Ada Apa dengan Pemimpin Negeriku?

Negeriku…

Ku tidak mengerti …

Siapa yang harus disalahkan atas semua yang terjadi di negeri dan muka bumi ini? Anak-anak muda memiki nilai etika merosot, pemimpin tidak mampu lagi menggenggam amanahnya dengan baik serta tidak bisa lagi bersikap adil dengan apa yang ditetapkannya.

Apakah hanya dengan uang, setiap permasalahan di muka bumi ini akan terselesaikan?

Rakyat miskin semakin banyak. Anak jalanan serta pengangguran kian menumpuk dan lapangan kerja makin sulit didapatkan. Bagaimana jikalau suatu saat Allah SWT meminta pertanggungjawaban kepada mereka, para pemimpinku?

Bukankah dalam sebuah Hadis telah diterangkan; “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Lalu, jawaban apa yang akan disampaikan ketika Allah SWT meminta pertanggungjawaban itu?

Realitas zaman sekarang, manusia yang adalah pemimpin di muka bumi kini sudah tidak memiliki rasa kemanusiaan lagi. Terlihat oleh kasat mata, anak-anak beliau yang baru duduk di sekolah dasar, bahkan di TK, kini sudah mengenal hand phone dan teknologi yang kebanyakan disalahgunakan fungsinya, yang akhirnya menjadi hambatan untuk menjadikan generasi penerus bangsa yang baik. Lantas, bagaimana penerus bangsa di masa depan nanti? Siapa yang haus bertanggungjawab atas semua ini dan siapa yang salah?

Seorang anak pasti akan melihat dan mencontoh yang lebih tua. Melihat generasi seperti ini, apakah ini dampak pemimpin yang tidak bisa menjadi uswah yang baik bagi generasi yang di bawahnya? Atau sudah tidak adakah pemimpin yang layak menjadi uswah, sehingga membuat anak-anak masa sekarang merasa generasi yang di atasnya sudah tidak patut menjadi contoh lagi, sehingga mereka merasa bebas dari pemimpin seperti itu?

Dalam sebuah mahfudhat (bait-bait kata bijak) diterangkan: ''Khairul maliki man nafa’aka/Sebaik-baik pemimpin adalah yang memberikan manfaat bagi kalian''.

Apakah ini salah satu tanda akhir zaman? Mungkinkah dunia ini benar-benar sudah tua, sudah tidak mau lagi menampung orang-orang yang tidak taat pada Allah SWT? Atau mungkin Allah SWT sangat marah sama kita dan berusaha mengingatkan/menegur kita melalui kejadian tragis di muka bumi, dari mulai sunami, kecelakaan yang merenggut ratusan nyawa, serta peristiwa memilukan lainnya?

Dunia memang membuat kita lupa segalanya. Padahal hidup di dunia hanyalah sementara. Ada kehidupan sesungguhnya, yang nantinya kita akan kekal di dalamnya, yaitu kehidupan akhirat. Menyongsong kehidupan nan abadi inilah yang harus disiapkan di dunia ini.

Lalu, bekal apa yang telah kita miliki untuk kehidupan akhirat nanti?

Inilah masa-masanya kita menabung untuk kehidupan yang sesungguhnya, melalui kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Inilah kesempatan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) untuk mecari ridha-Nya, sesuai bidang yang kita mampu. Kita harus ingat, kesempatan tidak akan pernah datang dua kali?

*Siswa Kelas XII IPA SMA Qothrotul Falah, asal Koncang Cikulur Lebak