Change of Me

DULU aku takut bersekolah di pondok pesantren. Entah karena alasan apa, aku juga nggak tahu. Yang jelas pada saat itu aku ragu untuk bersekolah di sana. Tapi kini, semua ketakutan itu terjawab dengan rasa kebanggaanku tinggal di Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini. Kini jiwaku tampaknya mulai bersatu dengan pondok, karenanya aku banyak mendapatkan berbagai keunikan dalam pengalaman hidup.

Pada saat itu, tepat pada 10 juli 2012, adalah hari pertamaku masuk pondok. Kalau nggak salah pada saat itu tepat pukul 09:00 WIB pagi. Pertama masuk ruang kantor pondok, aku langsung menuju tempat interview. Berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan penitia penerimaan santri baru, al-hamdulillah  berhasil aku jawab. Walaupun masih saja ada yang keliru, tapi bagiku itu hal yang wajar.

Dari sekian banyak pertanyaan, ada pertanyaan yang sempat membuatku harus menasihati diriku sendiri, yaitu pertanyaan tentang akhlakul karimah. Jujur, waktu SMP aku bukanlah anak yang layak dibilang baik. Tapi entah kenapa, aku bangga dengan julukan seperti itu. Segala omelan, nasihat, dan arahan untukku sama sekali tak pernah aku dengar. Bahkan aku tak peduli sama sekali terhadap itu semua.

Aku paham dan aku mulai sadar, bahwa aku tak mengerti akan sikapku yang seperti itu. Pondok ini jugalah yang membuat aku mulai mengerti kesalahan-kesalahanku itu, sampai pada akhirnya aku mulai mau mendengarkan apa yang seharusnya aku dengarkan. Hinga aku paham apa itu kehidupan yang terarah.

Sekitar satu tahun di pondok, aku mulai mau bergabung dalam organisasi yang waktu di SMP tidak menarik minatku, yaitu Pramuka, hingga aku mampu menjadi Bantara atau Bantuan Taruna Rakyat. Di bidang ini, banyak sekali pengalaman hidup yang sangat tidak mudah untuk kita raih. Hanya untuk mendapatkan gelar Bantara saja, itu perlu menguras waktu yang begitu panjang dan melelahkan, tapi mengandung berbagai keindahan di dalamnya, apalagi bareng temen-temen yang sangat kocak. Itu semua nggak terasa hingga aku hampir menjelang lengser kepengurusan Bantara.

Bersamaan dengan ekstrakurikuler Pramuka, aku juga bergabung bersama Organisasi Pelajar Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) yang ditugaskan untuk membantu para asatidz dalam mengurus kegiatan santri sehari-hari. Dan aku diberi amanah sebagai petugas Bagian Ta’lim atau Pengajaran. Di sini pulalah aku mulai memahami bagaimana caranya menjadi seorang kakak yang baik dan menjadi tauladan bagi adik-adik kelasnya. Walaupun, sering kali aku juga masih sempat berleha-leha dalam kepengurusanku itu.

Kegiatanku sebagai seksi Pengajaran yaitu menggerakkan santri untuk shalat jama’ah lima waktu, membangunkan mereka untuk tahajjud, membimbing mereka mengaji al-Qur’an usai shalat jam’ah dan memberi sanksi edukatif bagi siapa saja yang melanggar kewajiban itu. Padahal hal-hal ini dulu jarang sekali aku jalani di rumah. Jangankan untuk bangun shalat tahajjud dan tadarus al-Qur’an, untuk shalat Shubuh saja masih harus dibangunkan secara paksa. Tapi, di pondok ini al-hamdulillah kegiatan-kegiatan ini sudah mendarah daging dalam diriku. Sampai-sampai, hanya dengan kegiatan itu aku mampu mengenali semua karakter santri, entah teman sekelas ataupun adik kelas sekalipun, karena keseharianku diwarnai oleh cerita-cerita mereka.

Tapi kini, aku tinggal menunggu semua kenangan indah, kebersamaan, canda-tawa bersama kawan sekamar dan adik kelas itu hilang dari mata, karena dalam hitungan bulan setelah lulus SMA Qothrotul Falah aku akan meninggalkan pondok ini. Mudah-mudahan, semua itu menjadi cerita menarik nan bermanfaat bagi anak-anakku dan cucu-cucuku nanti. He..He..

Terima kasih pondokku tercinta. Engkau telah merubah cara pandangku tentang kehidupan ini. Engkau memberiku banyak pemahaman akan hidup yang singkat ini. Juga melukiskan banyak cerita, pemahaman ilmu agama, dan akhlak yang insya Allah akan menyelamatkan hidupku di dunia dan di akhirat kelak. Karenanya, aku mencintai Pondok Pesantren Qothrotul Qothrotul Falah yang kini menjelma dalam jiwaku. Amiin![]

Cikulur, 10 Desember  2014

Moral of the Story:

Sahabat, cintailah lembaga yang tanpa lelah dan perhitungan senantiasa mengarahkanmu menjadi lebih baik dan lebih mengenal hakikat kehidupan. Itulah sejati-sejatinya perhatian pada kita.