Makna Kemerdekaan Bagi Pelajar

Guru Mata Pelajaran Sejarah Kelas XII SMA Qothrotul Falah mengatakan, kemerdekaan suatu negara bermakna terbebasnya suatu bangsa dari genggaman tirani bangsa lain.

“Tapi, apa makna kemerdekaan bagi pelajar?” tanyanya, ketika itu.

Menurutnya, makna kemerdekaan bagi pelajar, adalah jika ia bisa melakukan apapun sebebas mungkin sesuai kehendaknya, tanpa halangan ataupun paksaan pihak lain.

Tapi ingat, kata “bebas” di sini bukan berarti bebas tanpa aturan atau hukum. Seorang pelajar bebas dan mempunyai hak untuk menggapai cita-citanya setinggi mungkin, sesuai harapannya. Seorang pelajar dikatakan merdeka atau bebas, jika ia bisa menjalankan hukum atau aturan, baik aturan di lingkungan sekitar maupun di negaranya yang telah ditetapkan.

Lain halnya ketika kita berbicara pelajar di lembaga informal, semisal pesantren, yang memuat aturan-aturan berbasis salaf dan lebih mengacu pada nilai keagamaan. Umpamanya, aturan wajib shalat berjamaah. Apabila terjdi pelanggaran, maka di sanalah hukuman berlaku, terutama hukuman-hukuman yang membangun.

Ketika seorang pelajar tak lagi belajar di lembaga itu, jelas yang mereka rasakan adalah kebebasan atau kemerdekaan dari aturan yang selama ini mengikatnya. Yang mulanya shalat berjamaah, kini mulai meninggalkannya. Yang tadinya berpakaian tertutup, sekarang terbuka mempertontonkan auratnya. Yang tadinya sering tadarusan al-Qur’an setelah shalat lima waktu, kini mulai menjauhinya. Tidak heran, jika akhirnya masyarakat bertanya-tanya perihal perubahan moralnya.

Ternyata,  setelah kita telaah, di situlah seseorang belum memperoleh kemerdekaan atau kebebasan yang sesungguhnya. Memang benar, di luar lembaga itu, dia sudah bebas/merdeka dari aturan-aturan yang selama ini membelenggunya. Tapi di hadapan Allah SWT, belum tentu dia sudah memperoleh kemerdekaan atau kebebasan, apalagi dia tidak lagi menjalankan ibadah-ibadah seperti yang biasa dikerjakannya sewaktu di lembaga salaf. Dengan demikian, manusia tidak akan memperoleh kemerdekaan, terutama di hadapan Allah SWT, kecuali ia berjalan pada porosnya sebagai hamba sesuai ajaran al-Qur’an dan Hadis.

Mudah-mudahan, kita semua termasuk orang-orang yang berjalan pada porosnya, yaitu orang-orang yang konsisten menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya, serta mengamalkan sunah-sunah Rasulullah SAW. Amien![]   

*Siswa Kelas XII IPA SMA Qothrotul Falah, asal Koncang Cikulur Lebak.