Fitrah Autolysis

Oleh Nurul H. Maarif*)

Setiap makhluk hidup menjalani puasa atau proses menahan diri. Pohon berpuasa dengan menggugurkan daun. Rumput dan biji-bijian berpuasa dengan berhenti tumbuh, yang dikenal dengan dormant atau resting. Selama musim dingin, beruang berpuasa. Dan pada musim panas, buaya juga berpuasa.

Ikan paus dan burung berpuasa tatkala bermigrasi. Ketika musim kawin, ikan salmon dan pinguin, juga berpuasa. Kuda dan kucing, juga berpuasa ketika terserang penyakit, hingga sembuh kembali. Ular juga berpuasa ketika hendak berganti kulit menjadi lebih muda. Ulat pun berpuasa ketika hendak berubah menjadi kepompong, lalu menjadi kupu-kupu yang indah menawan. Dan, semua berpuasa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Dengan kuasa-Nya, Allah Swt menciptakan autolysis sebagai fitrah alamiah atau sunnatullah bagi setiap makhluk hidup. Autolysis acapkali dimaknai sebagai proses penghancuran/perbaikan/perombakan bagian tertentu (yang sudah tidak berfungsi/mati atau rusak) suatu makhluk hidup secara mandiri. Proses ini hanya terjadi tatkala makhluk hidup menjalani puasa.

Tatkala proses autolysis ini aktif, maka ia akan segera bekerja sesuai fitrahnya. Dalam tubuh manusia, secara keseluruhan terdapat sekitar 50 triliun sel penyusun tubuh, yang terdiri sekitar 200 sel. Berlandaskan informasi data yang detail dari setiap sel, autolysis segera menjelajah ke seluruh tubuh mencari sel-sel bermasalah untuk diperbaiki, untuk terciptanya kehidupan tubuh yang normal kembali.  

Atas izin Allah Swt, autolysis memahami betul rekam jejak setiap jenis sel. Bagaimana sehat dan sekitnya sel, ia memahaminya dengan baik. Letak posisi asli sel juga dimengertinya. Jika ada sel bergeser sedikit saja dari posnya, autolysis akan mendeteksinya dengan segera lalu mengembalikannya pada posisi semula. Sel-sel yang liar akan dihabisinya dan dinetralisir menjadi sel yang baik dan aman bagi tubuh.

Dengan kerja autolysis ini, sel-sel yang rusak akan diperbaiki dan yang mati akan dibuangnya. Bahkan benjolan hingga tumor atau timbunan lemak yang acapkali menjadi biang penyakit, akan diatasinya. Hasil kerja autolysis berupa penghancuran sel-sel dan lemak akan dikirim ke hati. Saat berpuasa, hati tidak lagi disibukkan oleh hasil serapan usus. Hati akan bekerja maksimal menyaring racun-racun hasil kerja autolysis, lalu membuangnya keluar tubuh melalui keringat atau kotoran. Ini yang dikenal dengan detoksifikasi.     

Karena racun-racun dalam tubuh telah diatasi oleh autolysis, maka  darah menjadi sehat, dipenuhi energi dan nutrisi berkualitas unggul. Penggantian sel mati, perbaikan sel rusak dan pembentukan sel baru, juga berjalan sangat baik. Hasilnya adalah tubuh memiliki sel-sel baru dengan kualitas terbaik. Kesehatan tubuh akan meningkat lebih tinggi. Tak heran jika ucapan hikmah menyebutkan; “Berpuasalah maka engkau sehat!”.

Apa yang terjadi dalam tubuh manusia, kiranya sama dengan apa yang terjadi pada komputer. Jika komputer dipakai setiap saat, dengan intensitas yang tinggi, baik untuk menulis, menonton, juga mendesain, maka program-program yang telah tertata akan mengalami kekacauan. Dampaknya komputer bisa lambat bekerja alias lola, mudah mati, atau tidak nyaman digunakan. Cara mengatasi kekacauan itu dengan defrag. Ia akan menjelajahi seluruh ruang-ruang program dan akan mengembalikan elemen-elemen yang bergeser ke tempatnya semula. Juga memberitahu mana elemen yang sudah tidak berfungsi lagi untuk diperbaiki.

Persis seperti inilah cara kerja autolysis dalam tubuh manusia. Dengan defrag, komputer akan memformat dirinya. Dengan autolysis manusia akan memformat dirinya untuk kembali ke posisi ideal. Dan ini terjadi saat manusia menjalani puasa. Lebih-lebih puasa Ramadan yang diselenggarakan sebulan penuh, maka nilai kemanfaatan bagi kesehatan sangatlah besar. Merugilah kita yang menyia-nyiakan momen tahunan ini. Dengan berpuasa, diri kita akan kembali suci secara batin dan sehat secara fisik.[]  
 
*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak dan Penerima Apresiasi Pendidikan Madrasah Kemenag Banten 2017 Kategori Guru Madrasah Produktif

(HU Radar Banten, Senin, 4 Juni 2018)