Miss Eneng Atikoh: Raih Beasiswa dengan Usaha dan Doa

Beasiswa adalah anugerah terindah bagi mahasiswa. Tak banyak yang mendapatkannya, kecuali mereka yang beruntung dan siap sedia. Diantara yang beruntung adalah Miss Eneng Atikoh Syatibi, Puteri Keempat Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, KH. Achmad Syatibi Hambali.

Direktur Radio Qi FM 107.07 yang juga alumni IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten ini berhasil menyisihkan competitor lain untuk mendapatkan Beasiswa Tokyo Foundation. Mojang asli Lebak Banten inipun kini sibuk menjalani Program S2 Konsentrasi Menejemen Pendidikan Tinggi di Universitas Gajdah Mada (UGM) Yogyakarta Tahun Ajaran 2014-2015.

Bagaimana pandangannya tentang beasiswa yang diterimanya dan apa rencananya ke depan usai menyelesaikan kuliahnya? Berikut wawancara www.qothrotulfalah.com dengan penulis buku Renungan Santri (dkk) ini, 16 Desember 2014.

Anda kuliah Master (S2) di UGM untuk program Menejemen Pendidikan Tinggi. Anda mendapat beasiswa penuh. Bisa diceritakan, beasiswa itu dari mana dan pembiayaan apa saja yang Anda dapatkan?

Beasiswa yang saya dapatkan dari Tokyo Foundation yang bekerjasama dengan UGM. Nama beasiswanya Sashakawa Young Leader Fellowship Fund (SYLFF). Beasiswa ini meng-cover seluruh kebutuhan mahasiswa saat kuliah selama dua tahun, mencakup SPP (at cost), biaya hidup, biaya buku dan print, dan biaya penelitian.

Bagaimana perasaan Anda mendapat beasiswa ini?


Saya sangat bersyukur, menjadi satu dari dua mahasiswa UGM yang mendapatkan beasiswa ini. Beasiswa ini menjadi motivasi untuk belajar lebih baik lagi, karena hal ini harus saya pertaggungjawabkan tidak hanya pada keluarga, tapi juga kepada pemberi beasiswa  yaitu Tokyo Foundation dan juga UGM yang sudah memilih saya mendapatkan beasiswa ini. Semoga ini tidak hanya jadi motivasi saya, tapi juga jadi motivasi seluruh santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah untuk belajar lebih giat lagi.

Usaha-usaha apa saja yang Anda lakukan, sehingga terpilih mendapatkan beasiswa ini?


Hal  yang harus dilakukan adalah usaha dan doa. Untuk mendapatkan beasiswa ini atau apapun yang kita inginkan, harus dengan usaha dan doa, tapi keduanya butuh waktu. Contohnya, salah satu persyaratan beasiswa adalah kemampuan Bahasa Inggris Toefl/Ielts. Untuk menguasai bahasa ini kita butuh waktu. Tidak cukup hanya sehari dua hari. Semuanya tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi butuh proses. Oleh karena itu, untuk seluruh santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah sebaiknya belajar dari sekarang dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Berapa peserta yang menjalani seleksi beasiswa ini?

Tepatnya saya tidak tahu berapa banyak yang mendaftar beasiswa ini, karena jadwal interview yang berbeda-beda yang diikuti setiap pendaftaranya.

Apa pesan anda untuk santri-santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah?

Pesan saya untuk santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah, belajarlah dengan sunggung-sungguh. Aktif, tidak hanya dalam ruang kelas, tapi juga aktif di luar ruang kelas (berorganisasi).  Dalami apa yang menjadi hobi kalian, bekali diri dengan kemampuan-kemampuan positif. Dan yang terakhir, ikhlas.   

Setelah Anda menyelesaikan studi ini, apa yang ingin Anda lakukan untuk pondok?

Setelah menyelesaikan tugas belajar ini harapan saya bisa kembali ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah, mengaplikasikan apa yang saya dapatkan selama kuliah di sana. Bersama-Sama memperbaiki kualitas Pondok Pesantren Qothrotul Falah, sehingga ia dapat menjadi pusat contoh pesantren yang berkualitas di Banten, menghasilkan santri-santri yang unggul, yang bermanfaat di masyarakat.[nhm]