Kategori: Berita

Abuya Muhtadi Pimpin Istighatsah di Qothrotul Falah

Ulama Kharismatik Banten, Abuya Muhtadi Dimyati Cidahu, memimpin doa dan istighatsah pada Haul dan Milad Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, Jum’at, 30 Agustus 2019.

Kegiatan haul yang diselenggarakan rutin setiap tahun ini dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai wilayah, baik Lebak, Pandeglang, Serang, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan lain sebagainya.

Kali ini, panitia menghadirkan Abuya Muhtadi, yang jadwalnya begitu padat memimpin berbagai kegiatan keagamaan di berbagai wilayah. Suatu kehormatan, Abuya berkenan hadir memimpin doa di Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Bahkan beliau berkenan berbuka dan berjamaah Isya di kediaman pengasuh pesantren.

Selain istighatsah, kegiatan haul dan milad ini juga dirangkai dengan lomba marawis untuk tingkat umum, tahlil bersama dan ceramah agama yang disampaikan KH. Tabrizi dari Petir Serang Banten.

Sayangnya, atas takdir Allah, pada acara penting ini, Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah tidak bisa turut serta karena menjalani perawatan di rumah sakit. Beliau hanya bisa memantau dari jauh proses jalannya kegiatan ini.

Insya Allah, kegiatan haul seperti ini akan terus dilanggengkan sehingga secara ruhani akan menghadirkan kebaikan baik bagi pondok maupun masyarakat Banten.[nhm]

 

Kategori: Berita

Jangan Keseringan Nengok Anak!

Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten mengadakan silaturahim dengan seluruh wali santri, Ahad, 25 Agustus 2019, di Majelis Putera Qothrotul Falah.

Dari unsur pesantren, hadir Pengasuh Pesantren KH. Ahmad Syatibi Hambali, Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) H. Nurul H. Maarif, Kepala SMA Qothrotul Falah KH. Abdurohman, M.Pd., Kepala MTs Qothrotul Falah Ahmad Turmudzi, M.Pd., Bendahara Hj. Dede Saadah, Waka Kurikulum Agus F. Awaludin, S.Pd., dan lain sebagainya.

Dalam arahannya, Pengasuh Pesantren, Kiai Ibing – sapaan akrabnya – menyatakan, keberhasilan santri dalam menjalankan pendidikannya tergantung tiga unsur: guru, santri dan orang tua.

“Harus ada kerjasama yang baik antara guru, anak dan orang tua. Semua menjalankan tanggungjawabnya secara profesional. Guru serius mengajar, anak serius belajar dan orang tua mendukung dengan doa dan yang lainnya,” ujarnya.

Beliau juga menyatakan, antara walisantri dengan pondok sudah menjadi keluarga, yang karenanya harus saling mendukung. “Jangan sungkan sungkan jika ada yang perlu diberi masukan dari pihak pondok. Sampaikan saja sebagai keluarga,” katanya.

Nurul H. Maarif, selaku Koordinator MPS menyatakan, perlunya ada keikhlasan yang tinggi bagi walisantri untuk melepaskan anak-anaknya di pondok, supaya belajar mandiri. “Umpama anak panah, lepaskanlah anak-anak kita dari busurnya supaya mengenai sasaran. Jangan dipegangin terus dengan alasan sayang, sehingga mereka justru tidak bisa mandiri,” katanya.

Juga, katanya, walisantri jangan keseringan nengok anaknya. Apalagi sengaja-sengaja dicarikan alasan untuk ijin. “Jangan sampai hanya karena alasan yang sesungguhnya nggak penting, tapi dipenting-pentingkan. Dan siapapun yang jenguk juga harus mengenakan pakaian yang sopan dan pantas,” ujarnya.

Kepala SMA Qothrotul Falah, Kiai Aang, bahkan menceritakan pengalamannya, ada wali santri yang sampai menenami anaknya mondok hingga tiga bulan, karena tidak lepas memondokkan anaknya. “Harus benar-benar lepas dan ikhlas. Insya Allah anak-anak di sini akan baik-baik saja,” katanya.

Sedangkan Bendahara, Hj. Dede menekankan pentingnya kesederhanaan dalam segala hal termasuk tidak boros dalam jajan. “Ajarkan kesederhanaan pada anak dalam hal uang. Jangan dikasih uang jajan yang berlebih, karena akan mendidik anak untuk boros,” katanya.

