LPBI NU Ajari Santri Kelola Sampah

Sampah senantiasa menjadi problem di manapun, jika tidak dikelola dengan baik dan benar. Membakar sampah, kendati niatnya baik dan mulia, ternyata juga tidak benar, karena efeknya membahayakan lingkungan. Di pesantren, kesadaran untuk mengelola sampah juga belum tumbuh dengan baik.

Hal inilah yang melatarbelakangi Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama (NU) serius menggarap program PesantrenHijau. Caranya dengan memberikan bimbingan dan pendampingan pengelolaan sampah, termasuk yang dilakukannya di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten, Jum’at (29/01/2016).

Para aktivis LPBI dan pegiat PesantrenHijau, diantaranya Hijroatul Maghfiroh, Lukman dan Khalil, memberikan penyuluhan di hadapan 30an santri dan guru perihal pengelolaan sampah yang baik, yang sehat bagi lingkungan sekitar.

Misalnya, tentang pentingnya melakukan perihal pemilahan jenis sampah, nilai ekonomis sampah dan sebagainya. Harapannya, kesadaran ini akan menumbuhkan kepedulian pada lingkungan di kalangan santri. Di Pondok Pesantren Qothrotul Falah sendiri telah berdiri Gerakan Santri Peduli (Geespe) pada tahun lalu, yang kegiatannya tak jauh dari hal-hal ini.
 
Bagi LPBI, sampah bisa dikelola secara baik untuk mendapatkan profit, terutama sampah-sampah yang bisa didaur ulang; kardus, kertas, alumunium, besi, botol, dan sebagainya. Selain menjadikan lingkungan bersih, juga akan menghasilkan uang tambahan.

Untuk itu, pada kegiatan ini LPBI mendorong terbentuknya Bank Sampah. Serupa dengan bank-bank konvensional pada umumnya, namun di bank ini yang ditabungkan bukan uang cash, melainkan sampah. Muhammad Sofiyan (siswa Kelas XI SMA Qotrotul Falah asal Citeras Lebak) didaulat sebagai Direktur Bank Sampah ini. Beberapa ustadz turut mendampingi.

Diantara agendanya, setiap hari pihak pengelola Bank Sampah akan menerima sampah-sampah yang dikumpulkan oleh para santri untuk dikilo. Tabungan kiloan sampah ini akan dicatat secara cermat oleh pihak pengelola.

Kelak, kiloan sampah ini akan diuangkan dan hasilnya diberikan pada penabung. Untuk kegiatan awal ini, pengumpulan sampah dilakukan perkelas. “Mudah-mudahan ke depan bisa melebar tidak hanya pengumpulan sampah di lingkungan pesantren, namun juga di masyarakat,” ujar Sofiyan.

Untuk menambah greget program ini, bahkan Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif berencana memberikan dorprize pada tiap tiga bulan sekali bagi penabung sampah terbanyak.

“Insya Allah, penabung terbanyak di tiap triwulan akan kita berikan dorprize. Bentuknya bisa ngeliwet bersama atau yang lainnya. Nanti juga akan dilaporkan tiap pekan sekali secara transparan, seberapa banyak tabungan yang sudah dikumpulkan,” ujarnya.

Selain Bank Sampah, tamu-tamu dari LPBI juga mengajarkan cara pembuatan pupuk kompos secara mudah. Banyak media yang bisa digunakan untuk hal ini, juga dari sampah-sampah yang berserakan; bisa dedaunan, sampah sayur, dan sebagainya. Jika dilakukan dengan baik, juga bisa menghasilkan nilai ekonomis.

Bang Lukman juga menganjurkan santri untuk membuat kebun sayuran sebagai ajang percontohan. Pupuknya pakai kompos. “Nanti bibitnya akan saya kasih,” ujar Bang Lukman.

Proses penyaringan air supaya menjadi bersih juga diajarkan oleh Bang Lukman. Bahkan pria Betawi ini menunjukkan poto mesin buatannya yang mampu “menyulap” air banjir menjadi air layak minum dan untuk mandi. “Ini baru satu-satunya. Banyak yang sudah melirik namun saya tidak berikan. Akan dipatenkan dengan merk LPBI,” ujarnya.

Hijroatul Maghfiroh lebih banyak menyampaikan perubahan iklim yang terjadi akibat ulah manusia, yang efeknya buruk bagi kehidupan di bumi. Diantara langkah yang bisa dilakukan adalah reboisasi, kendati ini butuh waktu panjang.

Kegiatan-kegiatan seperti ini rencananya akan dilakukan di banyak pesantren, di Indonesia, sehingga akan muncul replica PesantrenHijau, yang diharapkan bisa berbuat andil bagi perbaikan dunia.[nhm]