Haruskah Perbedaan Berujung Kematian?

(Catatan Akhir Tahun 2011 Bidang Keagamaan)



Apa yang patut dicatat dari fenomena hubungan antar agama di Banten sepanjang 2011? Berdasarkan laporan media, baik televisi maupun cetak, secara umum hubungan antar dan intern agama di propinsi pecahan Jawa Barat ini berjalan landai. Perbedaan agama tidak lantas memantik perseteruan satu sama lain. Seperti daerah lain, di Banten juga terdapat beragam agama dan keyakinan. Hanya memang, penganut Islam model Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah lah yang menjadi penghuni terbanyak wilayah ini.

Entahlah, apakah ada kaitan langsung atau tidak antara ke-NU-an dan ke-Muhammadiyah-an dengan keharmonisan hubungan antar agama. Jika kita menilik wilayah lain, Bogor, Cirebon, dll, konflik tidak terjadi dengan yang berlatar belakang NU atau Muhammadiyah, melainkan dengan yang model ke-Islam-annya bill up – Islam terima jadi dan telah matang di Timur Tengah, yang  lantas diterapkan secara buta di negeri ini tanpa menyesuaikan tradisi dan kearifan lokal. Inilah yang oleh sebagian kalangan disebut Islam trannasional, yang potensial memunculkan riak-riak ketegangan dengan yang berbeda.

Namun demikian, khusus tahun 2011 ini, tercatat peristiwa yang memilukan dan menyayat hati, yakni pembantaian yang dilakukan kelompok “Islam tertentu” pada jemaat Ahmadiyah pada Februari 2011 di Cikeusik Pandeglang Banten, yang berujung kematian tiga ahmadi (sebutan untuk pengikut Ahmadiyah). Terlepas benar tidaknya dugaan konspirasi di belakang peristiwa yang menjadi sorotan dunia ini, yang pasti, pembunuhan yang dilandaskan pada perbedaan keyakinan ini sulit dimaklumi nalar agama maupun nalar kemanusiaan. Pembantaian bukanlah solusi perbedaan; bahkan tak jarang menjadi pupuk penyubur konflik baru nan berkepanjangan.  

Perbedaan Itu Rahmat?
Sabda Rasulullah SAW  “perbedaan diantara umatku adalah rahmat” begitu populer. Sabda ini, barangkali efektif berlaku dalam konteks masyarakat shahabat yang tingkat pemahaman keagamaannya telah elegan dan penghargaan pada perbedaan pun sangat baik. Namun dalam kontek masyarakat kita, kerahmatan karena perbedaan menjadi kering kerontang tiada nilai. Perbedaan bukan lagi rahmat, melainkan laknat dan mala petaka. Kasus Cikeusik menjadi pengabsah kenyataan ini.

Ini terjadi, karena kultur masyarakat kita yang sudah demikian melenceng dari kultur masyarakat shahabat yang adiluhung. Itu sebabnya, Rasulullah SAW mengatakan; khairul quruni qarni tsumma al-ladzina yalunahum tsumma al-ladzina yalunahum (sebaik-baik generesasi adalah generasiku, lalu sesudahnya, dan lalu sesudahnya). Ini menunjukkan, dalam banyak hal, kearifan terutama, generasi berikutnya lebih memprihatinkan dibanding generasi sebelumnya.

Memang benar, Imam al-Khattabi pernah menyatakan, perbedaan itu bisa terjadi dalam beberapa sisi; fikih dan akidah. Perbedaan dalah fikih, menurutnya, adalah rahmat dan perbedaan dalam akidah adalah “laknat”. Ini barangkali yang menjadikan “kelaknatan” dalam peristiwa Cikeusik. Apalagi karena perbedaan keyakinan, karena ketidaksamaan mazhab dan ajaran fikih saja tak jarang kita bersitegang satu sama lain secara serius.

Pertanyannya; apakah perbedaan keyakinan harus disikapi dengan ketegangan semata? Tidakkah perbedaan keyakinan sejatinya juga rahmat, sehingga kita bisa melihat siapa yang unggul dan dekat dengan Tuhan-nya dan siapa yang lembek dan jauh dari Tuhan-nya? Bukankah dengan perbedaan ini kita bisa meresapi lebih mendalam fungsionalisasi ayat fastabiqu al-khairat/berlomba-lombalah dalam kebajikan? Di sinilah pentingnya eksistensi perbedaan, untuk mendewasakan tingkat keberagamaan kita, hatta seruncing apapun perbedaan itu.

Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW sendiri dihadapkan langsung pada pengaku-pengaku nabi baru. Misalnya, di Yamamah, muncul Musailamah bin Habib al-Kadzdzab, pria keturunan Bani Hanifah, yang mendakwahkan dirinya sebagai nabi baru penguasa Yamamah. Beberapa kali tercatat, Rasulullah SAW sebagai nabi asli berkorespondensi dengan Musailamah sebagai nabi palsu. Isinya, tiada lain ajakan damai kepada Musailamah untuk kembali kepada hudan (petunjuk Allah), tanpa diiringi intimidasi apalagi kekerasan fisik, kendati saat itu beliau sangat mungkin melakukannya karena pengikutnya sudah sedemikian banyak.

