Berhati-hati Memilih Guru Ngaji

Oleh Nurul H. Maarif*)

Beberapa hari ini, muncul keriuhan di media sosial (medsos) yang ditimbulkan oleh ceramah beberapa dai populer, yang dinilai keliru secara mendasar. Misalnya, seorang dai nasional, yang juga pejabat teras Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, dinilai keliru menjelaskan tashrif (perubahan kata) kafir.

Dengan sangat percaya diri, ia menyatakan: “Kafir itu asal kata kafara yukaffiru kufran. Menutup hati dari Allah dan Rasul-Nya.” Sontak saja, terutama di kalangan para santri, tashrifan/derivasi kata a la dai bersurban itu menjadi gurauan. Tashrifannya dinilai murat-marit dan menyalahi kaidah.

Santri yang terbiasa menghafal kitab al-Amtsilah al-Tashrifiyyah misalnya atau selainnya, menilai tashrifan dai nasional itu mencampuradukkan wazan kafara dan kaffara (fa’ dobel). Semestinya yang pas, menurut mereka, adalah kafara-yakfuru-kufran/kufrun. Kalau kaffara-yukaffiru-takfiran/takfirun. Ini yang sesuai kaidah, insya Allah.

Tak pelak, tashrifan dai kondang itu menjadi bisik-bisik tetangga yang hangat. Lalu para santri bikin guyonan, biar gayeng. Kata mereka, mungkin dulunya dai nasional itu belajar tashrifnya begini: nashara yanshuru nasgor atau dharaba yadhribu drumband.

Tak hanya dai kondang bersurban itu, beberapa dai lain yang kerap muncul di media juga kedapatan keliru menyampaikan informasi keagamaan. Pernah dulu, di televisi swasta, seorang dai perempuan menuliskan ayat-ayat al-Qur’an secara keliru, tidak sesuai rasm/penulisan yang semestinya. Peristiwa itupun menjadi bincang-bincang tetangga, terutama  kalangan santri.     

Belum lama, kalangan santri juga diriuhkan oleh dai yang tenar di medsos, yang kebetulan pendukung militan salah satu calon presiden di Pilpres 2019. Ia keliru menyebut ayat al-Qur’an. Dengan lantang, diulang-ulang dan sangat percaya diri, ia menyebut Qs. al-Isra: 176. Ya, berkali-kali dengan penekanan yang jelas.

Ada dua ketidaktepatan yang dilakukannya; penyebutan nomor ayat dan pelafalan redaksi. Bagi kalangan santri, sangat mudah mengecek langsung pada al-Qur’an untuk menguji kebenaran pernyataan itu. Sangat jelas, Qs. al-Isra’ itu jumlah total ayatnya hanya 111. Untuk al-Qur’an yang sama, bagaimana mungkin dai itu menyebut ayat 176?  

Mungkin saja, ya mungkin saja, yang dimaksud adalah Qs. al-A’raf: 176, karena ayat yang dibacakan berbunyi serupa. Namun rupanya juga ada kekeliruan pelafalan. Diantara kata dalam ayat itu, berbunyi ‘alaihi (hi untuk lelaki), lalu olehnya dibaca ‘alaiha (ha untuk perempuan). Dan ini jelas menyalahi dan maknanya menjadi berubah. Untungnya, tidak ada yang mendemonya berjilid-jilid, karena dinilai “mengubah” redaksi al-Qur’an.  

Dan yang paling baru, juga “keunikan” yang dilakukan oleh dai nasional yang bulak-balik muncul di televisi. Dai dengan khas topinya dan juga pendukung militan salah satu Capres 2019 ini, dalam wawancara di televisi nasional, menyatakan: “Orang kafir dengan orang kuffar itu berbeda. Orang kafir adalah orang yang tidak mempercayai Allah dan Muhammad. Orang-orang kuffar adalah orang yang menyerang “Allah” dan Muhammad.”

Lagi-lagi para santri tercengang dengan pemaknaan yang demikian. Lalu, lagi-lagi seorang santri, kawan saya yang dosen perguruan tinggi khusus al-Qur’an di Tangerang Selatan dan juga pengajar metode baca al-Qur’an Baghdadi membuat gurauan: “Masjid dan masajid itu beda. Masjid untuk shalat sendirian. Masajid untuk shalat berjamaah.”

Apa yang disampaikan itu, menunjukkan bahwa ia belum memahami mana kata benda tunggal (mufrad) dan mana kata benda kolektif/plural (jama’), sehingga pemaknaannya cenderung menyeberang jauh. Dan ini yang lalu menjadi gurauan para santri, yang setiap  harinya bergelut dengan nahwu (gramatika bahasa Arab) dan sharaf (perubahan kata).

Apa makna semua itu dan apa yang semestinya kita lakukan sebagai orang awam? Pertama, insya Allah, dan mudah-mudahan, fenomena itu hanya terjadi pada sebagian kalangan saja. Insya Allah itu bukan fenomena umum. Semoga juga, peristiwa-peristiwa itu, kendati sudah cukup sering dan berulang-ulang terjadi, tidak menunjukkan bahwa negeri mayoritas muslim ini sedang dalam kondisi “darurat tokoh agama.”

