Kategori: Berita

Guru dan Santri Itu Keluarga

Senin, 15 Juli 2018, Pondok Pesantren Qothrotul Falah mulai melaksanakan kegiatan tahunan dalam rangka perkenalan santri baru. Kegiatan yang dinamai Masa Bimbingan Santri yang disingkat MABIS ini diselenggarakan oleh Pengurus Organisasi Pelajar Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ).
 
Pembukaan kegiatan MABIS dilaksanakan di Majelis Putera dihadiri oleh seluruh santri, baik santri baru maupun santri lama serta para dewan asatidz-asatidzah. Pada kegiatan MABIS tahun ini, OPPQ mengangkat tema “What Ever You Are, Be A Good Person.”
 
Ustadzah Fitri Aryanti selaku Pembina OPPQ menjelaskan tujuan diadakannya MABIS setiap tahun dalam acara pembukaan tersebut.
 
“Kegiatan MABIS yang kami laksanakan setiap  tahun ini memiliki dua tujuan penting. Pertama, untuk melatih mental santri baru. Kedua, ajang perkenalan santri baru terhadap segala hal tentang pesantren dan keluarga besar pesantren ini”, Jelas Ustadzah Fitri dalam sambutannya.

Dalam sambutannya, mahasiswi akhir UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten ini memberikan semangat dan pesan untuk para santri baru agar bisa bersatu dan menjadi saudara dengan semua santri, serta dapat mengikuti kegiatan MABIS dengan khidmat dan tertib.

Usai sambutan dari Pembina OPPQ, acara dilanjutkan nasihat atau wejangan dari Pimpinan Pondok Pesantren Qothrotul Falah, yakni KH. Achmad Syatibi Hambali yang biasa disapa Abi. Dalam nasihatnya, Abi menyampaikan selamat datang untuk para santri baru yang baru saja bergabung di pesantren, juga untuk santri lama yang datang dari liburan panjang.
 
Hidup dalam satu lingkungan, yakni lingkungan pesantren diibaratkan hidup dalam sebuah rumah. Para santri harus bisa saling bersatu dan menganggap semua orang di pesantren adalah satu keluarga yang saling menguatkan. Ada teman, kakak serta ustadz-ustadzah yang dianggap seperti orang tua. Maka saat menemukan persoalan atau kesulitan di pesantren, tidak ragu untuk disampaikan.

“Anggap pondok ini sebagai rumah bagi kalian”, ujar Abi kepada seluruh santri.

Selain itu, Abi juga berpesan kepada pengurus OPPQ dan umumnya para santri yang menjadi kakak kelas, agar bisa mengayomi dan merangkul adik-adik kelasnya.

Dalam nasihatnya, Abi juga menyampaikan bahwa semua santri yang datang ke pesantren adalah para pencari ilmu. “Semua tujuan kalian di sini sama, yaitu menuntut ilmu. Tidak ada tujuan yang paling mulia selain mencari ilmu,” jelas Abi lantang.

“Untuk mencapai sebuah keberhasilan, baik itu dalam menuntut ilmu atau yang lainnya maka kita harus sabar dan tawakkal,” sambungnya.

Kedua kunci tersebutlah yang akan membawa kepada keberhasilan. Karena segala sesuatu yang dikerjakan dan diiringi kesabaran dan tawakkal atau pasrah atas ketentutan Allah, maka akan berhasil.

Di akhir wejangannya, Abi berpesan kepada seluruh santri agar mengikuti segala aturan atau tata tertib pondok dengan baik.[YAT]

Kategori: Berita

Kendati Berpuasa, Santri Tetap Padat Kegiatan

Pada Ramadhan 1440 H ini, para santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten menjalankan puasa disertai kegiatan yang cukup padat.

Selain menjalankan puasa sebagai kewajiban seorang muslim, para santri juga menjalani pasaran kitab kuning, ujian diniah kitab kuning, ujian lisan juga ujian tulis smester genap baik siswa-siswi yang MTs maupun SMA Qothrotul Falah.

Mereka juga menyelenggarakan kegiatan Nuzulul Quran, buka bersama dan sahur bersama. “Kebetulan Ramadhan kali ini berbarengan waktunnya dengan penyelenggaraan ujian sekolah, sehingga sambil puasa mereka juga mengerjakan soal,” ujar Bunda Saadah.

Katanya, al-hamdulillah kegiatan-kegiatan ini berlangsung dengan lancar tanpa kendala apapun. “Kami melihat mereka enjoy saja. Tidak terlihat terbebani dengan kegiatan puasa sekaligus ujian,” ujarnya.

Setelah menjalani berbagai kegiatan ini, mereka akan dipulangkan ke rumahnya masing-masing insya Allah pada Ahad, 26 Mei 2019. Mereka akan kembali lagi ke pesantren pada 11 Juli 2019 untuk menjalani kegiatan sebagaimana biasanya.

“Mereka liburan cukup panjang. Semoga saja mereka mampu menjaga nilai-nilai kesantrian yang selama ini diajarkan di pesantren,” ujar Bunda.

Semoga saja, dengan kegiatan yang padat itu, mereka mendapatkan nilai terbaik. Puasanya mendapatkan nilai terbaik di hadapan Allah Swt dan ujiannya juga mendapatkan nilai terbaik di hadapan guru-gurunya.[]