Kategori: Berita

Deklarasi Gerakan Menangkal Ujaran Kebencian

Hate speech atau ujaran kebencian kian hari kian marak di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat begitu mudahnya menyampaikan ujaran kebencian pada siapapun yang tidak disukainya, baik melalui lisan maupun media sosial seperti twitter, FB, website, instagram dan selainnya.

Penyebab munculnya ujaran kebencian bisa beragam; perbedaan agama, ras, suku, budaya, afiliasi politik bahkan warna kulit. Jika hal-hal demikian terus bertebaran secara massif, maka dampak sosial yang ditimbulkannya bisa serius, yakni perpecahan antar elemen bangsa. Bhinneka Tunggal Ika yang semestinya menjadi kredo bangsa ini, tidak lagi berguna.

Karenanya, semua pihak, baik pemerintah, agamawan, akademisi, aktivis sosial, tokoh masyarakat, tokoh politik, penegak hukum dan masyarakat umum, harus bahu-membahu mencegah potensi perpecahan akibat ujaran kebencian ini.

Untuk itu, diprakarsai oleh Ponpes Qothrotul Falah Lebak bekerjasama dengan Fahmina Institute Cirebon, sejumlah aktivis di Lebak, Pandeglang dan Serang mendeklarasikan Gerakan Bersama Menangkal Ujaran Kebencian (GBMUK), Sabtu, 20 Mei 2017 malam di Hotel Bumi Katineung Lebak Banten.

Deklarasi ini diawali oleh diskusi serius 25 aktivis dari berbagai organisasi kemasyarakatan, termasuk dari MUI, GP Ansor, PC Fatayat, pesantren, kampus, OKP, dll, tentang berbagai hal, selama Jum’at-Sabtu, 19-20 Mei 2017. Misalnya tentang ruang lingkup ujaran kebencian, pentingnya pemahaman kebangsaan, perspektif agama tentang ujaran kebencian, bahaya politisasi agama, peran aktivis menangkal ujaran kebencian dan sebagainya.

Hadir sebagai pembicara Dr. Iyan Fitriyana, M.Pd (aktivis muda Lebak), KH. M. Syuhri Usman (tokoh agama Pandeglang), Marzuki Rais (Fahmina Institute Cirebon) dan Nurul H. Maarif (Ponpes Qothrotul Falah Lebak).

Diantara point utama deklarasi, adalah pentingnya semua pihak menghindari ujaran kebencian yang berdampak pada perpecahan dan saling bermusuhan, pentingnya tokoh agama/masyarakat memiliki sensitifitas terhadap siar kebencian dan meminta semua pihak melakukan upaya yang efektif dan kreatif di lingkungan masing-masing untuk mencegah berkembangnya siar kebencian.

Untuk mengorganisir kegiatan menangkal ujaran kebencian ini, Ubaidillah, M.Si., (tokoh muda dan aktivis PC GP Ansor Lebak) didaulat sebagai Koordinator GBMUK., karena akan banyak kegiatan yang diselenggarakan.

“Harus kita akhiri saling benci dan casi-maki. Kita adalah saudara. Perbedaan jangan menjadikan kita saling bermusuhan. Keragaman itu kekayaan yang semestinya dijaga bersama,” ujar Pendiri Yayasan Nurul Athfal Cikulur Lebak ini.

Semoga saja, gerakan menangkal ujaran kebencian ini bisa bergerak gesit dan aktif untuk turut berperan serta menghindari potensi perpecahan bangsa ini.[nhm]

Kategori: Berita

Temu Alumni 2002: Qothrotul Falah Besar karena Alumninya

Temu Alumni SMA Qothrotul Falah lulusan 2002 diselenggarakan pada Ahad, 30 April 2017, di Rumah Makan Aqaba Lebak Banten. Tampak hadir hampir seluruh alumni 2002 dan keluarga Ponpes Qothrotul Falah seperti isteri pengasuh, Umi Ammah, Kiai Aang Abdurohman (Kepala SMA Qothrotul Falah), Nurul H. Maarif (Koord. Majelis Pembimbing Santri), Puspito (mantan Wali Kelas), Ade Bujhaerimi (Ketua Alumni Qothrotul Falah) dan Imam Mustofa (Guru).

