Cerdas Bermedia Sosial

Oleh: Nining Sariningsih*)

Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat berpengaruh besar terhadap perkembangan situasi global saat ini. Pada kenyataannya, teknologi informasi selalu memberikan feedback, baik secara positif maupun negatif terhadap setiap aspek kehidupan.

Sekarang ini semakin banyak orang melakukan interaksi atau berkomunikasi melalui media sosial. Media sosial menjadi bagian dari komunikasi massa, seperti yang dikatakan oleh Bitter, bahwa komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang (Rahmat, 1999: 188). Banyak orang yang telah mulai mengenal media sosial dan menggunakannya sebagai alat komunikasi, mulai dari anak kecil hingga para orang tua lanjut usia.

Di zaman sekarang, media sosial sudah menjadi kebutuhan pokok bagi banyak orang. Jejaring sosial yang digunakan oleh masyarakat banyak jenisnya, di antaranya facebook, twitter, instagram, whatsapp dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, media sosial juga terus melakukan pembaharuan fitur sesuai dengan kebutuhan kita sekarang ini. Namun lagi-lagi, hal-hal seperti itu malah banyak disalahgunakan.

Meningkatnya jumlah media sosial juga menandakan meningkatnya jumlah pengguna media sosial. Tentu dengan semakin banyaknya pengguna media sosial, makin banyak juga masalah-masalah yang timbul akibat kurangnya pengetahuan tentang bagaimana menggunakan media sosial dengan tepat dan benar.

Kasus-kasus yang terjadi dalam bermedia sosial tentunya tidak asing lagi, seperti yang sering kita dengar dan sering kita baca. Misalnya penipuan yang terjadi di toko daring atau yang biasa disebut online shop. Contoh lainnya seperti kasus pencemaran nama baik seseorang di facebook dan media sosial lainnya.

Seperti halnya sekarang ini yang sedang ramai dibicarakan oleh kalangan masyarakat, kasus yang terjadi di Banten dan di Jawa Barat. Ramai orang yang dengan gangguan jiwa menyerang para ulama. Pada dasarnya banyak hal yang masih simpang siur tentang kebenaran soal ini. Banyak masyarakat yang menduga hal tersebut untuk kepentingan politik.

Selain itu, ada juga beberapa kasus lain seperti kasus prostitusi melalui media sosial yang melibatkan anak-anak. Banyak pula kasus kekerasan yang terjadi di media sosial, seperti  adanya hacker yang  juga merupakan kasus yang baru-baru ini terjadi.

Perlu kita ketahui bahwa media sosial itu memiliki kekuatan dan potensi untuk memengaruhi opini atau pandangan publik mengenai sesuatu. Jadi apa saja yang kita tuangkan dalam media sosial, baik opini, pendapat dan sebagainya,  mampu memengaruhi pemikiran orang lain.

Selain hal tersebut, di dalam buku Teori Komunikasi karangan Karen A. Foss,  media sosial termasuk dalam media komunikasi tinggi (high technology) yang memiliki fungsi sebagai efisiensi penyebaran komunikasi yang menghemat dalam segi biaya, tenaga, pemikiran dan waktu juga memperkuat eksistensi informasi, mendidik atau mengarahkan, menghibur dan kontrol sosial (Burgon dan Huffer, 2002, dalam Foss, 2007: 48). Media sosial ini sebenarnya digunakan untuk alat komunikasi, seperti yang dikatakan oleh Mc Quail bahwa media massa sering dipahami sebagai perangkat yang diorganisasikan untuk berkomunikasi secara terbuka dan pada situasi yang berjarak pada khalayak luas dalam waktu yang singkat (Mc Quail, 2000, dalam Suryanto, 2013: 17), dan juga sebagai alat menyebarkan pesan atau informasi.

Jadi, media sosial harusnya bisa digunakan dengan bijak, seperti digunakan sebagai alat komunikasi dan tempat untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat. Tidak masalah dengan adanya jualan melalui media sosial, karena itu  membuka peluang bisnis yang baru dan bagus untuk perkembangan ekonomi. Yang harus dilakukan dalam berjualan online adalah jujur tidak membohongi pembelinya, dan menjalankan etika-etika berbisnis yang baik dan benar.

Selain itu, dalam menyebarkan informasi di media sosial, kita harus mencermatinya terlebih dahulu apakah itu berita yang terbukti atau hanya berita palsu saja (hoax). Juga sebelum berpendapat di media sosial, seharusnya kita berpikir terlebih dahulu, apakah yang kita ungkapkan ini dapat merugikan seseorang, menyinggung, bahkan melecehan seseorang atau tidak. Karena sekarang ini sudah berlaku undang-undang ITE, kita harus berhati-hati dalam bermedia sosial.

Pesan yang disampaikan di atas adalah bahwa kita sebagai pengguna media sosial  harus berhati-hati. Lagi-lagi walaupun media sosial telah memperketat peraturannya, namun menurut saya masih saja banyak yang menyalahgunakannya. Mungkin saja banyak yang tidak tahu tentang hal-hal seperti itu, bahkan tidak tahu undang-undang ITE. Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial kita harus menjalankan aturan-aturan yang telah ditetapkan baik berupa etika dan norma yang berlaku di dunia nyata. Kita harus menjaga perkataan, tidak boleh seenaknya dan kita juga harus menghormati dan menghargai pengguna media sosial lainnya.

Banyak hal yang bisa kita gunakan melalui media sosial, tentunya untuk berbuat kebaikan. Seperti menyebarkan pesan damai, memersatukan Indonesia, menolong orang, dan masih banyak hal positif lainnya yang bisa kita lakukan dan kita dapatkan melalui media sosial.

Cerdaslah dalam menggunakan media sosial. Media sosial bisa menjadi pengaruh baik jika kita sebagai pengguna menggunakannya dengan benar, bijak, dan dengan tujuan kebaikan. Media sosial akan menjadi negatif, jika kita sebagai penggunanya menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik.[]

*) Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak dan Mahasiswi UIN SMH Banten.