Tarawih Perdana Diikuti Dua Golongan Santri

Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Agama memutuskan awal Ramadhan tahun ini jatuh pada Kamis, 18 Juni 2015. Seluruh umat Islam di Indonesiapun kompak mulai menjalankan ibadah tarawih pada Rabu malam, tak terkecuali “penduduk” Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.

Seperti biasanya, pesantren yang diasuh oleh KH. Achmad Syatibi Hambali ini juga menggelar tarawih berjamaah di Majelis Putera Qothrotul Falah. Kali ini, bertindak sebagai imam adalah Ustadz Udong Khudori. Dengan bacaan al-Qur’an yang fasih dengan suara yang merdu, tarawih kali ini kian syahdu.

Jamaahnya terdiri dari masyarakat sekitar pesantren dan dua golongan santri. “Iya benar, ada dua golongan santri yang turut berjamaah tarawih. Pertama golongan santri beneran, yang sudah di pesantren ini minimal setahun. Dan kedua jemaah santri titipan dari Dinas Tenaga Kerja Kab. Lebak sejumlah 90an anak. Mereka ini nyantri selama sebulan saja,” jalas Ustadz Ahmad Turmudzi, pembimbing santri musiman.  

Dikatakan Ahmad Turmudzi, dua tahun belakangan ini pesantren menerima titipan santri dari Dinas Tenaga Kerja. “Mereka ini anak-anak yang tidak sekolah, gelandangan dan sejenisnya. Mereka dipesantrenkan sebulan untuk pembekalan keilmuan dan skill, sehingga mereka memiliki bekal ke depannya,” ujarnya.

Kembali ke soal tarawih, pada kali ini yang bertindak sebagai penceramah adalah Kiai Aang Abdurohman, S.E., yang juga putera pertama pimpinan pesantren. Dalam ceramahnya, beliau menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan.

“Ini bulan yang penuh keberkahan, yang kita rindui bersama. Di dalamnya ada lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Jika ada santri yang mendapatkannya, maka pulang saja nggak usah belajar lagi. Insya Allah dia akan menjadi orang yang alim,” ujarnya.

“Malam qadar tidak mudah didapatkan, karena hanya orang-orang tertentu saja yang mendapat nikmat menjumpai malam ini. Para wali saja belum tentu mendapatinya,” ujarnya.

Untuk Ramadhan kali ini, para santri tidak menjalani Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) formal baik MTs maupun SMA sebagaimana biasanya, karena memang libur resmi sekolah formal di seluruh wilayah Indonesia. “Sebagai gantinya, maka para santri menjalani pengajian kitab sesuai kelasnya masing-masing,” ujar Ustadz Sufiyan Sadeli, penanggungjawab kegiatan Ramadhan ini.

Pengajian kitab itu dibagi dalam empat waktu; usai tarawih, pagi, siang dan sore. “Insya Allah banyak kitab yang akan dibacakan. Makanya dipadatkan waktunya. Pokoknya ngaji saja selama Ramadhan ini, insya Allah banyak manfaatnya,” ujarnya.

Sesuai jadual, pengajian kitab kuning ini akan berlangsung selama 20 hari. Setelah itu mereka akan dipulangkan untuk liburan. “Sebagai tiket liburan, para santri minimal harus mengkhatamkan al-Qur’an sekali. Kalau tidak khatam ya jangan pulang dulu,” kata Ustadz Ahmad Hudaidi.[nhm]