Membudayakan Cinta Lingkungan Melalui Dunia Pendidikan

Dulu, Indonesia dikenal sebagai negeri yang subur. Dunia mengenalnya sebagai Zamrud Khatulistiwa. Tanaman apa saja bisa tumbuh di sana. Bahkan, tongkat dan kayu pun, menurut versi Koes Plus, bisa tumbuh jadi tanaman yang subur. Namun, seiring berkembangnya peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya jadi gersang dan tandus. Jangankan tongkat dan kayu, bibit unggul pun gagal tumbuh di Indonesia. Yang lebih menyedihkan, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya menuai bencana. Banjir bandang, tanah longsor, tsunami, atau kekeringan seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan yang terus dan terus terjadi. Mengapa bencana demi bencana terus terjadi?

Saat ini agaknya (nyaris) tidak ada lagi tanah di Indonesia yang nyaman bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur dan lebat. Mulai pelosok-pelosok dusun hingga perkotaan hanya menyisakan celah-celah tanah kerontang yang gersang, tandus, dan garang. Berhektar-hektar hutan telah gundul, terbakar, dan terbabat habis sehingga tak ada tempat lagi untuk resapan air. Satwa liar pun telah kehilangan habitatnya. Sementara itu, di perkotaan telah tumbuh cerobong-cerobong asap yang ditanam kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Polusi tanah, air, dan udara benar-benar telah mengepung masyarakat perkotaan sehingga tak ada tempat lagi untuk bisa bernapas dengan bebas dan leluasa. Limbah rumah tangga dan industri makin memperparah kondisi tanah dan air di daerah perkotaan sehingga menjadi sarang yang nyaman bagi berbagai jenis penyakit yang bisa mengancam keselamatan manusia di sekitarnya.

Sebenarnya kita bisa banyak belajar dari kearifan lokal nenek moyang kita tentang bagaimana cara memperlakukan lingkungan dengan baik dan bersahabat. Meski secara teoretis mereka buta pengetahuan, tetapi di tingkat praksis mereka mampu membaca tanda-tanda dan gejala alam melalui kepekaan intuitifnya.

Apa yang salah ? karena perkembangan IPTEK tidak diikuti dengan pengetahuan dan pengelolaan  tentang lingkungan yang baik. Mulai dari tingkat bawah, di masyarakat mempunyai tradisi yang kurang baik, misal membuang sampah sembarangan, membakar hutan untuk membuka lahan, dan kebiasaan lain yang tidak ramah lingkungan. Sampai di tingkat atas, pemerintah masih belum tangguh untuk memenjarakan oknum-oknum perusak lingkungan. Dibutuhkan gebrakan yang berwibawa, baik dari tingkat bawah sampai tingkat atas dengan memberikan sanksi  yang tegas.

Yang tidak kalah penting, harus ada upaya serius untuk membudayakan cinta lingkungan hidup melalui dunia pendidikan. Institusi pendidikan, menurut hemat saya, harus menjadi benteng yang tangguh untuk menginternalisasi dan menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menuntut ilmu. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat perlu terus digali dan dikembangkan secara kontekstual untuk selanjutnya disemaikan ke dalam dunia pendidikan melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pola dan gaya penyajiannya pun tidak bercorak teoretis dan dogmatis seperti orang berkhotbah, tetapi harus lebih interaktif dan dialogis dengan mengajak siswa didik untuk berdiskusi dan bercurah pikir melalui topik-topik lingkungan hidup yang menarik dan menantang.

Lingkungan hidup yang disemaikan melalui dunia pendidikan tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi disajikan lintas mata pelajaran melalui pokok-pokok bahasan yang relevan. Dengan kata lain, lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab semua guru mata pelajaran.

