Kategori: Berita

Peran Mahasiswa Menangkal Ujaran Kebencian dan Hoax

Mahasiswa sebagai generasi damai sepatutnya dapat berpartisipasi dan berperan aktif dalam menetralisir atau menangkal ujaran kebencian dan hoax guna menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Upaya itu bisa mereka lakukan melalui media sosial ataupun aksi di kehidupan nyata.

Atas hal ini, Pondok Pesantren Qothrotul Falah bekerja sama dengan Fahmina Institute Cirebon menyelenggarakan dialog interaktif dengan tema “Peran Mahasiswa Menangkal Ujaran Kebencian dan Hoax,” pada Sabtu, 22 Desember 2018.

Kegiatan dialog yang dilaksanakan di Pondok Baca Qi Falah ini dihadiri oleh 25 mahasiswa/i dari lima perguruan tinggi yang ada di Lebak dan Serang; STAI La Tansa Mashiro, STAI Wasilatul Falah, UIN SMH Banten, STKIP Rangkasbitung dan UNSERA. Para peserta dialog mayoritas guru di berbagai pesantren.
 
Diadakannya dialog interaktif mahasiswa ini bertujuan untuk menjalin silaturahim dengan 25 mahasiwa/i sekaligus guru pesantren, menguatkan pemahaman dan kesadaran akan bahaya siar kebencian dan hoax, mendorong mahasiswa/i untuk memiliki sensitivitas terhadap segala hal yang termasuk dalam ujaran kebencian dan hoax dan mengampanyekan bahaya siar kebencian dan hax di wilayah masing-masing.

Juga Mendorong 25 mahasiswa/i untuk dapat mendorong 25 mahasiwa/i untuk melakukan upaya yang efektif dan kreatif di lingkungan masing-masing dalam upaya pencegahan berkembangnya siar kebencian dan hoax.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.45 ini diisi oleh dua nara sumber, yakni Nurul H. Ma’arif Agus Faiz Awaludin. Dialog dipimpin langsung oleh Dede Sa’adah Syatibi selaku moderator.
.
Agus Faiz Awaludin menyampaikan materi pertama tentang ujaran kebencian. Aktivis Gerakan Anti Ujaran Kebencian dan Hoax dan Jubir Pancasila Banten ini dengan detail menjelaskan dasar dan batas-batasan ujaran kebencian hingga dampak yang ditimbulkan. Peserta diberikan pemahaman bahwa ujaran kebencian memiliki dampak yang mengerikan.

“Pertama, karena banyak peristiwa perang terjadi bermula dari ujaran kebencian. Kedua, perbedaan antar kelompok menjadi semakin besar. Ketika terjadi ujaran kebencian yang semakin meluas, maka perbedaan antar kelompok itu akan menjadi semakin besar. Negara kita sudah dijadikan sebagai negara yang luar biasa. Apabila ujaran kebencian ini tidak bisa kita stop, maka akan terjadi selisih perbedaan terus. Ketiga, bahasa kebencian tidak hanya akan menghadirkan efek yang menakutkan bagi si penerima pesan, namun juga bagi mereka yang mendengarkan,” jelas Agus dalam presentasinya.

Tak hanya ujaran kebencian, Nurul H. Maarif dalam materi kedua tentang hoax juga menjelaskan betapa hoax juga dapat mengakibatkan perpecahaan dan permusuhan. Sebab itu, dalam penyampaian materinya, Nurul mengajak para peserta untuk turut andil dalam penangkalan hoax.

“Kalau kita nggak peduli dan tidak anti hoax, apalagi justru menyebarkannya, berarti kita tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita dan sesuai dengan apa yang Allah Swt inginkan. Orang yang menyebarkan berita bohong, maka sama saja dia menyetujui berita bohong itu. Makanya,  mahasiswa, santri, kaum muslim, sudah seharusnya punya konsen di bidang ini, mengingat dampak negative yang akan ditimbulkan bisa sangat mengerikan,” ujar penulis buku “Islam Mengasihi, Bukan Membenci” ini.[ayat]

Kategori: Berita

Ustadz Agus Ikuti Workshop Sunat Perempuan

Selama dua hari, Rabu-Kamis, 12-13 Desember 2018, Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, Ustadz Agus Faiz Awaluddin, mengikuti Workshop Penajaman Konsep Note Pendidikan untuk Penghapusan Pelukaan/Pemotongan Genitalia Perempuan (P2GP).

Bertempat di Hotel Grand Sahid Jakarta, kegiatan ini diselenggarakan oleh Komnas Perempuan. Peserta yang hadir berasal dari unsur Pemerintah seperti Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Juga unsur Majelis Ulama Indonesia (MUI). Peserta juga datang dari unsur perwakilan organisasi kemasyarakatan, pesantren, peneliti, akademisi dan tokoh agama.

