberapa abad silam; Alquran hanya akan tersisa teksnya saja. Isinya tidak lagi diamalkan. Betapa banyak umat Islam yang tidak menjalankan nilai-nilai luhur di dalamnya. Tak heran, Rasul menyatakan; “… akan muncul orang-orang yang pandai membaca al-Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala…”  (HR Muslim).

Ungkapan “orang-orang yang pandai membaca Alqur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan,” sesungguhnya metaforis belaka. Maksudnya, mereka yang membaca Alquran namun makna dan substansinya tidak merasuk ke dalam relung hatinya, sehingga Alqu’ran tidak menjadi darah kehidupannya dan cahayanya tidak menyinari tindak-tanduknya.
 
Ramadan adalah syahr Alquran. Di bulan ini, dan bulan-bulan lainnya, sudah sepantasnya umat Islam menggalakkan kajian dan pendalaman nilai-nilai Alquran, untuk mengamalkannya. Jangan sampai Ramadan hadir dengan kegetiran, karena Alquran tak lagi menjadi acuan dalam kehidupan; dan hanya menjadi jimat suci yang miskin implementasi.[]
 
*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak dan Penerima Apresiasi Pendidikan Madrasah Kemenag Banten 2017 Kategori Guru Madrasah Produktif.

(HU Radar Banten, Kamis, 24 Mei 2018)