Mengapa budaya cinta lingkungan hidup ini penting dikembangkan melalui dunia pendidikan? Ya, karena jutaan anak bangsa kini tengah gencar menuntut ilmu di bangku pendidikan. Merekalah yang kelak akan menjadi penentu kebijakan mengenai penanganan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa melalui bangku pendidikan sama saja menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan yang makin parah. Dan itu harus dimulai sekarang juga. Depdiknas yang memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan harus secepatnya “menjemput bola” agar dunia pendidikan kita mampu melahirkan generasi masa depan yang sadar lingkungan dan memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya. Nah, bagaimana?
**

Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik.  Lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian. Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: Unsur Hayati (Biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan jasad renik; Unsur Sosial Budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk social; Unsur Fisik (Abiotik), yaitu unsur lingkungan yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

Selama ini mungkin kita merasa kalau masalah lingkungan disebabkan oleh hal-hal yang di luar jangkauan kita, seperti industri-industri besar yang membuang limbah, manusia serakah yang menebang hutan seenaknya dan lain sebagainya. Atau kadang kita merasa hal tersebut bukan urusan kita tetapi urusan pemerintah. Tahukah anda, kalau kita bisa membiasakan diri untuk sadar lingkungan dari hal-hal kecil yang kelihatannya remeh, tetapi kalau semakin banyak yang melakukan hal kecil tersebut, akan menjadi hal besar yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan lingkungan hidup kita dan bahkan buat anak cucu kita kelak.

Melalui sekolah, seorang guru dengan metode pembelajaran interaktif dapat membiasakan siswa melakukan hal-hal yang kecil tersebut menjadi budaya cinta lingkungan yang besar pengaruhnya setelah diterapkan siswa di lingkungannya masing-masing. Misalnya,

Sampah
Mengurangi pemakaian plastik. Susah untuk terurai, membuang sampah pada tempatnya. Membagi sampah sesuai dengan kategorinya. Misalkan, sampah kering dan sampah basah, sampah yang bisa didaur ulang dan sampah yang tidak bisa didaur ulang dan lain-lain. Meminimalisir pembelian barang yang memiliki pembungkus plastik dan membuang sisa plastik tersebut di tempat sampah kategori bisa didaur ulang. Terbiasa memungut sampah (terutama yang berbahan plastik ), jika ditemukan berserakan di jalan.

Hemat Energi
Di bawah ini adalah langkah nyata yang bisa kita aplikasikan di kehidupan sehari-hari untuk lingkungan : Menggunakan lampu neon, sebab jauh lebih hemat energi daripada lampu bohlam.Membiasakan pemakaian listrik seperlunya. Penggunaan alat listrik yang ramah lingkungan, seperti AC dan kulkas yang bebas freon.

Sarana Transportasi
Membiasakan berjalan kaki untuk keperluan jarak dekat baik buat kesehatan kita. Membiasakan penggunaan sepeda onthel untuk keperluan jarak sedang. Menggunakan angkutan umum untuk tujuan yang pasti dan teratur (kerja, sekolah, belanja dan lain sebagainya).

Makanan dan Minuman
Membiasakan masak dengan bahan makanan segar seperti sayur, buah-buahan dll. Menghindari makanan yang diproses pabrik seperti makanan-makanan instant. Menggunakan aqua galon yang bisa diisi ulang atau merebus air untuk keperluan minum. Dan tidak merokok.

Kertas
Tahukah anda, untuk membuat satu rim kertas folio, diperlukan minimal satu pohon yang harus ditebang? Sering kita menyalahkan penebang pohon liar yang semena-mena, tetapi kita sendiri boros dalam penggunaan kertas dan tissue. Yang secara tidak langsung berarti kita juga mensupport terjadinya hal tersebut.

Kesimpulan

Orang bijak mengatakan, sangat sulit untuk mengubah kebiasaan orang lain, tetapi hal yang paling mungkin kita lakukan adalah mengubah kebiasaan diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil dan dimulai sekarang juga! Melalui pendidikan formal di sekolah, budaya cinta lingkungan hidup dapat menjadi solusi bagi pembangunan yang arif demi kelangsungan hidup manusia di bumi.[]

*Guru Mata Pelajaran KIMIA SMA Qothrotul Falah

Lebak, 26 Agustus 2011