Penyemai Toleransi dari Lebak

Nurul Huda Maarif (36), Koordinator Majelis Pembimbing Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah di Lebak, Banten, berjuang menyemai toleransi dan kerukunan umat beragama. Tak sebatas bagi para santri, kampanye itu juga disebarkan kepada masyarakat. Tanpa canggung, dia dan para santri bergaul dengan para pemeluk agama lain.

Di Pondok Pesantren Qothrotul Falah di Jalan Sampay-Cileles Kilometer (Km) 5 di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten, awal Agustus 2016, sejumlah santri berkumpul. Sore itu, mereka asyik menggelar diskusi tentang toleransi di sebuah saung.
Beberapa santri lain mencari referensi mengenai persatuan umat di salah satu sudut perpustakaan. Maarif bergabung dengan para santri. "Ya begini aktivitas sehari-hari di Qothrotul Falah," katanya di sela diskusi bersama sejumlah santri.

Buah pikiran santri tentang toleransi tak lantas lenyap begitu saja. Maarif bersama para santri mendokumentasi gagasan tentang penghargaan atas perbedaan agama, lantas kampanye lewat dunia maya. Salah satunya, lewat situs resmi pondok pesantrennya, yaitu http://qothrotulfalah.com. Hal serupa disebarkan lewat akun pesantren di Facebook dan situs http://jalandamai.org.

Dia juga menggandeng santri untuk menuangkan idenya dalam buku. Telah diterbitkan buku-buku karya santri oleh Pustaka Qi Falah. Kebanggaan santri bertambah saat diadakan bedah buku yang mereka tulis, yakni Renungan Santri I: Esai-esai Seputar Problematika Remaja.
Bedah buku yang berisi tulisan 13 santri itu diadakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2014. Maarif juga ikut menyumbangkan hasil pemikirannya bersama empat pengajar lainnya, masing-masing satu artikel dalam buku tersebut.

Ada juga buku lain karya santri, yakni Rumah Kita (2015), Lazuardi Kata (2016), dan Renungan Santri II: Intelektualitas, Integritas, dan Moralitas (2016). Setiap wisuda, diluncurkan buku karya santri yang baru. Diskusi adalah salah satu bekal untuk menulis buku.

"Wawasan santri jadi bertambah. Setiap minggu, santri juga berupaya membaca, minimal dua buku," kata Maarif. Santri berkumpul untuk membahas tak hanya toleransi, tetapi juga isu lain, seperti narkoba, seks bebas, radikalisme, dan terorisme.

"Tahun depan, dua hingga tiga buku lagi siap diterbitkan. Saya enggak ngomporin berlebihan, tahu-tahu mereka kumpul dan mau bikin buku," ujar Maarif sambil tertawa. Bahkan, santri kelas satu SMA Qothrotul Falah sudah tergerak untuk menulis buku.

Maarif sendiri memberikan teladan dengan menjadi penulis soal toleransi yang produktif. Selain buku, ia juga menulis artikel yang sering dimuat di media massa lokal. Wakil Sekretaris Forum Silaturahim Pondok Pesantren Kabupaten Lebak itu juga aktif menjadi pembicara di berbagai forum.

Sikap tepa selira yang disebarkan Maarif tak hanya bersandar pada nalar, tetapi juga rujukan dari pemikiran para ulama. Salah satunya, kitab-kitab kuning karya Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar asal Banten yang hidup pada abad ke-19. Nawawi telah menulis setidaknya 115 kitab.

"Saya selalu menekankan kepada para santri, kalau mau menulis, biasakan punya cantolan yang jelas. Dalam kitab-kitab kuning yang kami baca, memang ada soal toleransi," kata Maarif.

Di salah satu ruang berukuran sekitar 3 x 4 meter di Pesantren Qothrotul Falah terpasang instalasi siaran radio. Dakwah kerukunan beragama bergema melalui pengeras suara hingga kelas-kelas. Ruh perdamaian juga bergaung hingga keluar pondok pesantren itu.

Semangat toleransi itu disiarkan melalui radio komunitas Qi FM dengan frekuensi 107,7 FM. Penyiar radio ini adalah santri Qothrotul Falah. Sayangnya, peralatan radio itu sedang rusak. Selama lima tahun hingga 2015, Qi FM menemani warga dengan radius sekitar lima kilometer dari pesantren.

Qi FM siaran setiap hari pada pukul 16.00-17.30 dan 20.00-22.00. Materi siaran berupa kajian kitab kuning, cara menyikapi perbedaan, informasi seputar Cikulur, dan ceramah. Jika terjadi peristiwa konflik berlatar agama di provinsi lain, penyiar kerap mengajak warga setempat untuk menahan diri dan tidak ikut terprovokasi.

Maarif ingin sekali memperbaiki peralatan radio Qi FM. Namun, perbaikan itu terpaksa dikesampingkan dulu karena sedang memenuhi beberapa kebutuhan lain yang dinilai lebih mendesak, seperti menyediakan rumah untuk guru dan penambahan ruang asrama santri. Untuk sementara, materi dakwah disiarkan di lingkungan Qothrotul Falah saja.
Bahaya radikalisme

Maarif juga menanamkan cinta perdamaian di kalangan anak muda di luar pondok pesantren. Remaja Muslim dan pemeluk agama lain kerap diajak datang ke Qothrotul Falah. "Mereka diberi pemahaman soal toleransi. Toleransi itu menjadi kontra atas radikalisme," katanya menegaskan.
Maarif pernah mengundang semua ketua organisasi siswa intra sekolah (OSIS) SMA di Lebak untuk memberikan pengertian tentang perdamaian pada 2015. Pemahaman mengenai bahaya radikalisme juga diberikan kepada muda-mudi tersebut. Selain itu, buku-buku untuk menangkal radikalisme dibagikan.

"Kami membagikan buku tentang ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah atau NIIS) bukan Islam dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme)," ucapnya.

Maarif pun mengajak santri-santrinya tak menjadi katak dalam tempurung. Mereka pergi ke sejumlah provinsi, bahkan luar negeri, untuk berkarib dengan pemeluk agama lain tanpa mengganggu keyakinan masing-masing. Dari rutinitas itu, lahir tulisan mengenai cara pandang yang lebih terbuka, termasuk perdamaian.

Santri mengobrol dengan pemeluk Protestan, Katolik, Buddha, dan Khonghucu. Mereka bertemu dalam lokakarya, perpustakaan, perguruan tinggi, hingga tempat ibadah. Beberapa dari mereka bahkan menginap di kamar yang sama dan saling menambah pemahaman tentang agama satu sama lain.

Maarif masuk ke tengah murid- muridnya dengan membentuk komunitas Triping sejak 2013. Triping adalah akronim dari writing (menulis), reading (membaca), dan speaking (berbicara).
Kepada komunitas Triping, Maarif selalu berpesan, "Tuangkanlah pikiran dalam buku agar kekal sepanjang zaman meski raga telah hancur. Jika manusia wafat, idenya saja yang bertahan," ucap Maarif dengan bersemangat. (Dwi Bayu Radius)

http://print.kompas.com/baca/2016/08/16/Penyemai-Toleransi-dari-Lebak