Bendahara juga mengingatkan supaya uang pembayaran apapun langsung diserahkan ke pihak pondok dan tidak lewat anak-anak. “Banyak kejadian, uang SPP nggak sampai Bendahara, karena justru buat jajan anak. Akhirnya orang tua yang tekor,” ungkapnya.

Selain itu, yang dihimbau oleh pihak pesantren untuk wali santri adalah; perlunya kontrol wali santri pada perkembangan anaknya melalui Buku Santri dan Parukunan Santri; proses perijinan melalui keamanan, perlunya kralifikasi jika ada info tentang anak-anaknya, dan sebagainya.

Kegiatan silaturaihm lalu diakhiri dengan makan siang bersama ala kadarnya.[nhm]

Kategori: Berita

Kaderisasi Pecinta Perpustakaan dan Buku

Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten senantiasa memiliki perhatian serius pada dunia literasi, termasuk perbukuan dan perpustakaan. Tanpa dunia perbukuan dan perpustakaan, gagasan apapun tentang pendidikan menjadi ambiugu.

Karena itu, Pondok Pesantren Qothrotul Falah melalui Pondok Baca Qi Falah menggelar rekrutmen dan kaderisasi pecinta buku dan perpustakan. Kegiatan ini digagas oleh Ustadz Muhammad Eman Sulaiman, yang juga aktivis Arus Informasi Santri (AIS) Banten.

Pembina Pondok Baca Qi Falah dan Multimedia ini menyatakan, kegiatan bertajuk "Pendidikan Pengkaderan Pengurus Perpustakaan Qi Falah Masa Bakti 2019 -2020", diselenggarakan selama dua hari, 8-9 Agustus 2019.

“Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menciptakan kaderisasi pengurus yang militan dan bertanggung jawab,” ujarnya semangat.

Pesertanya terdiri dari Pengurus Pondok Baca Qi Falah dan Aktivis Triping Community, dua kegiatan ekstrakurikuler yang fokus pada dunia literasi, yang berjumlah 30 santri.

“Pada kegiatan ini, kami menghadirkan beberapa pemateri hebat yang sudah melanglang buana di dunia penulisan dan baca, diantaranya Ustadz Nurul Huda Maarif yang pada 2017 terpilih sebagai Guru Produktif di lingkungan pengajar madrasah di Kemenag Banten. Juga ada Ustadzah Cahyati, yang sudah sampai Singapura dalam rangka kegiatan literasi,” katanya.

Menurut Ustadz EMan, di akhir kegiatan diadakan pelantikan pengurus perpustakaan yang baru. “Saudara Sudirman dan Saudari Nur Asyfa terpilih menjadi Ketua dan Wakil Ketua pengurus Pondok Baca Qi Falah Masa Bakti 2019-2020,” katanya.

Semoga saja, kegiatan seperti ini mampu menumbuhkan minat dan kecintaan para santri di lingkungan Pondok Pesantren Qothrotul Falah pada dunia literasi, khususnya dunia buku, tulis-menulis dan video.[EM)

Kategori: Berita

Raih Bahagia Dunia-Akhirat dengan Kesungguhan

Pada 31 Juli 2019, Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Qothrotul Falah menginjak usia ke 28 tahun. Usia yang memberikan rekam jejak membanggakan untuk para santri dan juga alumni. Berkiprah memberikan upaya terbaik untuk masyarakat.

Milad ke 28 ini dimeriahkan oleh beberapa kegiatan pada malam hari, mulai dari tausiah pengasuh hingga pemotongan tumpeng dan penyalaan kembang api. Hadir juga para guru.
 
“Saya pribadi mengucapkan terima kasih pada panitia, yang punya inisiatif bikin acara milad. Mudah-mudahan niat baik ini menjadi cermin kecintaan pada pesantren ini. Dengan niat yang baik, maka terselenggara acara yang baik ini. Semoga Allah mencatat sebagai amal ibadah,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah di awal pembukaan nasihatnya.

“Nama Qothrotul Falah ini sederhana. Qothroh itu tetesan. Falah itu al sa’adah fi al darain. Kebahagiaan dunia akhirat. Qothrotul Falah ini tetesan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.  Semoga seluruh yang ada di bawah naungan Qothrotul Falah ini mendapat kebahagiaan dunia akhirat,” ujarnya.

