Santri Menyemai Toleransi

"Silakan masuk, puasa enggak? Kalau enggak, saya sediakan makan dan minum," ujar Nurul Huda Maarif, Koordinator Majelis Pembimbing Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Sambutan ramah Maarif merefleksikan sebagian kecil saja dari toleransi yang disebarkannya.

Tawaran Maarif kepada sejumlah tamu yang berkunjung ke pondok pesantrennya di Jalan Sampay-Cileles, Kilometer 5, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Lebak, Banten, Senin (21/6), itu sama sekali bukan kelakar. Maarif membebaskan pemeluk agama apa pun berkunjung ke pesantren yang berdiri tahun 1961 dengan jumlah santri 250 orang.

Dia akrab dengan pemuka sejumlah agama dan membiasakan para santrinya bersikap yang sama. Di sudut-sudut pondok pesantren, mereka berdiskusi aktif untuk menyemaikan toleransi. Sore itu, santri-santri yang pandai merangkai kata bercerita tentang hidup berdampingan dalam perbedaan.

Bahkan, tak hanya itu, pesantren sengaja mengirimkan santrinya ke sejumlah tempat di dalam dan luar negeri guna berkarib dengan umat agama lain. "Kami kirim santri ke perpustakaan, kampus, bahkan tempat ibadah agama lain," kata Maarif.

Mereka bepergian ke Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Singapura. Selain berbaur dengan umat agama lain, santri diminta menulis cerita perjalanannya. Pandangan mereka terhadap toleransi menjadi terbuka. Tak dapat disangkal, awalnya beberapa santri merasa waswas.

Muhammad Eman Sulaiman (20) dan Siti Mardiah (17) di antaranya. Mereka bisa lebih mengenal dan memahami kehidupan keagamaan umat lain saat mengikuti lokakarya pemuda lintas iman, di Jakarta, akhir tahun lalu. Berangkat dari sana, pandangannya mengenai pentingnya toleransi semakin kaya.

Pengalaman itu tak lantas dipendam sendiri. Eman, misalnya, membagikan pengalaman itu di media sosial ataupun blog milik pesantren Qothrotul Falah. "Biasanya saya menulis ajakan hidup bertoleransi. Salah satunya kata mutiara dari Gus Dur, beda itu asyik," ujarnya.

Selain melalui media sosial dan blog pesantren, santri juga diajak menyiarkan pentingnya toleransi dalam bentuk tulisan di buletin milik pesantren. Buletin bernama Qi Falah itu lalu diedarkan ke sejumlah masjid.

Santri pun sempat memanfaatkan radio komunitas Qi FM sebelum peralatan radio di pesantren rusak tahun lalu.

"Saya ingin sekali memperbaiki peralatan radio. Belum tahu kapan, tapi secepatnya. Soalnya ada kebutuhan-kebutuhan pesantren lainnya yang harus diprioritaskan," ucap Maarif.

Menurut dia, penerapan toleransi di Qothrotul Falah banyak berpegang pada kitab kuning yang ditulis Syekh Nawawi al-Bantani. Ulama besar asal Banten yang hidup pada abad ke-19 itu telah menulis setidaknya 115 kitab. Banyak dari kitab tersebut menjelaskan toleransi.

"Jika kita kaji kitab-kitab itu, manusia diminta mencintai sesamanya, tidak peduli latar belakang agama, suku, ataupun ras. Santri-santri diberikan pemahaman, Islam itu indah, juga damai," kata salah satu penulis di buletin Qi Falah, Muhammad Eman Sulaeman (20).

Qothrotul Falah bukan satu-satunya pesantren yang menekankan pentingnya toleransi kepada santrinya sekaligus mengajak santrinya menyiarkannya. Hal serupa diterapkan di Pesantren Al Falaq di Bogor.

Direktur Pusat Studi Pesantren Al Falaq Achmad Ubaidillah bahkan coba mengajak 50 pesantren lainnya di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, untuk melakukan hal yang sama.

Ajakan disampaikan awal tahun ini saat Pusat Studi Pesantren Al Falaq menggelar lokakarya berjudul Voice of Pesantren (suara dari pesantren). Tujuan utamanya, dia melanjutkan, menjadikan pesantren lokomotif gerakan penghormatan terhadap kebinekaan.

Hal ini penting karena gaung santri dan pesantren menyuarakan nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan telah berkurang. Santri dan pesantren kalah suara dengan segelintir kaum radikal yang lantang bersuara, salah satunya di media sosial.

Padahal, sejak berabad-abad lalu, pesantren mewariskan nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan. Perdamaian dan toleransi, ujar Achmad, adalah nilai penting yang diwariskan dan diajarkan Nabi Muhammad SAW. (DWI BAYU RADIUS/C01/C05/C09)

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 28 Juni 2016, di halaman 3 dengan judul "Santri Menyemai Toleransi".

http://regional.kompas.com/read/2016/06/29/10405751/santri.menyemai.toleransi