Kategori: Berita

Kandidat Ketua Perang Visi-Misi

Beberapa hari ini, santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten mempunyai pekerjaan yang riuh dan menghibur, yakni kampanye calon ketua Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Masa Khidmat 2017-2018.

Setelah usai Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus OPPQ Masa Khidmat 2016-2017 Kamis-Jum’at pekan lalu, kampanye untuk calon-calon ketua baru digelar meriah.

Dari pihak santri putera, tiga calon bersaing serius: Jumhadi Rasyid, Muhammad Firman dan Encep Hidayat. Sedangkan calon ketua puteri hanya Tatu Aisyah dan Ropiyanah, karena satu calon mengundurkan diri.

Ibarat Pemilu sungguhan, mereka juga memiliki jadual kampanye, tim sukses dan pengikut yang militan. Oleh Ketua Komisi Pemilihan Ketua Santri (KPKS) Muh. Eman Sulaiman, pemilu santri kali ini sengaja disetting semeriah dan sebaik mungkin untuk “menyaingi” pemilihan Gubernur atau Presiden.

“Kita ingin mendapapatkan kualitas pemilihan dan ketua yang benar-benar bagus sesuai harapan kita semua,” ujarnya.

Untuk jadual kampanye, Ketua KPKS sudah menjadualkan sedemikian rupa, tanpa mengganggu kegiatan KBM maupun kepesantrenan lainnya. Spanduk, tempelan-tempelan, panggung kampanye untuk menyampaikan visi dan misi, dll, semua telah diatur.

“Pemilihannya sendiri akan dilakukan dengan pencoblosan, insya Allah pada 10 Februari 2017,” ujarnya. “Semoga lancar dan mohon dukungan dari semua pihak,” sambungnya.

Rencananya, Kamis malam pekan ini juga akan diselenggarakan debat kandidat untuk membedah visi dan misi para calon, sehingga para santri benar-benar mantap menetapkan pilihannya.

Semoga saja, proses pemilihannya berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin yang terbaik buat santri dan pesantren ini.[]

Kategori: Berita

Pelaksanaan Gebyar OPPQ 2017 Meriah

Di ujung kepengurusannya, Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Periode 2016-2017 menggelar kegiatan besar OPPQ Award. Dua kegiatan dilaksanakan selama dua hari, 18-19 Januari 2017, yaitu lomba pidato antarpemenang muhadharah pekanan dan OPPQ Award.  Tema yang diusung adalah Together to be Amazing.

Pada lomba pidato yang diselenggarakan Rabu, 18 Januari 2017 malam, sekurangnya delapan peserta mengikutinya. Baik yang menggunakan bahasa pengantar Arab, Inggris, Indonesia maupun Sunda. Mereka tampil mengejutkan. Dengan pakaian yang berbeda dari biasanya, intonasi yang lebih baik plus mimik dan materi yang sudah dipersiapan, mereka tampil meriah dan mengejutkan.

Di hadapan para guru dan para santri, mereka tampil percaya diri dan penuh kesemangatan. Bahkan beberapa santri yang dinilai tak terbiasa tampil dan dinilai minor, bahkan bikin beberapa guru berdecak kagum. Sebut saja Manarul Hidayat. Siswa Kelas XI SMA Qothrotul Falah yang sering bolos dan tertidur di kelas ini, begitu memukau penampilannya yang membawakan bahasa Sunda.

“Bisa jadi yang begini, yang suka tidur dan malas-malasan malah yang kelah menjadi dai terkenal dan banyak keliling untuk ceramah,” respon beberapa guru yang menonton. “Manarul, ente top. Terus kembangkan ya biar jadi dai hebat,” ujar yang lain menyemangatinya usai tampil. Iapun mendapat juara saat itu.

Di hari kedua diselenggarakan OPPQ Award, sebagai ajang penghargaan bagi para santri dan pengurus yang berprestasi. Ada yang mendapat predikat santri atau pengurus terajin, teraktif, terdisiplin, terbaca, termalas, terkabur dan seterusnya.

