Ingin Kuasai Kitab, Santri Bikin Klub Nahwu

Puluhan santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah yang tergabung dalam Komunitas Nahdhatu Ulum al-Nahw (NUN) terlihat khidmat mengikuti rangkaian kegiatan workshop yang diadakan selama empat malam, Ahad-Rabu (15-18/11/15) di Pondok Baca Qi Falah.

Workshop yang berlangsung dari mulai pukul 22.00 s.d. 23.30 ini mengambil tema Mengakrabi Kitab Kuning Melalui Nahwu-Sharaf. “Kegiatan ini diadakan untuk memotivasi santri dalam belajar nahwu,” ujar Sekretaris Panitia Workshop, Cahyati.

Dikatakan Cahyati, peserta workshop bukanlah sembarang santri. “Pesertanya adalah santri yang lolos seleksi dalam perekrutan anggota klub nahwu-sharaf,” jelasnya. “Dari 67 santri yang mengikuti seleksi, 23 santri dinyatakan lolos,” imbuhnya.

Klub nahwu-sharaf yang disebut secara asyik dengan Komunitas NUN ini, berdiri pada 10 November 2015 bertepatan dengan hari Pahlawan Nasional. “Ini mengibaratkan semangat anggota komunitas NUN dalam mempelajari ilmu nahwu dan sharaf,” jelasnya.

Untuk itu, mengingat pentingnya menguasai ilmu nahwu-sharaf sebagai landasan dasar mempelajari ajaran Islam, panitia workshop menyiapkan rangkaian acara dengan sebaik mungkin dalam jangka waktu yang cukup singkat. “Materi-materi yang disuguhkan pun beragam dan disampaikan oleh para ustadz yang paham di bidang ini,” kata Mahasiswa Jurusan KPI IAIN Sulhas Banten ini.

Di malam pertama, Ustadz Muhammad Subhan mengawali materi dengan judul Urgensi Nahwu dalam Penguasaan Kitab Kuning. Malam selanjutnya Ustadz Agus F. Awaludin menyampaikan mengenai ketidakmungkinan membaca kitab kuning tanpa mempelajari ilmu sharaf. Disambung oleh Ustadz Agus Maulana tentang Kuasai Kitab Kuning, Kuasai Ilmu Keislaman.

Selanjutnya, karena Bahasa Arab dinilai penting dalam penguasaan ilmu keislaman, maka panitia juga menghadirkan Ustadz Deden Faturrohman yang baru-baru ini telah secara khusus mempelajari Bahasa Arab di Pare-Kediri. Ia menyampaikan materi Urgensi Penguasaan Bahasa Arab.

Di malam terakhir, kegiatan workshop ditutup dengan materi Selintas Program Klub Nahwu-Sharaf Qothrotul Falah, yang disampaikan oleh Ustadz Nurul H. Ma’arif dan disambung dengan tanda tangan kontrak keanggongatan Komunitas NUN. “Perlu ada kontrak biar mereka belajarnya benar-benar serius, karena kita ingin ada target yang jelas,” ujar Nurul H. Maarif, saat itu.

Harapannya, kegiatan workshop ini menambah pemahaman santri terhadap ilmu nahwu-sharaf dan dapat membangkitkan semangat santri untuk mempelajarinya lebih dalam. Muhammad Sofiyan, santri Kelas XI IPA SMA Qothrotul Falah mengungkapkan rasa bahagianya bisa tergabung dalam Komunitas NUN.

 “Saya merasa senang, karena saya sangat ingin mendalami ilmu nahwu-sharaf. Harapan saya dari awal masuk pesantren ini saya bisa membaca kitab dan mengartikan kitab kuning,” ujar Ketua Geespe (Gerakan Santri Peduli) ini dengan wajah berbinar-binar.

“Saya mendapat motivasi untuk mempelajari ilmu nahwu. Dan saya menyadari bahwa bahasa Arabpun ternyata harus dikuasai untuk bisa mempelajari ilmu nahwu-sharaf,” sambungnya saat diminta tanggapan mengenai kegiatan workshop itu.

Semoga, Komunitas NUN di Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini semakin menambah bobot intelektual santri. Ke depan juga semakin banyak santri yang mampu menguasai kitab kuning, baik dalam membaca maupun memahaminya. “Santri yang tergabung dalam komunitas ini mudah-mudahan bisa istikomah,” kata Ustadz Agus F. Awaluddin.[yat]