Gafatar Menjadi Tema Pertama Pengajian Wali Santri

Puji syukur pada Allah, Pengajian Bulanan Perdana Wali Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah berlangsung lancar dan khidmat. Pengajian yang berlangsung di Majelis Puteri ini diselenggarakan pada Sabtu, 6 Februari 2016. Hadir wali santri dari berbagai wilayah, juga pihak pesantren; Pengasuh Pesantren KH. Achmad Syatibi Hambali, Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif dan Kepala SMA Kiai Abdurohman, S.E.

Kegiatan Pengajian Bulanan ini diawali sambutan oleh Kiai Abdurohman selaku tuan rumah. Dalam uraiannya, beliau menyampaikan permohonan maaf karena kegiatan diselenggarakan di majelis puteri, bukannya di majelis utama.

“Mohon maaf barangkali suasananya kurang nyaman. Ini untuk sementara saja, karena majelis utamanya sedang direhabilitasi. Insya Allah jika majelis utama sudah selesai, pengajian wali santri akan dipindahkan ke sana. Mudah-mudahan saja, pengajian ini tetap berlangsung khidmat dan manfaat,” ujar Putera Pertama Pengasuh Pondok Pessantren Qothrotul Falah ini.

Usai pengantar singkat beliau, pengajian dilanjutkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH. Achmad Syatibi Hambali. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak ini lebih banyak menceritakan sepak terjang Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), yang menurutnya di Lebak tercatat ada 23 pengikutnya.

“Ternyata di lingkungan kita sudah banyak yang ikut Gafatar ini. Kemasannya kegiatan sosial, namun ternyata membawa ajaran agama yang campur-campur. Mereka menyebut dirinya Millah Ibrahim,” ujarnya.

Dikatakannya, Gafatar tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir. “Mereka meyakini akan datang nabi terakhir dari keturunan Ibrahim. Mereka juga tidak mewajibkan shalat, puasa, haji dan sebagainya,” jelasnya. “Karena itu, bapak ibu harus hati-hati dengan gerakan seperti ini,” sambungnya.

Bagi beliau, perbedaan ini masuk pada wilayah yang prinsip, yang karenanya perlu diwaspadai dan disikapi dengan baik. Namun demikian, kendati perbedaan itu terjadi begitu tajam dan bahkan menafikan ajaran Islam mainstream, kekerasan terhadap mereka tidak semestinya dilakukan. Rumahnya tidak perlu dibakar dan fisiknya tidak perlu disakiti.

“Yang terpenting kita harus membentengi anak-anak kita dari ajaran-ajaran yang aneh, yang banyak bermunculan di akhir zaman ini,” jelasnya.

Usai tausiah pengasuh, pengajian wali santri dilanjutkan oleh Nurul H. Maarif, untuk berbincang santai. Diantara yang dihasilkan adalah ditunjuknya Koordinator Pengajian Wali Santri untuk kepentingan pengelolaan kegiatan. “Dan jemaah spontan menunjuk saya sebagai orang dalam untuk menjadi koordinator. Untuk membantu terlaksananya kegiatan, okelah saya menerimanya,” ujar NHM.

Menurut NHM, sesungguhnya banyak hal positif yang bisa dilakukan melalui Pengajian Bulanan Wali Santri ini. Namun semua itu harus dilakukan pelan-pelan dan bertahap. Diantara yang sudah disepakati, adalah perlunya tabungan bagi jamaah untuk keperluan ziarah para wali.

“Kita mulai menabung pelan-pelan setiap pertemuan. Nanti akan ada yang mengelola. Insya Allah di akhir tahun nanti kita akan gunakan untuk ziarah, dipimpin ole Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Ini akan mempererat kekeluargaan kita,” ujarnya.

Jemaah pengajian ini juga akan diikat oleh nilai-nilai kekeluargaan. Jika ada satu jamaah yang terkena musibah misalnya, maka yang lain akan ikut meringankan bebannya. Semoga saja rencana-rencana ini berjalan dengan baik sehingga memunculkan banyak manfaat. Dan pengajian ditutup oleh makan bersama yang disediakan oleh pihak pesantren.[nhm]