Menurut Abi, sapaan akrabnya, nama Qothrotul Falah dibuat oleh ayahanda beliau, KH. Hambali. Setelah mondok di Karang Tanjung pada Kiai Emed, ke Rocek pada Kiai Malik, lalu ke Gentur pada Mama KH. Syatibi, beliau pulang dan membuat pondok yang dilengkapi diniah.

“Lalu beliau memberilah nama Qothrotul Falah. Saat itu pendidikannya hanya diniah. Tidak dilengkapi pendidikan formal. Seiring perkembangan zaman, saya pulang dari Cibereum, saya mulai istikamah di Kampung Sanding.  Alhamdulillah atas izin Allah, tahun 1991, 31 Juli,  keluar Akte Nuzwar SH. Ini atas dorongan kakak sepupu saya, Drs. Ahmad Jazuli,” jelasnya.

Tak seorangpun yang tidak berharap bahagia dunia akhirat. “Semoga kalian semua yang datang ke pondok ini bahagia dunia akhirat. Itu ditentukan oleh diri kita sendiri. Keberhasilan manusia adalah karunia Allah. Agar dapat karunia Allah kita harus berupaya. Caranya dengan nyari ilmu dan tinggal di pondok. Insya Allah,” katanya berharap.

Beliau juga memberikan penekanan pada santri supaya belajar dengan tekun dan serius. “Ilmu dicapai dengan ketekunan bukan dengan keturunan. Tidak sedikit anak jenderal atau pejabat, anaknya malas. Tidak sedikit anak ulama/kiai, anaknya tidak jadi apa apa. Bodoh! Kalau ingin meraih al falah, haruslah jidd atau sungguh-sungguh. Allah tidak akan merubah suatu kaum sampai mereka sendiri yang merubahnya,” sambungnya.

Semoga saja, segala harapan yang dituangkan dalam doa seluruh keluarga pondok di milad ini bisa terealissaikan atas izin-Nya. Acara sederhana ini lalu ditutup pemotongan tumpeng oleh Pengasuh.[URU]

Kategori: Berita

Mas Patrick: Carilah Ilmu di Tempat yang Jauh!

Sebulan kedatangan tamu santri dari Perancis, Ilhan, yang menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, rupanya memberikan warna baru bagi keluarga besar Pesantren.  Tak terasa, waktu belajar Ilhan hampir usai dan ia harus kembali ke Perancis untuk menjalani rutinitas sekolahnya. Untuk itu, Ibu Rita Sihombing beserta suaminya Mr. Patrick datang kembali ke Pesantren untuk menjemput anaknya.

Memanfaatkan momen kedatangan Mr. Patrick yang kami sapa Mas Patrick, pada Kamis, 01 Agustus 2019 ba’da Isya, seluruh santri berkumpul di Majelis Putera untuk berkenalan dan mendengarkan cerita dan motivasi dari warga asli Perancis.  

Ditemani Ustadz Muhammad Zen, Ibu Rita serta anaknya Ilhan, Mas Patrick memberikan motivasi kepada para santri untuk terus semangat belajar. Ia mengatakan, jika saat ini ada orang Perancis datang ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah untuk belajar, maka santri-santri suatu hari juga bisa datang ke Perancis untuk belajar. Mas Patrick menyampaikan do’anya agar kelak santri ada yang bisa melanjutkan kuliah ke Perancis.

“Proses dalam sebuah usaha dan proses dalam belajar, akan membuat kita kuat,” ujarnya.

Dalam menuntut iilmu, akan banyak rintangan dan tingkat kesulitan masing-masing. Jika proses itu dilalui dengan baik disertai kesabaran dan ketekunan, maka itu akan membuat kuat. “Carilah ilmu yang agak jauh. Kalau tidak ke Luar Negeri, minimal luar provinsi,” imbuh Mas Patrick.

Menurutnya, belajar ke luar negeri atau ke luar daerah sendiri banyak mendatangkan manfaat untuk diri kita. Selain tujuannya untuk mencari ilmu atau menjemput ilmu, prosesnyapun positif, sebab akan menemukan budaya baru, cara berfirikir yang berbeda, sehingga kita bisa belajar untuk menyesuaikan diri.

