Overdosis Beribadah*)

Oleh Nurul H. Maarif**)

Satu ketika, di lantai dua tempat thawaf, penulis melihat seorang laki-laki paruh baya yang thawaf tertatih-tatih menggunakan doa tongkat. Lihat perawakannya, mungkin dari Bangladesh. Ya Allah, ternyata ia hanya memiliki satu kaki.

Di belakangnya, ayah dan ibunya, di atas usia 65-an tahun, berjalan landai memegangi selendang yang disampirkan di pundaknya supaya tidak terpisah di tengah ribuan jamaah lain. Dengan penuh semangat, ketiganya mengelilingi pelataran thawaf lantai dua yang lebih luas dua kali lipat dibanding lantai dasar.

Di lain waktu, penulis melihat manula-manula yang tetap semangat menjalani thawaf, sa'i atau ibadah lainnya, bahkan dalam kondisi sangat kerepotan. Banyak diantaranya yang harus didorong menggunakan kursi roda.

Setiap jelang shalat wajib, ribuan jemaah, termasuk yang manula, berbondong-bondong menuju Masjidil Haram. Bak semut yang tengah konvoi. Semangat mereka bak kawula muda. Juga banyak yang tertatih-tatih berangkat dari pemondokan yang jaraknya bisa di atas dua kilo meter, menaiki bus shalawat -- istilah untuk bus antar jemput jemaah haji dari hotel ke Masjidil Haram.

Banyak juga yang hadir di Masjidil Haram dini hari, untuk i'tikaf, shalat tahajjud, thawaf, berebut mencium Hajar Aswad atau mengaji Alquran. Diantara mereka begadang malam, untuk mendapatkan kesempatan berjamaah Shubuh. "Rugi kalau nggak jamaah Shubuh, Nduk!" kata seorang nenek dari Magelang Jawa Tengah, pada isteri penulis.

Memang benar, jamaah Isya' dan Shubuh memiliki nilai tersendiri dibanding shalat yang lain. Kata Rasulullah Saw, andaikan umatnya tahu nilai keutamaan yang terkandung pada keduanya, niscaya mereka akan hadir kendati merangkak-rangkak (HR. Muttafaq 'Alaih).

Semua yang datang dari penjuru dunia, tak pandang usia, berlomba-lomba memperbanyak ibadah dan mengumpulkan pahala. Mereka tidak hanya ingin menabung pahala, tapi mendepositokannya. Apalagi ada keyakinan, ibadah di Masjidil Haram nilai kelipatannya ribuan kali dibanding masjid manapun. Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah Saw menyatakan: "Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama dari 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Semangat ibadah itu karena ada harapan aji mumpung. Ada keinginan mengejar doorprize Tanah Haram yang Allah Swt berikan. Juga ada asa meraih kebaikan secara instan tanpa harus berlelah-lelah kelamaan. Orientasi pahala dikedepankan. Mereka ini bak pedagang, kata Ali bin Abi Thalib, yang ibadahnya dilandasi hitung-hitungan untung. Untuk orang umum, orientasi ini tidak keliru tentu saja!

Karena mengejar "gaji besar dengan amaliah kecil" ini, maka banyak jemaah yang memaksakan diri kendati dengan mengorbankan fisiknya. Misalnya, banyak yang menjalankan umrah sunnah setiap hari sembari begadang malam. Beberapa diantaranya ambruk sakit. Bahkan ada yang dirawat di rumah sakit.

Tak jarang juga, jemaah yang memaksakan begadang malam lantas Shubuhnya bablas kesiangan. Yang wajib lalu kalah oleh yang sunnah. Bak mengejar Teri dengan melepaskan Paus. Niat baik yang tidak tepat. Dan memang diakui, energi Tanah Suci sangat dahsyat merubah perilaku beribadah siapapun. Banyak yang mendadak tekun beribadah, padahal sebelumnya normal-normal saja. Ini berdampak pada overdosis beribadah. Hak-hak fisik lalu terabaikan.

Penulis teringat kisah dua bersaudara angkat Abu Darda dan Salman Alfarisi, yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Singkatnya, Abu Darda setiap hari berpuasa, begadang malam untuk shalat, iktikaf, dll. Melihat perilaku saudaranya, Salman mengritiknya. Menurutnya, perut, mata dan keluarga, punya hak dasar yang harus ditunaikan. Karena itu, ibadah harus dijalankan secara proporsional tanpa mengabaikan hak apapun.

Mendengar cerita Salman dan Abu Darda itu, Rasulullah Saw berkomentar: "Salman benar!". Dan kisah ini memberi pelajaran penting, bahwa beribadah itu harus proporsional, sehingga tidak overdosis yang justru berdampak negatif, baik bagi kesehatan fisik, psikis maupun sosial.[]

*) Artikel ditulis di Makkah, 8 September 2018
**) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten