Pentingnya Sinergi Wali Santri-Guru-Santri

Pengajian Bulanan Wali Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten kembali diselenggarakan, pada Sabtu (5 Maret 2016) pagi. Bertempat di Majelis Puteri, pengajian yang rutin digelar Sabtu pekan pertama tiap bulannya ini kembali dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH. Achmad Syatibi Hambali, sebagai pentausiah tunggal.

Tampak hadir juga wali santri dari berbagai daerah, baik wilayah Banten maupun selainnya. Tampak hadir juga Kepala SMA Qothrotul Falah Kiai Abdurohman S.E., Kepala MTs Qothrotul Falah Ahmad Turmudzi, S.Pd.I. dan Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) sekaligus Koordinator Pengajian Wali Santri, Nurul H. Maarif.

Dalam tausiahnya kali ini, Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah menekankan pentingnya sinergi atau kerja sama antara tiga pihak: wali santri, guru dan santri sendiri.

“Tanpa sinergi dari ketiganya, maka keinginan kita untuk menjadikan santri-santri kita sebagai santri-santri yang sukses akan sulit terwujud,” jelas Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak Banten ini.

Menurut Kiai Ibing – sapaan akrabnya – ketiga pihak itu harus memainkan perannya masing-masing. Wali santri berperan sebagai pensupport motivasi dan dana bagi anak-anaknya. Guru berperan membimbing, mengarahkan dan mendidik santri-santri.

“Dan santri-santri sendiri harus berperan sebagai pelajar yang sesungguhnya, yang tekun dalam belajar dan rajin dalam mutalaah pelajaran,” ujarnya lagi.

Jika ketiganya tidak bersinergi dan berjalan masing-masing, ujarnya, maka secerdas apapun anak tidak akan menghasilkan apa-apa. “Ketiganya harus bergandengan tangan setiap saat. Karena itu, saya berharap wali santri juga ikut memantau dan mengontrol anak-anaknya, baik langsung ataupun melalui para guru,” ujarnya.

“Di sinilah tampak sekali pentingnya dilakukan pengajian wali santri setiap bulannya. Selain sebagai ajang menambah wawasan, juga penting sebagai ajang silaturahim dan kontrol bagi kita semua,” lanjutnya.

Di ujung acara, Kepala SMA Qothrotul Falah menyampaikan rencana ziarah spiritual bagi siswa-siswi Kelas XII SMA Qothrotul Falah usai menjalankan Ujian Nasional (UN) 2016. Sedangkan Koordinator MPS menyampaikan fenomena jajan santri, yang tiap tahunnya menghabiskan lebih dari Rp. 546.000.000,-. Jumlah yang sangat besar.

“Andaikan anak berhenti jajan setahun dan uangnya digunakan untuk pembangunan, itu sudah luar biasa. Mungkin nggak? Soal jajan sulit berhenti. Dan uang sejumlah itu, semua menjadi kotoran tanpa ada nilai ibadahnya. Itulah yang menggerakkan kita mengisiniasi Gerakan Semut Ibarahim (GSI), yang filosofinya mengurangi jajan untuk kepedulian sosial,” jelas NHM.[nhm]