“Namun yang penting tidak dilupakan adalah jati diri dan identitas diri,” katanya.

Kemana pun kita melangkah untuk belajar, di negara manapun atau daerah manapun, kita harus bangga dengan siapa kita, dengan identitas kita sebagai muslim, sebagai warga negara Indonesia.

Di akhir penyampaiannya, Mas Patrick memberikan semangat kepada santri untuk terus semangat dalam belajar. “Kalau ada semangat, akan selalu ada jalan,” ungkapnya menyakinkan para santri.[YAT]

Kategori: Berita

Balajar tanpa Motivasi Itu Bohong

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) MTs dan SMA Qothrotul Falah resmi dimulai Senin, 22 Juli 2019. Sedangkan KBM kitab kuning dimulai Selasa malam, 23 Juli 2019.

Dalam tausiah pembuka KBM, Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH. Achmad Syatibi Hambali menyatakan, motivasi santri yang datang ke pondok hanyalah untuk menuntut ilmu, baik ilmu umum maupun ilmu agama dan bukan untuk main-main.

“Kenapa harus mencari ilmu? Supaya kita punya harga. Saya harapkan semuanya harus siap untuk mencari ilmu. Bukan hanya ilmu sekolah, tapi ilmu ngaji. Insya Allah di lembaga ini disiapkan semuanya,” ujar Rais Syuriah PCNU Kab. Lebak ini.  

Menuntut ilmu agama atau sekolah, katanya, haruslah disertai motivasi yang tinggi dan harus punya tujuan yang jelas. “Ingin dunia harus dengan ilmu. Ingin akhirat harus dengan ilmu. Belajar tanpa motivasi itu bohong,” katanya.

Kiai Ibing – sapaan akrabnya – berharap, mudah-mudahan kedatangan santri ke pondok sebagai tanda hidayah dari Allah Swt. “Mudah-mudahan kalian mendapat ilmu sebagaimana yang diharapkan,” katanya.

Dengan memondokkan anak-anaknya, itu menunjukkan betapa sayangnya orang tua. “Saya anak semata wayang. Harusnya disayang. Cara orang tua saya menyayangi ya berbeda. Saya keluar sekolah dasar langsung dikirim mondok. Justru inilah bentuk sayangnya. Orang tua nggak mau anaknya bodoh. Itu bukti sayang. Bukan disimpan di rumah. Bukan itu tanda sayang,” jelasnya.

Diantara manfaat mondok, katanya, akan mendewasakan diri. “Suatu saat kalian akan lepas dari orang tua. Kalau nggak ada ilmu, kalian akan kesulitan. Kalian harus bersyukur pada orang tua,” katanya.

Di pondok juga akan diajari mengaji, baik al-Qur’an maupun kitab kuning. Shalat juga dibimbing dan diaragkan. “Di rumah belum tentu,” ujarnya.  
 
Menurutnya, mencari ilmu itu banyak liku-liku. Bahkan terkadang jenuh. Kadang malas. Atau ada keterlambatan kiriman dari orang tua. “Kuncinya ya sabar. Jangan pulang karena itu nggak akan berhasil. Harus ingat, jalan kebaikan apa saja, itu setan pasti akan memburu. Nggak senang pada kebaikan,” katanya mengingatkan.

Kenapa harus sabar?

“Sabar itu kunci keberhasilan. Lagi malas paksakan dengan sabar. Ada kejenuhan kita tahan. Ingin pulang kita tahan. Itu sabar. Al shabru miftahu kulli ma yurja’. Sabar itu kunci segala harapan,” ujarnya lagi.

Selain sabar, santri juga harus semangat. “Tanpa semangat nggak bakalan berhasil. Jangan leha-leha dan malas. Malas itu mewariskan kesusahan. Insya Allah dengan semangat, Allah mengaruniakan ilmu,” nasihatnya.[NHM]

Kategori: Berita

Ustadzah Cahyati Ikuti Pelatihan Muslimah for Change

Muslimah for Change Training adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Republik Indonesia. Tujuan kegiatan ini guna membangun jaringan 60 muslimah moderat alumni pesantren serta menyusun dokumen dalam mengkampanyekan Islam damai dan kesetaraan gender. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang; aktivis komunitas, juga aktivis di pesantren atau muslimah pengelola pesantren.

