Mempertanyakan Keberagamaan Pengebom

William L. Scotty MacLennan, dari Universitas Stanford, menyatakan, oleh para pemeluknya, agama senantiasa dilihat dari dua sisi kecenderungan dan kepentingan. Diantaranya, agama di salah satu sisinya memiliki kecenderungan disalahgunakan untuk tujuan pragmatis semisal politik, ideologi, dan menyingkirkan budaya-budaya yang berbeda. (Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian; 2010, hal. 223-224).

Kenapa agama? Karena tidak ada justifikasi atau pembenaran yang lebih tinggi dibanding dari agama. Di dalamnya, Tuhan sebagai penguasa tertinggi dilibatkan melalui firman-firman-Nya yang disucikan oleh pemeluk agama. Di dalamnya juga, Rasul sebagai mandataris tertinggi Tuhan dilibatkan. Jika keduanya telah dilibatkan, maka tidak ada justifikasi lain yang bisa menandinginya. Lantas, apapun yang dilakukan pemeluk agama, dengan mengatasnamakan keduanya, seakan-akan pasti benar dan niscaya baiknya.

Ironisnya, pragmatisme yang dilegitimasikan pada doktrin agama sungguh beragam jenisnya. Dari kepentingan pribadi hingga kepentingan politis. Dari yang positif hingga yang anarkis. Bahkan – dalam konteks Islam misalnya – tak jarang terjadi politisasi al-Qur’an, yang oleh Azyumardi Azra disebut sebagai use and abuse of quranic verses (Approaches to the Qur'an in Contemporary Indonesia; 2005, hal. 193-207). Inilah yang membuat agama menjadi korban kepentingan segelintir pemeluknya, hanya untuk tujuan melegitimasi kepentingannya.

Bom Kepunton
Ahad (25/6/2011), bom kembali mengguncang Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo Jawa Tengah, sekira pukul 10.55. Ledakan di gereja terbesar Solo dan bertepatan dengan pelaksanaan ibadat jemaat Kristiani ini menyebabkan puluhan orang terluka dan pelakunya tewas di tempat. Mengenai apa alasan dan apa motivasinya, banyak pandangan beragam yang lantas bermunculan, dari berbagai kalangan.

Mustafa B. Nahrawardaya misalnya, pengamat dari Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), di Jakarta, Ahad (25/9/2011), menengarai bom ini bertujuan mengadu domba pemeluk agama. Harapannya, tercipta kondisi disharmonis antara pemeluk agama yang satu dan agama yang lain. Entah, apa target yang ingin didapatkan oleh “yang berkepentingan”, jika kondisi disharmonis ini benar-benar terjadi.

Analisis ICAP belum tentu benar dan juga belum tentu keliru. Banyak kemungkinan lain selainnya. Seperti dinyatakan William L. Scotty MacLennan, bisa saja dengan mendompleng agama, bom itu ternyata sarat muatan politik, ideologi, dan atau berniatan menyingkirkan budaya-budaya yang berbeda. Yang paling tahu tentu saja tokoh intelektualnya, karena pelakunya bisa tahu bisa tidak atas perbuatannya.

Apapun niatan yang tersembunyi di baliknya, bagi saya sebagai pemeluk agama, tindakan brutal yang merugikan – rugi materi dan imateri – ini sulit diterima nalar sehat dan tak mudah dibenarkan. Indonesia ini negara damai, bukan negara perang. Bhinneka Tunggal Ika yang telah menjadi filosofi keharmonisan bangsa ini sejak nenek moyang, seharusnya diamalkan sebaik-baiknya, bukannya malah dicederai oleh kita sendiri sebagai penganutnya.  

Melihat kenyataan ini, ada beberapa catatan yang penting dimunculkan. Pertama, menurut hemat saya, baik pelaku bom maupun (terutama) aktor intelektualnya, tak layak disebut sebagai orang beragama; lebih-lebih pemeluk agama yang taat. Mereka tak lebih sebagai orang kerdil “pemanfaat jasa agama”. Dari sisi mana, mereka layak disebut orang beragama? Sulit saya menemukan jawabnya. Karena menurut Mercie Elide – teolog Rumania – orang beragama itu memilih perilaku yang suci (dan rahmat semesta), bukan yang kotor. Mengebom bukanlah perbuatan yang suci, dianjurkan agama, apalagi aktornya disurgakan kelak.

Kedua, bagi umat beragama di negeri ini, hendaknya aksi anarkisme seperti ini tidak memancing reaksi berlebihan. Pun tidak memantik kita terpancing menuduh kelompok agama tertentu sebagai pihak yang bertanggungjawab, yang lantas diposisikan sebagai musuh. Tragedi ini pelajaran penting – yang semoga ada ujungnya – bagi pendewasaan taraf keberagamaan kita. Pendewasaan terkadang membutuhkan pengorbanan mahal dan tak jarang melampaui nalar sehat.  

Ketiga, sinergi tokoh agama, kepolisian, dan pihak-pihak terkait harus kian ditingkatkan, sesuai porsi tugasnya. Kendati kejadian serupa ini tak sekali dua kali terjadi, dan bahkan terus mengancam, mereka tidak boleh patah arang untuk terus berjuang. Di tangan mereka inilah harmonisasi kehidupan beragama tergantung. “Sekecil apapun niat dan perbuatan baik, tidak akan sia-sia,” tulis Pdt Nurkiana Simatupang dari GKI Pakis Raya, dalam pesan singkatnya, ketika tulisan ini dibuat, Ahad (25/9/2011) sore. Semoga![]

*Pengajar di Ponpes Qothrotul Falah Lebak.

(Radar Banten, 27 September 2011)