Pesantren Qothrotul Falah Tanamkan Jiwa Toleransi

BANTEN, SATUHARAPAN.COM - Peringatan Sumpah Pemuda memiliki makna tersendiri bagi setiap individu, tak terkecuali bagi Cahyati (19), mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, IAIN Sultan Maulana Hasanudin Banten.

Peringatan yang digelar dengan kreativitas dan semangat tinggi, menurut santri dari Pondok Pesantren Qothrotul Falah, di Sumur Bandung, Rangkasbitung ini, belum menjadi ukuran seseorang membuktikan kedalamannya dalam memaknainya. Peringatan Sumpah Pemuda akan terasa lebih bermakna apabila pemuda juga mewujudkankannya dengan membuktikan prestasi, di bidang akademik maupun nonakademik.

Cahyati mengemukakan, pesantren pun mewujudkan makna Sumpah Pemuda itu dengan menanamkan jiwa toleransi dalam setiap jiwa santrinya. “Kami dibimbing agar bisa hidup dengan penuh kerukunan atas segala perbedaan yang ada, baik itu perbedaan agama, budaya, bahasa, dan yang lainnya,” kata Cahyati, peace leader Qothrotul Falah.

Santri Qothrotul Falah juga dibimbing untuk bisa selalu berpikir damai dan bertindak damai. “Bersama-sama menyatukan satu misi yang sama, yaitu keemasan Indonesia,” demikian meminjam istilahnya.

Pesantren Qothrotul Falah, kata Cahyati, tidak hanya mengedepankan pengajaran agama, baik kitab kuning, Al-Quran, Fiqih, dan lainnya. Pesantren itu juga mengajarkan tentang kebinekaan negara ini.

“Pihak pesantren menyadari betul akan pentingnya menanamkan nasionalisme dalam diri santri, sehingga terciptanya generasi penerus bangsa yang tak hanya unggul dalam spiritualitas dan intelektualitas, namun juga berjiwa nasionalis,” kata Cahyati yang aktif di Triple Ing Community (Triping.com), dan menjadi kru dokumenter serta penyiar radio ini.

Demi mewujudkan pesantren menyiapkan pemuda-pemuda agar mandiri dan membangun negara ini dengan lebih baik di masa datang, Qothrotul Falah terus berikhtiar membimbing santri di bidang agama, ilmu umum, serta memberikan fasilitas dalam bimbingan literasi, multimedia, dan lainnya. Dari semua aspek itulah, menurut Cahyati, diharapkan terciptanya generasi yang memang siap menjadikan negara ini lebih baik. Generasi muda yang tangguh, berkualitas dalam segala bidang, serta yang terpenting mempunyai moral atau budi pekerti yang baik.

“Sebagai santri, secara pribadi pun saya menilai dan merasakan bahwa pesantren tak hanya menjadi tempat untuk menimba ilmu pengetahuan. Pesantren juga menjadi tempat untuk belajar makna kehidupan,” Cahyati menambahkan, “Bagaimana kita menjadi pribadi yang mandiri, toleransi, bekerja sama, dan saling mengajak kepada kebaikan, yang semua itu pasti akan terasa bermanfaat dan dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat.”

Cahyati tidak menyangkal begitu deras arus budaya luar masuk. Namun, Pesantren Qothrotul Falah punya cara menangkalnya. “Pesantren memberikan pemahaman agama yang baik. Saya kira yang harus diperkuat lebih awal adalah pribadi masing-masing. Jika iman dan takwa sudah diraih, kemudian kesadaran akan pentingnya menjaga buadaya sendiri dilengkapi dengan kecerdasan dan keahlian yang dimiliki, maka pribadi yang seperti inilah yang kelak menjadi pemuda yang disebut sebagai generasi penerus bangsa,” kata Cahyati, penerima beasiswa Bidik Misi Kemdikbud.

Editor : Sotyati

(Sumber: http://www.satuharapan.com/read-detail/read/pesantren-qothrotul-falah-tanamkan-jiwa-toleransi)