Ustadzah Cahyati menjadi salah satu peserta terpilih yang berhasil lolos seleksi dari 700 peserta muslimah yang mendaftar untuk mengikuti kegiatan ini. Sarjana lulusan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten ini mewakili Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten dalam kegiatan selama tiga hari itu, Rabu-Jum’at, 17-19 Juli 2019, di Valley Hotel Bogor Jawa Barat.

Pembukaan kegiatan Muslimah for Change Training dihadiri langsung oleh Dr. Ahmad Zayadi, M.Pd. selaku Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren dan Yenny Wahid selaku Direktur Wahid Foundation.

 Dalam sambutannya Ahmad Zayadi menyampaikan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini. “Tujuan kegiatan ini adalah untuk silaturahim, sharing experience yang kemudian membuat program ke depan”, ujarnya.

Alasan penting rekrutmen peserta dari alumni pesantren karena santri dan pesantren memiliki peran dan kekuatan yang luar biasa. “Saat ini perhatian masyarakat terhadap dunia pesantren sangat luar biasa”, imbuhnya. “Karena itu, sudah saatnya santri bisa memanfaatkan mobilitas sosial ini,” imbuhnya.

Hal tak jauh berbeda disampaikan oleh Yenny Wahid, puteri kedua Alm. KH. Abdurrahman Wahid. “Sudah sewajarnya jika santri Indonesia dianggap menjadi penerang dunia”, kata Direktur Wahid Foundation.

Menurutnya, change atau perubahan adalah ciri untuk kehidupan ke depan. Maka hanya orang yang mampu mengikuti dan melakukan perubahanlah yang dapat survive atau bertahan.

Diakhir sambutannya , Yenny menyemangati para peserta kegiatan untuk terus berupaya mewujudkan Islam ramah di Indonesia. “Santrilah atau generasi muda umumnya yang bisa menjelaskan. Santrilah yang bisa membuat konten dengan bermodalkan keilmuan dan akhlak yang diperoleh dari pesantren”, ujarnya tegas.

Di hari kedua, peserta disuguhkan berbagai materi yang disampaikan oleh para nara sumber terkait isu kesetaraan gender dan intoleransi. Ayu Kartika Dewi, selaku pemateri pertama, menceritakan pengalamannya sebagai perempuan yang aktif menginisiasi berbagai program.

Managing Direktor Indika Foundation dan Co-Founder Sabang Merauke ini uga menjelaskan apa saja tantangan perempuan untuk menjadi berdaya, perempuan pesantren agar berani menciptakan perubahan Islam Indonesia dan sebagainya.
 
Alamsyah M. Dja’far selaku Manager Program Wahid Foundation  memaparkan hasil survey Wahid Foundation tentang pandangan dan sikap kesetaraan gender, bagaimana relasi antara konservatisme gender dan intoleransi di kalangan perempuan.

Selanjutnya, Kalis Mardiasih seorang kolumnis aktif di www.detik.com serta Redaktur www.mojok.co membagi pengalamannya dalam melakukan kampanye kesetaraan gender dan toleransi melalui stand up comedy serta menjelaskan apa saja isu yang diperdebatkan terkait muslimah dan media akhir-akhir ini.

Di samping itu, perempuan yang kerap beradu komentar dengan Ustd. Felix Siauw (Pengusung Negara Khilafah dan Anti Demokrasi) ini juga menjelaskan bagaimana sebaiknya perempuan alumni pesantren merebut kembali ruang media tentang Islam dan isu keperempuanan.

Nur Rofi’ah selaku Inisiator Kongres Ulama Perempuan Indonesia memberikan materi Konsep Pemberdayaan Perempuan dalam Islam. Ia menjelaskan bagaimana konsep kesetaraan gender dalam Islam.

Materi terakhir Strategi Komunikasi dalam Pemanfaatan Sosial Media untuk Mengampanyekan Moderatisme disampaikan oleh Tidar Rahmadi dari Love Franky dan selaku Co-Founder Sabang Merauke. Tidar memberikan pengarahan tentang membangun strategi komunikasi yang efektif, apa saja komponennya serta bagaimana pemanfaatan sosial media untuk mengampanyekan moderatisme.

