Dua Siswa Tidak Diikutkan Ujian Akhir Smester

Santri-santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, baik yang MTs maupun SMA tengah menjalani Ujian Akhir Smester (UAS) Genap Tahun Pelajaran 2014-2015, selama tujuh hari, 25 s.d. 31 Mei 2015. Sebelum menjalani ujian final ini, mereka juga menjalani Ujian Lisan (UL) selama tiga hari, 21 s.d. 23 Mei 2015.

“Ujian Lisan ini dimaksudkan untuk menguji kemampuan Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan ibadah amaliah para santri. Ini selalu diselenggarakan menjelang UAS dan sudah menjadi tradisi di lembaga ini,” kata Ketua Panitia UAS Genap, Ustadz Ahmad Turmudzi.

Dikatakan Mahasiswa S2 Untirta Serang ini, untuk Pondok Pesantren Qothrotul Falah, ujian lisan menjadi syarat utama keikutsertaan siswa pada UAS tulis. “Ini menjadi syarat utama di pesantren kami. Dan ini menjadi ketentuan baku. Entahlah kalau di sekolah lain,” ujarnya.

Karena itu, ujarnya, jika ada siswa yang tidak mengikuti ujian lisan tanpa keterangan apapun, maka siswa yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti ujian inti. “Bagi yang sudah ujian lisan dan dinyatakan tidak lulus, maka ada kesempatan remedial hingga dinyatakan lulus dan panitia akan stand by melayani mereka. Bagi yang sama sekali tidak ikut karena menyepelekan aturan, maka lembaga akan tegas atas aturan ini,” jelasnya.

Untuk UAS kali ini, jelasnya lagi, ada dua siswa SMA Qothrotul Falah yang tidak diikutsertakan dalam UAS inti. “Ya, dua siswa tidak kami ikutkan UAS. Ada yang tidak diikutkan UAS selama dua hari dan ada yang empat hari,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini tergantung pada jumlah mata pelajaran yang tidak diikuti dalam ujian lisan. “Sesuai aturan yang sudah kami beritahukan sebelumnya pada para siswa dan kami sepakati di internal kepanitiaan, maka yang tidak ikut satu materi ujian lisan sanksinya dua hari tidak diikutkan UAS dan begitu kelipatannya,” katanya. “Silahkan nanti diurus sesuai prosedur yang berlaku,” imbuhnya.

Biasanya, lanjutnya, ketidakikutsertaan mereka karena menyepelekan aturan dan menganggap ujian lisan tidak penting. “Itu yang sering terjadi. Kami sudah memberi kesempatan seluas-luasnya, namun ada saja satu dua anak yang menyepelekan sehingga merasa tidak perlu mengikuti ujian lisan. Dan kami akan berusaha tegas atas tindakan indisipliner ini,” ujarnya.

Harapannya, dengan ketegasan demikian, maka aturan lembaga akan dihormati dan siswa-siswi betul-betul terpacu untuk lolos dari ujian lisan sehingga bisa bergabung di ujian tulisan. “Ini semata untuk memacu keseriusan anak dan ke depan insya Allah akan terus ditingkatkan keseriusan kami dalam menata lembaga pendidikan ini,” ujarnya.

“Oh ya, dan surat resmi ketidakikutsertaan mereka juga kami buat untuk orang tua mereka, sehingga ada komunikasi antara kedua belah pihak,” katanya lagi.

Ute – sapaan akrabnya – berharap ujian akhir kali ini berbeda dari yang sebelumnya. “Kita akan terus berbenah dari sisi mutu dan kualitas, apalagi ini menyangkut kenaikan kelas. Dan mudah-mudahan semua berjalan lancar,” harapnya.[nhm]