Wali Santri Simak Hafalan Juz ‘Amma

Pengajian Bulanan Wali Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten untuk tahun ajaran 2016-2017 dimulai secara resmi pada Sabtu, 3 September 2016. Hadir wali santri dari berbagai daerah, baik Banten maupun luar Banten.

Hadir juga Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) yang juga Koordinator Pengajian Bulanan Wali Santri, Nurul H. Maarif. Selain itu, hadir juga Kepala SMA Qothrotul Falah, Kiai Abdurohman, M.Pd., Pembimbing Tahfidh al-Quran, Ustadz Yusuf Faruq dan beberapa guru.

“Kali ini Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH. Ahmad Syatibi Hambali berhalangan hadir karena ada dua agenda penting, di Lebak dan di Jakarta. Beliau menyampaikan permohonan maaf dan menitipkan salam untuk hadirin,” ujar Nurul H. Maarif, mengawali kegiatan.

Kegiatan pengajian wali santri, menurutnya, diniatkan untuk tiga hal: 1) Ajang silaturahim wali santri, sehingga menjadi keluarga besar. 2) Ajang menengok anak-anaknya. 3) Ajang mencari ilmu.

“Kangen dengan anak terpenuhi dan haus ilmu juga teratasi. Insya Allah itu niatnya,” ujarnya.

Dan seperti biasa, pengajian wali santri dimulai dengan tahlil bersama, yang dilanjut hafalan Juz ‘Amma oleh santri baru yang didampingi Ustadz Yusuf. “Anak-anak ini masih baru sebulan di pesantren ini. al-Aamdulillah mereka sudah bisa menghafal Juz ‘Amma. Karena baru, mohon maaf masih banyak kekuranan tajwid maupun kelancaran bacaan,” ujarnya.

Kegiatan hafalan Juz ‘Amma yang dibacakan delapan santri baru ini diniatkan untuk memberikan kegembiraan bagi wali santri, bahwa dalam waktu singkat putera-puterinya telah mengalami perkembangan positif. Dan tentu saja untuk memotivasi santri lainnya supaya bertekad menghafal al-Qur’an.

Usai hafalan Juz ‘Amma, pengajian dilanjut dengan tausiah Ustadz Yusuf seputar pentingnya umat Islam berinteraksi dengan al-Qur’an, kitab sucinya.  “Santri boleh menjadi apa saja, tapi harus tetap mampu membaca al-Quran,” ujar Ustadz Yusuf yang lantas menutup dengan doa bersama.

628 Juta untuk Jajan

Kegiatan pengajian lalu dilanjut oleh Nurul H. Maarif yang menyampaikan tentang kegiatan santri dan kendala-kendala teknis yang dihadapi oleh pihak pesantren dalam membimbing santri. Misalnya, NHM menyampaikan total jajan santri selama setahun di pondok ini.

“Kami mendata secara detail nominal jajan santri. Dari yang tidak jajan sama sekali sampai yang perhari Rp. 20.000. Total setahun santri di sini yang jumlahnya 234 anak menghabiskan dana Rp. 628 juta. Semua jadi kotoran dan tidak ada nilai ibadahnya,” ujarnya.

“Andaikan kita berhenti jajan setahun, banyak hal yang bisa kita lakukan. Berapa banyak orang yang tidak mampu bisa kita bantu sekolahnya, bikin masjid, bantu umroh guru dan sebagainya,” katanya. "Hal inilah yang menjadi spirit bagi kami membuat Gerakan Semut Ibrahim (GSI) yang programnya menyisihkan sedikit uang jajan untuk dikumpulkan sebagai amal kebaikan," sambungnya.

Karena itu, pihak pesantren berharap wali santri membatasi jajan anak-anaknya, supaya berlatih hemat. Mending uang ditabung dari pada jajan terus. “Masalahnya, anak sekarang lebih mementingkan jajan ketimbang belajar. Jika anak tidak diberi uang jajan atau terlambat dikirim, mereka akan terus menuntut dan malas belajar karena alasannya orang tua nggak peduli,” katanya diiyakan wali santri.

Walaupun banyak uang, semestinya hidup ala kadarnya tetap penting ditekankan untuk melatih hidup prihatin. “Mereka perlu tahu, orang tua nyari uang itu tidak mudah,” jelasnya.

Kegiatanpun dilanjut tampilan gambar-gambar aneka kegiatan santri. Lalu ditutup doa dan dilanjut dengan makan siang bersama. al-Hamdulillah, kegiatan ini mendapat respon positif wali santri.[nhm]