Dikatakan oleh Ketua Panitia, Ahnap, kegiatan ini baru perdana diselenggarakan. “Ini baru pertama kali diselenggarakan setelah 15 tahun silam kita tidak saling bertemu. Semoga kegiatan ini menyatukan kembali kebersamaan kita sebagai alumni 2002,” jelasnya.

Keberhasilan temu alumni ini tak luput dari kerja keras panitia. “Kita semua patut mengapresiasi kerja keras panitia, terutama Syahid dan Ahnap. Kita masing-masing sudah punya kesibukan. Namun atas keseriusan mereka, al-hamdulillah kita bisa berkumpul di sini. Banyak kenangan yang kita alami saat masih sekolah 15 tahun silam,” ujar Bunda Dede Saadah, diantara alumni yang hadir untuk memberikan sambutan.

Selain keduanya, Ketua Alumni Ponpes Qothrotul Falah, Ade Bujhaerimi juga memberikan sambutannya. Diakuinya, selama ini kegiatan-kegitaan reuni alumni tercecer alias tidak tersentralisir atau terorganisir. “Rencananya, ke depan saya ingin membuat pertemuan alumni yang serius sehingga tidak tercecer,” katanya.

Dikatakannya, alumni harus ikut memikirkan dan membantu membesarkan almamaternya, yakni Pondok Pesantren Qothrotul Falah. “Besarnya Qothrotul Falah (QF) itu oleh alumninya. Karena itu, alumni yang sukses itu ukurannya kalau tetangganya ada yang mondok di QF. Kalau tidak ada, maka keberadaannya dipertanyakan,” katanya.

Melalui pertemuan alumni ini, dirinya berharap terjadi konsolidasi yang intensif antar berbagai alumni, baik yang keluaran 2002 maupun selainnya. “Dengan perkumpulan ini, tentu saja tali kekeluargaan semakin erat dan dekat, karena sesungguhnya kita semua adalah keluarga,” ujarnya.

Bagi Komisioner KPID Banten ini, alumni tidak harus lulusan SMA atau MTs Qothrotul Falah. “Yang belajar sehari atau seminggu lalu keluar dari Qothrotul Falah, itu juga alumni. Kita tidak membatasi alumni hanya yang sekolah formal, melainkan yang pernah belajar di QF. Karena itu, kita harus bersama-sama membesarkan almamater kita,” kantanya berharap.

Usai sambutan Ketua Alumni, lalu dilanjut oleh sambutan Kepala SMA Qothrotul Falah, Kiai Aang Abdurohman. Dalam uraiannya, ia banyak menyampaikan perkembangan lembaga yang dipimpinnya selama dua tahun belakangan ini.

“Kita sudah punya Laboratorium Komputer yang bagus. Ujian Nasional tahun ini juga sudah komputerisasi. Juga sudah ada internet atau wifi,” jelasnya.

Selain itu, siswa-siswi SMA Kelas X juga diberi tambahan program hafalan Juz Amma. “Harapannya, ketika mereka lulus sekolah, mereka memiliki bekal yang bagus dan mampu menyebarkan ilmu ke masyarakat,” katanya.

Putera pertama Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah juga membanggakan alumni-alumninya yang banyak berkiprah di masyarakat. “Banyak alumni yang menduduki posisi sentral di Lebak dan bahkan Banten, baik sebagai kiai, guru, aktivis maupun selainnya,” ujarnya.

Dan ia berharap, para alumni memberikan masukan atau bahkan kritikan yang membangun bagi kebaikan almamaternya. Semoga saja, pertemuan ini memberikan kebaikan bagi almamater ke depannya kelak.[nhm]

Kategori: Berita

Greg Barton Sangat Apresiasi Pesantren

Selama dua hari, Sabtu-Ahad (22-23 April 2017), dua sosok penting di Deakin University Australia, Prof. Greg Barton dan Dr. Matteo Vergani, berkunjung ke tiga pesantren di Kab. Lebak Banten, yakni Ponpes Qothrotul Falah, Ponpes Manahijussadat dan Ponpes al-Mizan Puteri.

Kedatangan keduanya yang ditemani Aktivis Komunitas Mengenal Islam (KMI) Khoirul Anam ini sesungguhnya tidak memiliki agenda yang khusus, selain untuk diskusi ringan bersama keluarga pesantren dan melihat-lihat suasana pesantren.