Mengikuti kegiatan ini, Ustadzah Cahyati merasa beruntung, apalagi telah melalui proses seleksi yang cukup ketat. “Al-hamdulillah, proses seleksi saya lalui dengan baik dan bisa terpilih menjadi salah satu peserta. Insya Allah ini akan menjadi modal sangat baik dan positif terkait pematangan saya sebagai muslimah yang hidup di negara Indonesia yang penuh keragaman,” ujarnya.[YAT]

Kategori: Berita

Empat Nasihat Pengasuh untuk Para Guru

Untuk menghadapi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Tahun Ajaran 2019-2020, Pengelola mengadakan rapat persiapan, Sabtu, 20 Juli 2019, sekaligus pembagian Surat Keputusan (SK) mengajar guru.

Bertempat di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas Qothrotul Falah, rapat persiapan dihadiri oleh Pengasuh Pesantren, Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS), Kepala SMA Qothrotul Falah, Kepala MTs Qothrotul Falah dan para guru.

Dalam wejangannya, Pengasuh Pesantren, KH. Achmad Syatibi Hambali mengingatkan empat hal pada para guru. Pertama, guru harus memiliki niat yang ikhlas. Menurut beliau, dalam melakukan pengajaran, para guru haruslah memiliki niat yang ikhlas karena Allah Swt, bukan karena pemrih apapun selain Allah Swt.

“Tanpa keikhlasan, amal kita tidak ada gunanya,” ujarnya.

Kedua, guru haruslah punya motivasi untuk mencerdaskan anak-anak didik. Menurutnya, motivasi ini penting karena menjadi target yang mesti disasar dan tidak asal mengajar.

“Harus ada keinginan supaya ilmu yang disampaikan guru bisa tertangkap oleh anak. Diniatin supaya anak bisa dan mengerti. Jangan asal ngajar hanya untuk menggugurkan kewajiban,” harapnya.

Ketiga, guru senantiasa bersabar menghadapi karakter anak didik. Menurutnya, ini menjadi pintu keberhasilan dalam segala urusan. Tanpa kesabaran, semua akan menjadi sulit.

“Kenapa harus sabar? Karena kemampuan anak menerima materi yang kita sampaikan itu tidak sama atau berbeda-beda. Ada yang mudah menangkap, ada yang sulit, semua harus dihadapi dengan senyuman,” jelasnya.

Keempat, guru harus disenangi anak. Menurutnya, kuncinya adalah keilmuan yang memadai, sikap yang menjadi teladan dan komunikasi yang baik dengan para siswa.

“Kalau anak menyenangi guru, insya Allah mereka akan ikut apapun kata gurunya. Karena itu tugas guru bukan mendidik saja, tapi memotivasi dan sebagainya,” ujarnya menasihati.

Usai sambutan pengasuh, kegiatan dilanjut penyampain informasi oleh Kepala SMA, Kepala MTs dan Bendahara. Juga diberikan wejangan singkat oleh guru senior, Ade Bujhaerimi.

Kegiatan ditutup dengan makan tumpeng bersama sebagai tanda syukuran selesainya pembangunan Gedung BLK Komunitas.[NHM]

Kategori: Berita

Guru dan Santri Itu Keluarga

Senin, 15 Juli 2018, Pondok Pesantren Qothrotul Falah mulai melaksanakan kegiatan tahunan dalam rangka perkenalan santri baru. Kegiatan yang dinamai Masa Bimbingan Santri yang disingkat MABIS ini diselenggarakan oleh Pengurus Organisasi Pelajar Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ).
 
Pembukaan kegiatan MABIS dilaksanakan di Majelis Putera dihadiri oleh seluruh santri, baik santri baru maupun santri lama serta para dewan asatidz-asatidzah. Pada kegiatan MABIS tahun ini, OPPQ mengangkat tema “What Ever You Are, Be A Good Person.”
 
Ustadzah Fitri Aryanti selaku Pembina OPPQ menjelaskan tujuan diadakannya MABIS setiap tahun dalam acara pembukaan tersebut.
 
“Kegiatan MABIS yang kami laksanakan setiap  tahun ini memiliki dua tujuan penting. Pertama, untuk melatih mental santri baru. Kedua, ajang perkenalan santri baru terhadap segala hal tentang pesantren dan keluarga besar pesantren ini”, Jelas Ustadzah Fitri dalam sambutannya.

