Santri Peace Leader Adakan Workshop Perdamaian

Santri Peace Leader Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten menyelenggarakan Workshop Perdamaian bertema “Kita Beda, Tapi Kita Kompak”, Senin, 23 Februari 2015, di Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

“Kegiatan ini merupakan program lanjutan dari kegiatan yang diselenggarakan di Puncak Bogor tahun lalu. Kegiatan ini bekerja sama dengan Search for Common Ground (SFCG) Indonesia,” jelas Ketua Panitia Pelaksana, Uyun Rika Uyuni.

Sebelum menyelenggarakan kegiatan ini, ujar Penyiar Radio Qi FM 107.07 ini, Santri Peace Leader yang terdiri dari Uyun R. Uyuni, Cahyati, Fitriyah, Andri Fauzi dan M.E. Sulaeman ini juga menyelenggarakan kegiatan lain, semisal lomba pidato perdamaian, dialog perdamaian dan sebagainya.

Dikatakan siswi Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah yang juga Aktivis Halqah Triple Ing Community (Triping.Com), untuk kegiatan workshop ini pesertanya adalah siswa-siswi SMP/MTs se-Kec. Cikulur, Kec. Warunggunung dan Kec. Cileles.  “al-Hamdulillah, peserta yang hadir tampak senang dan antusias. Bahkan dari mereka ada yang terus menjalin komunikasi dengan kami melalui FB, dan bilang bahwa acaranya seru,” jelas Aktivis Pondok Baca Qi Falah ini. Game-game perdamaian juga menjadi menu penting kegiatan ini.

Apa tujuan penyelenggaraan kegiatan yang pematerinya anak-anak Peace Leader ini sendiri? kepada www.qothrotulfalah.com, Uyun menyatakan, tujuannya adalah untuk menjalin silaturahim antar siswa MTs/SMP terkait isu saling menghargai antar perbedaan.

“Ini untuk menjalankan visi misi perdamaian Peace Leader, karena agenda jangka panjangnya adalah menanamkan sikap toleransi pada diri peserta yang berasal dari kalangan remaja itu, ujarnya.

“Selain itu, melalui kegiatani ini harapannya para peserta bisa memandang perbedaan secara lebih baik, bahwa ternyata tidak semua perbedaan itu bisa menimbulkan konflik, karena konflik itu sifatnya netral,” terangnya.

Dalam sambutan pembukanya, Ustadz Ahmad Turmudzi selaku Pembina Peace Leader Qothrotul Falah menyatakan, selaku makhluk hidup, sudah semestinya kita saling menghargai satu sama lain kendati latar belakangnya berbeda.

“Kita ini sama-sama manusia, yang harus saling menghargai. Jangan sampai perbedaan menjadikan kita saling bermusuhan. Karena itulah, kegiatan ini diselenggarakan. Mudah-mudahan saja, melalui kegiatan ini, kita jadi lebih menghargai orang lain sebagai makhluk Allah kendati ada perbedaan, baik agama, suku maupun selainnya,” ujarnya sembari menyampaikan terima kasihnya pada SFCG Indonesia.

Pranadipa, yang hadir pada kegiatan ini mewakili SFCG Indonesia, menyampaikan apresiasinya. “Acaranya lebih hidup dan anak-anak Peace Leader bisa menerapkan apa yang mereka dapatkan di Puncak Bogor,” ujarnya.[nhm]