Bagi Greg, penulis Biografi Gus Dur, kunjungan ke pesantren bukanlah yang pertama kali. “Untuk ke pesantren di wilayah Banten, ini baru yang pertama,” ujarnya yang bertahun-tahun, sejak 1985, telah bergaul dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan pesantren.

Ini berbeda dengan Matteo Vergani. Pria asli Italia ini baru pertama kalinya berkunjung ke pesantren. Itu sebabnya, Matteo banyak terkaget-kaget dengan pesantren yang ternyata tidak sesuai bayangannya. Aneh baginya, ketika melihat ternyata pesantren mengajarkan ilmu-ilmu umum dan seni.

“Saya kira hanya belajar kitab kuning dan ibadah,” ujarnya. Matteo juga tampak takjub melihat kemegahan bangunan Ponpes Manahijussadat dan Ponpes al-Mizan Puteri.

Dalam kesempatan diskusi dengan para santri Ponpes Qothrotul Falah, secara khusus Greg Barton menyatakan apresiasinya yang tinggi pada pesantren-pesantren tradisional yang istiqamah mengajarkan kitab kuning (turats).

“Saya tidak khawatir dengan pesantren. Saya percaya, santri-santri pesantren tidak akan mungkin dibajak oleh para teroris, karena mereka sudah punya pemahaman yang sehat tentang Islam,” katanya.

“Yang dibajak itu biasanya orang beriman tapi tidak memahami ajaran agamanya,” sambungnya.

Bagi Greg, kekuatan pesantren antara lain berada pada kemampuannya mendalami kitab-kitab kuning atau karya-karya para ulama masa lalu. “Kekuatan pesantren ada di pemahaman kitab-kitab kuning dan ini harus dipertahankan,” katanya.

Ia lalu mengutip konsep neo-modernism Fazlurrahman, yang menekankan pentingnya penguasaan tradisi masa lalu namun juga adaptif pada tradisi modern. “Inilah kekuatan pesantren yang sesungguhnya,” katanya.

Dalam konteks NU, sesungguhnya inilah yang disebut sebagai al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah (melestarikan tradisi lama yang baik dan mengadopsi tradisi baru yang lebih baik).

Greg juga menyatakan, dalam konteks Indonesia dan dunia, Nahdlatul Ulama (NU) memberikan sumbangan dan pengaruh yang besar bagi perkembangan demokrasi.

“Perkembangan demokrasi di Indonesia sukses karena ada masyarakat madani atau civil society,” katanya. “Dan Indonesia membuktikan bahwa Islam compatible dengan demokrasi. Ini berkat orang seperti Gus Dur dan Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.

Bagaimana dengan pandangan umum di Barat, bahwa Islam terutama pesantren, identik dengan teroris?

“Saya tidak membela Barat yang berpandangan tidak baik pada Islam. Lakukanlah yang terbaik supaya prasangka itu hilang,” ujarnya. Ia mengakui dari sekitar 25 ribu pesantren di Indonesia, hanya segelintir yang terlibat teroris.

Tiada Duanya
Greg Barton sendiri bersentuhan dengan pesantren dari perkenalannya dengan Gus Dur. Baginya, Gus Dur itu jendela dunia. Melalui dirinya Greg dan bahkan dunia bisa melihat Islam yang sesungguhnya di negeri mayoritas berpenduduk muslim ini.

Menurutnya, Gus Dur itu sosok terbuka terhadap apapun, termasuk yang dari luar agamanya. “Bagi Gus Dur, keterbukaan itu kewajiban agama,” jelasnya.

Bahkan Greg menceritakan permohonan Gus Dur supaya di makamnya ditulis “Di sini ada seorang humanis.” “Ini hanya Gus Dur yang melakukannya,” katanya lagi.

Dalam amatannya yang mendalam, pesan-pesan Gus Dur tidak hanya berlaku bagi pesantren atau Indonesia, melainkan untuk dunia.

“Sebab itu Gus Dur tiada duanya,” katanya kagum.

Benar kata Greg, Gus Dur tiada duanya. Harus menunggu ratusan tahun untuk melihat sosok multi talenta seperti cucu Hadhratusysyaikh KH. M. Hasyim Asyari itu. Untuk menghadirkan sosok sepertinya atau minimal mendekati levelnya, ini menjadi PR pesantren dan seluruh komponen bangsa ini.[nhm]