Tujuan kegiatan ini, adalah 1) Sosialisasi Konsep Note Pendidikan Penghapusan praktik P2GP yang telah dirumuskan oleh Komnas Perempuan bersama Tim Penulis dari Pakar Kesehatan, Kemenag, dan Kemdikbud; 2) Menghimpun masukan-masukan dari pemangku kepentingan yang lebih luas untuk menghasilkan konsep note yang lebih komprehensif; 3) Membangun kesepakatan bersama para pemangku kepentingan dalam upaya penghapusan praktek P2GP di Indonesia.

Sedangkan hasil yang diharapkan, adalah: 1) Workshop dihadiri oleh pemangku kepentingan yang terkait seperti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, KPPA, MUI, Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia, para ahli, serta organisasi masyarakat yang konsen dengan isu P2GP.

2) Ada pembahasan konsep dari para pakar dan peserta workshop yang menghasilakan masukan untuk penyempurnaan konsep note; 3) Terbangunnya kesepakatan atau komitmen bersama para pemangku kepentingan dalam upaya penghapusan praktek P2GP di Indonesia.

Workshop ini merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian PPSK UGM dan Komnas Perempuan baik secara kualitatif maupun kuantitatif mengenai P2GP di sepuluh propinsi di Indonesia yang hasilnya sudah diseminarkan pada 2017.
 
Komnas perempuan menilai, bahwa dalam perspektif hak asasi perempuan, praktik P2GP merupakan salah satu pelanggaran hak asasi perempuan dan pelanggaran hak-hak seksual dan reproduksi, karena praktik ini dapat membahayakan kesehatan.

Mendapat kesempatan mengikuti kegiatan ini, Ustadz Agus menyatakan: “al-Hamdulillah bisa mengikuti kegiatan tersebut. Ini merupakan bagian dari upaya menambah wawasan dan keilmuan terkait P2GP atau kalau istilah di sini itu sunat perempuan.”[red]


Kategori: Berita

Mahasiswa/i UPN Jakarta Beri Motivasi Santri

Santri-santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten mendapat siraman motivasi pendidikan dan leadership dari mahasiswa/i Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Rabu, 8 Agustus 2018 pagi.

Bertempat di Majelis Putera Qothrotul Falah, kegiatan bertema “Seminar Motivasi dan Leadership” ini, selain dihadiri oleh mahasiswa/i KKN, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan pesantren seperti Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Agus F. Awaluddin, S.Pd., dan dewan guru lainnya.

Dalam sambutan singkatnya, Agus F. Awaluddin menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepercayaan Peserta KKN untuk mengadakan kegiatan di lembaganya. “Inilah Pondok Pesantren Qothrotul Falah dengan segala keterbatasannya. Mohon dimaklum atas kekurangan yang ada, baik kekurangan fasilitas maupun selainnya,” katanya.

Sekilas, Agus juga menyampaikan kegiatan santri selama 24 jam. “Pesantren ini sudah full day. Mereka menjalani kegiatan dari pagi sampai pagi lagi, baik sekolah, ngaji, maupun ekstrakuriler,” ujarnya.

Motivasi pendidikan disampaikan oleh Fauzan Ramdani, mahasiswa Jurusan Sistem Informatika. Dikatakannya, kegiatan KKN ini sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pembelajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.
 
“KKN ini bentuk pengabdian pada masyarakat. Diantaranya melalui kegiatan pemberian motivasi pada siswa dan siswi ini,” ujarnya.

Dikatakannya, berdasarkan angka Badan Pusat Statistik (BPS), Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan di Indonesia tergolong rendah dibanding negara-negara lain, termasuk negara tetangga. “Untuk usia 19-24 tahun atau usia kuliah, APK-nya 31,5 %. Bandingkan dengan Malaysya 38 % dan Singapura 78 %. Kita tertinggal,” ujarnya.

Ketertinggalan ini harus dikejar. Untuk itu, partisipasi pendidikan harus terus ditingkatkan. “Pendidikan itu penting dan harus sesuai dengan yang diminati. Kalau nggak, ya nggak akan lancar,” katanya.

Juga dikatakannya, alasan mahasiswa/i KKN memberikan motivasi pendidikan untuk siswa/siswi tak lain karena tingkat pendidikan di negeri ini yang rendah. “Karena itulah, kegiatan ini penting diselenggarakan,” ungkapnya.

Menurut Fauzan, banyak alasan yang menjadi sebab rendahnya partisipasi pendidikan ini, termasuk mahalnya pembiayaan. Ia lalu menyampaikan potensi atau peluang beasiswa baik dalam negeri maupun luar negeri, yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Dan yang terpenting, untuk meraih semua itu, kita harus giat belajar, lakukan kegiatan positif, pantang menyerah dan terus berdoa,” katanya menutup penyampaian motivasi.

Selama 19 hari, 1-19 Agustus 2018, sejumlah 15 mahasiswa/i menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Sumurbandung Cikulur Lebak Banten. Mereka terdiri dari mahasiswa/i beragam fakultas; Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Komputer dan sebagainya. Berbagai agenda mereka lakukan, baik yang terkait pendidikan maupun kegiatan sosial.[nhm]