Dalam sambutannya, mahasiswi akhir UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten ini memberikan semangat dan pesan untuk para santri baru agar bisa bersatu dan menjadi saudara dengan semua santri, serta dapat mengikuti kegiatan MABIS dengan khidmat dan tertib.

Usai sambutan dari Pembina OPPQ, acara dilanjutkan nasihat atau wejangan dari Pimpinan Pondok Pesantren Qothrotul Falah, yakni KH. Achmad Syatibi Hambali yang biasa disapa Abi. Dalam nasihatnya, Abi menyampaikan selamat datang untuk para santri baru yang baru saja bergabung di pesantren, juga untuk santri lama yang datang dari liburan panjang.
 
Hidup dalam satu lingkungan, yakni lingkungan pesantren diibaratkan hidup dalam sebuah rumah. Para santri harus bisa saling bersatu dan menganggap semua orang di pesantren adalah satu keluarga yang saling menguatkan. Ada teman, kakak serta ustadz-ustadzah yang dianggap seperti orang tua. Maka saat menemukan persoalan atau kesulitan di pesantren, tidak ragu untuk disampaikan.

“Anggap pondok ini sebagai rumah bagi kalian”, ujar Abi kepada seluruh santri.

Selain itu, Abi juga berpesan kepada pengurus OPPQ dan umumnya para santri yang menjadi kakak kelas, agar bisa mengayomi dan merangkul adik-adik kelasnya.

Dalam nasihatnya, Abi juga menyampaikan bahwa semua santri yang datang ke pesantren adalah para pencari ilmu. “Semua tujuan kalian di sini sama, yaitu menuntut ilmu. Tidak ada tujuan yang paling mulia selain mencari ilmu,” jelas Abi lantang.

“Untuk mencapai sebuah keberhasilan, baik itu dalam menuntut ilmu atau yang lainnya maka kita harus sabar dan tawakkal,” sambungnya.

Kedua kunci tersebutlah yang akan membawa kepada keberhasilan. Karena segala sesuatu yang dikerjakan dan diiringi kesabaran dan tawakkal atau pasrah atas ketentutan Allah, maka akan berhasil.

Di akhir wejangannya, Abi berpesan kepada seluruh santri agar mengikuti segala aturan atau tata tertib pondok dengan baik.[YAT]

Kategori: Berita

Kendati Berpuasa, Santri Tetap Padat Kegiatan

Pada Ramadhan 1440 H ini, para santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten menjalankan puasa disertai kegiatan yang cukup padat.

Selain menjalankan puasa sebagai kewajiban seorang muslim, para santri juga menjalani pasaran kitab kuning, ujian diniah kitab kuning, ujian lisan juga ujian tulis smester genap baik siswa-siswi yang MTs maupun SMA Qothrotul Falah.

Mereka juga menyelenggarakan kegiatan Nuzulul Quran, buka bersama dan sahur bersama. “Kebetulan Ramadhan kali ini berbarengan waktunnya dengan penyelenggaraan ujian sekolah, sehingga sambil puasa mereka juga mengerjakan soal,” ujar Bunda Saadah.

Katanya, al-hamdulillah kegiatan-kegiatan ini berlangsung dengan lancar tanpa kendala apapun. “Kami melihat mereka enjoy saja. Tidak terlihat terbebani dengan kegiatan puasa sekaligus ujian,” ujarnya.

Setelah menjalani berbagai kegiatan ini, mereka akan dipulangkan ke rumahnya masing-masing insya Allah pada Ahad, 26 Mei 2019. Mereka akan kembali lagi ke pesantren pada 11 Juli 2019 untuk menjalani kegiatan sebagaimana biasanya.

“Mereka liburan cukup panjang. Semoga saja mereka mampu menjaga nilai-nilai kesantrian yang selama ini diajarkan di pesantren,” ujar Bunda.

Semoga saja, dengan kegiatan yang padat itu, mereka mendapatkan nilai terbaik. Puasanya mendapatkan nilai terbaik di hadapan Allah Swt dan ujiannya juga mendapatkan nilai terbaik di hadapan guru-gurunya.[]