Santri Ikuti Workshop Membendung Arus Intoleransi

Enam santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten dipercaya untuk mengikuti workshop perdamaian yang diselenggarakan oleh Search for Common Ground (SFCG) Jakarta, Kamis (17 Desember 2015) di Hotel Ibis Cawang Jakarta.

Mereka adalah Andri Fauzi (Pendamping/Mahasiswa IAIN Banten), Muhammad Eman Sulaiman (Pendamping), Muhammad Iip Muplihin (XI SMA), Egi Rojian Hakim (XII SMA), Aenia Salsabila (XI SMA) dan Siti Mardiah (X SMA).

Kegiatan bertema “Memperkuat Kerjasama Pemuda Lintas Iman untuk Membendung Arus Intoleransi” ini menghadirkan peserta yang bergiat di bidang perdamaian dari berbagai wilayah di Indonesia, baik dari kampus, komunitas sosial maupun pesantren. Diantara pemateri yang dihadirkan adalah Alamsyah M. Dja’far (the WAHID Institute), Syafiq Ali (Pimred NU Online), aktivis Gusdurian dan sebagainya.

Mengikuti kegiatan ini, para santri tampak menikmatinya karena bisa berbaur dengan mereka yang berbeda keyakinan. “Saya malah tidur bareng dengan orang Kristen dan kita bisa kerjasama dengan baik dan saling membantu,” ujar Eman Sulaiman.

Bagi Aenia, banyak sekali pengalaman yang didapatkan. “Kita hadir dari berbagai latar belakang yang berbeda, namun kita bisa kumpul bareng dan tanpa persoalan apapun. Itu karena kita tidak mempersoalkan latar belakang kita. Yang menjadi ikatan bersama adalah kerja sama untuk tujuan yang sama,” ujarnya.

Bahkan Aenia berkomitmen untuk menerapkan apa saja yang didapatkannya di forum itu dalam kehidupannya sehari-hari. “Hidup rukun dalam perbedaan ini insya Allah akan menjadi komitmen saya dan semoga menjadi komitmen semua yang hadir,” kata Nia yang baru kali ini mengikuti kegiatan perdamaian.

Hal serupa disampaikan Siti Mardiah, yang juga baru kali ini terlibat dalam kegiatan perdamaian. “Saya awalnya canggung karena belum banyak pelangalaman. Apalagi saya paling muda diantara yang lain. Tapi setelah kita mengenal satu sama lain, semua berjalan dengan baik dan cair. Kita bisa bercengkerama dan mendapatkan banyak pengalaman di sana,” ujarnya.

Ada pengalaman yang berkesan bagi santri asal Cikulur Lebak ini. Selama ini, dirinya berprasangka bahwa penganut agama Budha itu menyembah patung. Nyatanya prasangka itu terhapuskan saat ia bertemu dengan rekan penganut Budha.

“Ternyata mereka tidak menyembah patung. Juga tidak ada dewa-dewa. Patung itu hanya simbol guru dan patung itu tidak disembah sebagai Tuhan. Ini sama dengan kita menghormat bendera merah putih saja,” jelasnya.

Semoga saja, kegiatan ini bisa menumbuhkan bibit-bibit perdamaian di kalangan para santri, sehingga kehidupan di negeri ini bisa benar-benar aman, damai dan sejahtera; dan berbhinneka tunggal ika. Secara khusus terima kasih dihaturkan pada Anggita Paramesti dan Suraji dari SFCG.[nhm]