16 Santri Ikuti Pendidikan Bela Negara

Sejumlah enam belas santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten mengikuti Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) yang diselenggarakan oleh TNI AD Banten, di Korem 064 Maulana Yusuf Ciuyah Lebak Banten, Selasa-Jum’at (25-29 Agustus 2015).

Keenambelas santri itu seluruhnya siswa-siswi SMA Qothrotul Falah. Mereka adalah TB Ahmad Munawir, Rijal Bakri, Jayadi Saputra, Asep Komarudin, Ahmad Harun, Muh. Sofiyan, Asep Saefullah, Sahrudin, Afriadi, Erwin Saputra, Nur Halimah, Ayu Astuti, Iis Ismawati, Shofi Maulidia, Suheni dan Mutmainnah. Secara keseluruhan, pesertanya terdiri siswa dan santri se-Banten yang berjumlah 989 orang.

Selama empat hari di lokasi, para peserta mendapatkan pembekalan materi dari nara sumber yang kompeten di bidangnya, baik dari kalangan kiai pesantren, akademisi maupun militer.

“Kita diberi materi tentang bahaya narkoba, sejarah pesantren kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan materi lain yang terkait bela negara,” kata Asep Komarudin, Siswa Kelas XI IPS SMA Qothrotul Falah asal Cileles Lebak.

“Pematerinya dari unsur pesantren, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP), unsur Badan Narkotika Nasional (BNN) dan sebagainya,” sambung Munawir, Siswa Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah, asal Serang Banten.

Disampaikan Sahrudin, Siswa Kelas X SMA Qothrotul Falah asal Cikulur Lebak, kegiatan ini secara umum sangat menyenangkan. “Walaupun tidurnya di barak tentara dan dan makan ala tentara. Kita dilatih untuk hidup sederna, bersahaja dan disiplin tinggi,” jelasnya.

Para peserta, misalnya, juga mendapatkan informasi tentang pengambilalihan pulau-pulau di Indonesia oleh negara tetangga. “Kita jadi memahami, ternyata negara Indonesia senantiasa menjadi incaran negara-negara lain. Karena itu, tugas kita sebagai generasi muda penerus bangsa adalah melindungi kedaulatan negeri ini (NKRI) dengan sekuat tenaga,” ujar Munawir.

“Negara ini juga sekarang dijajah bukan secara fisik, tapi secara meteri, narkoba, budaya, dan sebagainya, oleh negara-negara lain” kata Sahrudin, Munawir dan Asep kompak. “Untuk itu Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) ini sangat penting bagi generasi muda,” ujar Munawir.

Bagi pesantren, yang memiliki akar panjang dalam sejarang kemerdekaan Negara Indonesia, NKRI adalah harga mati. Dulu, Resolusi Jihad melawan penjajah juga digelorakan dari pesantren oleh KH. Hasyim Asyari Jombang.

“Inilah relevansi pesantren atau santri mengikuti kegiatan PPBN ini,” sambung Sahrudin.[nhm]