Temu Wali Santri; Mengurai Budaya Nyalindung Ka Geulung

Pengelola MTs/SMA Qothrotul Falah mengadakan silaturahim dengan wali santri kelas IX MTs dan XII IPA/IPS SMA Qothrotul Falah, bertempat di Majelis Puteri Qothrotul Falah, Ahad, 7 Desember 2014 pagi.

Kegiatan yang diniatkan untuk memusyawarahkan persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN) 2014/2015 ini dihadiri Kepala MTs Qothrotul Falah, Tanto Haryanto, S.Si., Kepala SMA Qothrotul Falah, Nurul H. Maarif, Waka Kurikulum Drs. Rakhmat Arif Ibrahim dan Bendahara Dede Saadah, S.Th.I. Selain wali santri, hadir juga santri yang hendak menjalankan UN tahun depan.

Pak Tanto selaku Kepala MTs Qothrotul Falah menyampaikan pengantar perihal tujuan utama pertemuan ini. “Selain untuk silaturahim dengan wali santri, kegiatan ini diniatkan untuk menyongsong pelaksanaan Ujian Nasional tahun depan. Semoga dengan bersilaturahim, kesiapan anak-anak kita semakin baik lagi,” ujarnya.

Detail-detail penyelenggaraan Ujian Nasional, menyangkut sistem kelulusan, jadual pelaksanaan dan sebagainya, diuraikan oleh Pak Rakhmat.

“Semoga saja, anak-anak kita mendapatkan predikat terbaik pada ujian nasional yang akan datang. Mudah-mudahan, hal-hal teknis bisa berjalan dengan lancar. Kami selaku lembaga juga akan menyiapkan anak-anak semaksimalnya, melalui bimbingan belajar maupun pengayaan lainnya,” ujarnya.

Hal-hal terkait kebutuhan penganggaraan kegiatan Ujian Nasional banyak disampaikan oleh Bunda Dede Saadah. “Selain penganggaran UN, kita juga perlu menyiapkan anggaran untuk wisuda anak-anak kita nanti. Mereka ingin wisudanya lebih meriah dibanding sebelumnya. Saya nitip pada anak-anak, jangan memaksakan diri secara berlebih, sehingga orang tua kita malah kesulitan. Sesederhan mungkin namun tetap khidmat,” katanya berharap.

Kepala SMA Qothrotul Falah, NHM, lebih  banyak menghandel kegiatan dialog antara wali siswa dengan pihak pengelola. Diantara isu dialog yang mengemuka adalah perihal kelanjutan studi mereka setelah usai dari SMA Qothrotul Falah.

NHM berharap, para wali santri memberikan keleluasaan anak-anaknya untuk memilih perguruan tinggi yang dinilainya terbaik dan diidolainya. Atau bahkan untuk melanjutkan pesantrennya. “Nggak sekolah nggak masalah, asalkan terus belajar,” katanya.

“Tugas kita sebagai orang tua adalah mendorong mereka sebisanya. Jangan sampai keinginan mereka patah, karena kita kurang kepedulian. Okelah, mungkin banyak diantara kita yang kesulitan ekonomi. Namun bukan berarti kesulitan ekonomi itu lantas kita jadikan alasan untuk mematahkan semangat anak. Kendati sulit ekonomi, tetap saja kita katakan: mau kuliah ke mana, nak? Ayah ibu mendukungmu,” katanya berharap.

NHM menyatakan hal ini, sebab banyak anak-anak yang tidak berani berharap karena orang tuanya yang sering mematahkan semangat mereka. Yang tak kalah penting, imbuhnya, jangan melarang anak untuk mengembara ke manapun, termasuk ke tampat yang sangat jauh.

“Anak panah akan menancap ke sasaran jika dilepaskan dari busurnya,” ujarnya.

Karena itu, biarkan saja mereka mau melangkah ke manapun, asalkan dalam koridor yang positif. Nemun demikian, NHM mengakui, tradisi di sekitar lembaganya masih sulit melepaskan anak untuk pergi jauh menuntut ilmu. Ada yang takut kelak anaknya makan apa, kos di mana, temannya siapa, tidurnya bagaimana dan sebagainya.

“Setelah saya pelajari, ternyata di masyarakat kita ada tradisi ‘nyalindung ka geulung’. Anak nggak mau jauh dari orang tua dan orang tua nggak rela anak jauh darinya. Mudah-mudahan kita bisa melepaskan diri dari tradisi ini,” katanya diiyakan oleh para wali santri.

Tak hanya itu, NHM lantas bercerita perihal beberapa anak didiknya yang dilarang bersekolah di luar Lebak. “Ada yang dapat beasiswa ke Serpong, itu saja dilarang karena dinilai kejauhan. Ke Serang dilarang, juga karena dianggap kejauhan. Lalu, anak-anak kita akan dibiarkan di lingkungan ini saja?” ujarnya.

Di akhir kegiatan, NHM meminta tiga anak didiknya untuk menyampaikan harapannya setelah selesai sekolah dari lembaga ini. Banyak diantara yang hadir menitikkan air mata melihat semangat mereka yang tinggi, namun diakui banyak kendala ekonomi keluarganya.

Semoga saja, anak-anak kita semua mendapatkan pendidikan sesuai cita-citanya, tanpa terbebani oleh budaya nyalindung ka geulung.[enha]