“Kegiatan ini hanya ajang hiburan sebetulnya. Semoga saja bisa menjadi semangat, catatan, atau kritik yang membangun bagi pada santri lainnya,” ujar Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Ponpes Qothrotul Falah, Nurul H. Maarif.

Inilah akhir masa kepengurusan mereka. Akhir Januari 2017 ini akan diselenggarakan laporan pertanggungjawaban. Setelah ini, selama dua pekan, mereka off dari kepengurusan. Pada pekan pertama  Februari, akan diselenggarakan Pemilu Santri, yang akan memilih Ketua OPPQ Putera dan Puteri Periode 2016-2017.

Semoga saja semuanya berjalan lancar dan memberikan nilai-nilai pembelajaran penting bagi seluruh komponen pesantren.[nhm]

Kategori: Berita

Professor Melepas Status Jomblonya

Salah satu guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten asal Pandeglang, Ustadz Agus Faiz Awaluddin, S.Pd., akhirnya mengakhiri masa jomblonya yang telah dijalaninya dengan penuh kesabaran selama 30 tahun, setelah menikahi Tuti Uluwiyyah, S.Pd., gadis Simpati Cikulur Lebak, Sabtu, 7 Januari 2017.  

Ustadz Agus, yang oleh para santri dijuluki “Sang Professor”, ini tampak sumringah menjalani prosesi pernikahannya. Tanpa kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia, ia didampingi oleh paman-paman dan adik-adiknya. Termasuk juga didampingi oleh Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH. Achmad Syatibi Hambali dan Isteri, Hj. Siti Amah. Guru-guru juga tampak ramai mengawal konvoi.

Prosesi pernikahan ini sendiri dipandu oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kec. Cikulur, Aminin Nurdin. Bertindak selaku MC Ubaidilillah, M.Si. Penyerahan dari pihak mempelai laki-laki disampaikan oleh Anggota DPRD Kab. Lebak Acep Dimyati, S.E. dan penerimaan oleh Yayan, M.Pd.

Sedangkan pembacaan ayat suci al-Quran oleh Ustadz Aa Hidayat, S.Ag. Prosesi nikah sendiri dilakukan langsung oleh orang tua mempelai wanita, Rais, S.Ag. Lafal qabul diucapkan “Professor” dengan tegas layaknya seorang danton dengan memimpin pasukan Paskibra.

Menanggapi pernikahannya, “Professor” tampak bergembira. Senyumnya terus mengembang sepanjang prosesi pernikahan. “Maklum, sudah 30 tahun menunggu pasangan dan baru kali ini laku sekali-kalinya,” ujar Uyun Rika Uyuni tertawa, shahabat akrab sekaligus mantan siswanya di SMA Qothrotul Falah.

“Siapa yang tidak bahagia menjadi raja seharian penuh. Semua pandangan mata menatap bangga padanya dan juga aneh, kok bisa laku,” ujar Cahyati, shahabat yang lainnya, tertawa-tawa.

Sebagai ungkapan kebahagiaan, bahkan Bendahara Pondok Pesantren Bunda Saadah dan Ustadzah Komalasari turut menyumbangkan lagu Pengantin Baru, yang disadur dari Nasidaria. Lalu dilanjut oleh lagu-lagu gambus hingga sore harinya.

Ustadz Agus sendiri menyampaikan terima kasihnya yang mendalam kepada seluruh handai- taulan yang turut menyukseskan pernikahannya. “Terima kasih kepada pondok, terutama Abi dan Umi, juga para guru. Merekalah yang mensupport saya hingga semua berjalan lancar,” katanya kira-kira. “Juga kepada comblang saya, saya sampaikan terima kasih,” kira-kira begitu sambungannya.

Beberapa hari setelah prosesi pernikahan, “Professor” yang memiliki berbagai keahlian keilmuan dan skill kepaskribaan ini ingin istirahat mengajar untuk fokus berbulan madu. “Ya, senang-senang sedikit dan semoga lekas mendapat momongan,” begitu kira-kita perasaannya.

Semoga Professor Agus dan Bu Ntu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Segera mendapatkan momongan, bahkan segera mendapatkan cucu yang unyu-unyu.[nhm]