Semoga juga, peristiwa ini tidak menunjukkan kian dekatnya Hari Akhir atau Hari Kiamat sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah Saw, dalam riwayat Imam al-Bukhari: “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia merujuk pada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”

Penulis masih optimis hari akhir itu belum akan datang, karena masih banyak kiai pesantren di kampung-kampung, yang alim lagi mukhlis, tulus, tanpa pamrih, yang tetap setia mendampingi umat, siang dan malam. Tanpa hirup-pikuk liputan media, mereka menyebarkan nilai-nilai keagamaan dengan keilmuan yang mumpuni, yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Allah Swt. Latar belakangnya mondok puluhan tahun, menjadikan mereka layak menjadi rujukan keagamaan.

Kedua, keliru atau salah ucap, lupa hafalan, itu bisa terjadi pada siapapun, termasuk Penulis, pembaca, para kiai dan semuanya. Inilah karakteristik manusia sebagai al-insan mahal al-khata’ wa al-nisyan (manusia itu tempatnya keliru dan lupa). Tak seorang manusiapun yang bebas dari kekeliruan, termasuk para nabi dan rasul. Namun demikian, kiranya penting menjadi catatan, orang yang sering tampil di depan khalayak, sudah semestinya lebih berhati-hati menyampaikan tausiah keagamaannya. Mereka membawa gerbong umat. Mereka benar, umat ikut benar. Mereka keliru, umat ikut keliru. Ada pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak, yang harus disadari.

Di dunia pesantren dikenal kaidah, kullu ma zada al-harfu zada al-ma’na. Bahasa Arab, baik al-Qur’an, Hadis maupun selainnya, jika huruf berbeda, makna akan berbeda. Harakat berubah, makna akan berubah. Jika qalbun (pakai “q”) artinya hati, maka kalbun (pakai “k”) artinya anjing. Sangat berbeda. Bahkan, dalam bahasa Arab, bentuk tulisan yang sama, bisa dibaca dalam beberapa bacaan yang tentu saja artinya berbeda-beda. Hal-hal demikian tak bisa diabaikan seorang tokoh publik manapun, karena kekeliruan yang mendasar akan berdampak pada kekeliruan pemaknaan dan pemahamaan selanjutnya.

Ketiga, kaum muslim yang ingin menimba ilmu keagamaan, atau mencarikan anaknya guru ngaji agama, kiranya perlu berhati-hati dan jeli menetapkan kreteria. Sembarangan memilih guru ngaji, dampaknya bisa negatif bagi perkembangan jiwa keagamaan. Dengan meneladani karakter Rasulullah Saw dan para ulama mukhlis pewarisnya, semestinya kreteria guru ngaji yang dikedepankan menyesuaikan karakter mereka.

Misalnya, carilah guru ngaji yang mendalam ilmu agamanya. Ini bisa dilihat dari track record-nya; dari sisi akademiknya perlu dicek belajar agama di mana, gurunya siapa, apa saja yang dipelajari dan dihafalkan, penguasaan gramatika bahasa Arabnya  , juga sejauh mana pendalaman keilmuan tafsir, hadis, ushul al-fiqh, dll. Dengan mencari informasi tentangnya, tidak mustahil semua ini bisa didapatkan. Jangan lagi menjadikan fasilitas fisik sebagai ukuran, karena ini bukan substansi untuk membentuk karakter jiwa keagamaan.

Yang tak kalah penting, carilah guru ngaji yang ucapannya senantiasa lempang, tidak gemar menebar kebencian atau hoax, menenteramkan, mengayomi, juga mengeratkan (bukan menyamakan) perbedaan. Dengan karakterk ini, masyarakat akan nyaman di sekelilingnya, sebagaimana para shahabat Nabi nyaman dan tenteram berada di sampingnya.
 
Tirulah misalnya, bagaimana muhaddits (ahli Hadis) terbaik sepanjang zaman, Muhammad bin Ismail al-Bukhari, mencari guru. Sebelum menerima informasi keagamaan dari seseorang, beliau terlebih dahulu meneliti ucapan dan karakternnya secara mendalam. Jika calon guru sesuai kreterianya, ia menimba ilmu darinya. Jika tidak sesuai, ia segera meninggalkannya. Calon guru yang kedapatan berpura-pura hendak memberi makan binatang peliharaannya dan ternyata berdusta, al-Bukhari segera meninggalkannya. Hanya salam yang dititipkan padanya, melalui tetangganya.

Kelemahan kita seringkali tidak melakukan penelitian sejauh itu. Dan insya Allah, pesantren adalah lembaga yang patut menjadi harapan untuk memenuhi dahaga ilmu agama ini, karena kiai-kiai pesantren secara umum adalah sosok yang bisa dipertanggungjawabkan kualitas keilmuan sekeligus karakternya. Karena itu, untuk menghindari pemahaman keagamaan yang tidak pas, sebagaimana dai-dai medsos itu, ajakan “Ayo Mondok” menjadi sangat penting.[]
 
*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten
 
(www.islamkaffah.id, 8 Maret 2019)