Secara personal, Rasulullah SAW tentu geram dengan pengakuan palsu itu, yang efeknya bisa meracuni akidah banyak orang. Tugas beliau adalah mengajak orang lain pada kebenaran, tapi di sisi lain Musailamah malah mengajak pada kemungkaran. Namun demikian, kegeraman ini tidak lantas diwujudkan dalam tindakan, melainkan semata ucapan. Misalnya, beliau mengatakan; Demi Allah, kalau tidak karena kerasulanku, sudah aku pukul dagumu. (Tarikh al-Thabari, juz 2, h. 199).

Dalam suratnya, Rasulullah SAW juga hanya menuliskan; Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad Rasulullah untuk Musailamah al-Kadzdzab. Semoga keselamatan bagi orang yang mau menerima petunjuk Allah, amma ba’du. Bumi ini milik Allah yang diperuntukkan bagi hamba-Nya yang bertakwa.” Hanya itu, sebatas ajakan verbal, tanpa indtimidasi, kekerasan apalagi pembantaian. Itu sebabnya, dakwah Rasulullah SAW yang penuh kearifan inilah yang mengundang simpati berbagai kalangan di berbagai penjuru negeri.

Selain itu, terkadang Rasulullah SAW mengirimkan juru runding atau juru dialog untuk menyadarkan Musailamah. Bahkan juru runding beliau yang bernama Nahar al-Rajjal, alih-alih berhasil menyadarkannya, ia malah terpesona dan terpukau oleh kecakapan Musailamah di bidang orasi, sehingga ia menjadi pengikut setianya dan menjadi penyokong gerakannya secara intelektual. Apakah Rasululah SAW lantas membunuhnya? Ternyata juga tidak! Rasulullah SAW adalah sosok yang mengedepankan dialog dan membuka pintu taubat lebar-lebar, ketimbang mengedepankan jalan pintas kematian. Orientasi dakwah beliau adalah mengayomi, bukan membasmi.  Paman al-Ahnaf bin Qais, yang dikirim oleh Rasulullah SAW untuk berdialog dengan Musailamah hanya berkata: “Dia tidak boleh diikuti penduduk. Dia lelaki pendusta yang munafik.”

Memang benar, pada masa Khalifah Pertama, Abu Bakar al-Shiddiq, Musailamah dan 40 ribuan pengikutnya mengalami masa paling suram sepanjang sejarahnya. Mereka diserang oleh tentara Abu Bakar, hingga 15 ribuan pengikutnya meregang nyawa. Pun, ribuan tentara Abu Bakar mengalami nasib yang sama. Pertanyaannya: jika Rasulullah SAW tidak melakukan tindakan demikian, kenapa penggantinya melakukan? Ini tiada lain karena telah bergesernya pergerakan kelompok Musailamah menuju pada penggulingan kekuasaan yang sah.

Pada zaman Rasulullah SAW, dengan jumlah pengikut yang tak seberapa, Musailamah lebih mengedepankan jalan dialog dan menanam gerakan di bawah tanah. Namun ketika pengikutnya mencapai 40 ribuan, mereka mulai mengedepankan jalur konfrontasi, termasuk dengan menentang pemberlakuan kewajiban zakat. Mereka juga menjadikan kekhalifahan Abu Bakar sebagai lawan yang layak ditumbangkan. Situasi ini, jika dibiarkan, lambat laun akan menghadirkan pertumpahan darah. Inilah yang lantas disikapi serius oleh penguasa Islam saat ini; soal makarnya, bukan soal perbedaan keyakinannya.  

Dengan demikian, seberbeda apapun keyakinan itu, kedamaian dan kearifan harus tetap dimajukan. Kalau yang berbeda dinilai salah, seharusnya pintu taubat dibuka lebar dan dikedepankan, bukan menutupnya dengan mematikan mereka. Inilah perbedaan mendasar dan mencolok antara umat Islam saat ini dengan generasai shahabat yang arif saat itu. Sesuai ayat al-Qur’an, generasi shahabat hanya membunuh orang-orang yang memusuhi, membunuhi dan mengusir kaum muslim dari negerinya, itupun wa la ta’tadu (terlarang berlebih-lebihan/Qs. al-Baqarah: 90). Namun kita, dengan yang tidak memusuhi, mengusir atau membunuhi saja kita membunuhnya, apalagi dengan yang memusuhi, mengusir dan membunuhi kita.

Karena itu, sabda Rasulullah SAW “perbedaan umatku adalah rahmat” haruslah kembali kita tegakkan di tengah kebhinnekaan ini, untuk menjaga keretakan “perahu negeri” ini. Jalur wa jadilhum bi allati hiya ahsan (berdialoglah dengan cara-cara yang elegan) harus menjadi rel untuk menyikapi perbedaan. Semangat keharmonisan generasi shahabat harus menjadi tren dan acuan kita, sehingga perbedaan tidak berujung kematian dan kerahmatan tetap terjaga. Yang sudah, biarlah sudah, dan seharusnya menjadi pelajaran penting. Ke depan, tahun 2012, tataplah masa depan harmonisasi antar perbedaan secara nyata. Jadikanlah keharmonisan sebagai wujud mulia keberagamaan kita, sehingga kerahmatan yang diidamkan semua manusia akan terejawentahkan. Dan warga Banten sangat mungkin melakukannya. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 27 Desember 2011
(Radar Banten, Kamis, 28 Desember 2011)