Santri Qothrotul Falah Umrahkan Bibi Dapur

Melalui Gerakan Semut Ibrahim (GSI), santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten berhasil mengumrahkan Teh Ruyanah, bibi dapur yang bekerja memasak di pondok untuk makan para santri.

Teh Nong, sapaan akrabnya, diumrahkan melalui Travel al-Malik Jakarta beserta Jamaah MNC Jakarta, selama sembilan hari, 8-16 April 2017. Bunda Dede Saadah Syatibi (Bendahara Pondok) dan Ustadzah Ratu Mawaddah Hamid (Pembina Tahfidz) turut mendampinginya.

GSI secara khusus membiayai Teh Nong dengan pertimbangan pengabdian dan kesetiaannya pada Pondok Pesantren Qothrotul Falah yang sudah puluhan tahun, untuk kepentingan makan para santri. Tanpanya, tentu saja para santri akan kesulitan belajar karena harus masak sendiri untuk makan setiap harinya.

Atas pertimbangan itu, baik pimpinan, dewan guru dan para santri memutuskan hadiah umrah ini diberikan padanya. Dan semua ini hasil kerja keras GSI yang perdana. Sedangkan Bunda Saadah dan Ustadzah Mawaddah yang mendampinginya menggunakan biaya pribadi alias bukan dari pondok.

“al-Hamdulillah, akhirnya para santri bisa memberangkatkan umrah Teh Nong. Kita mengumpulkan dana melalui perjuangan yang ekstra keras. Al-hamdulillah, berkat dukungan semua pihak, Teh Nong bisa melihat kiblat shalatnya dan bersimpuh di makam junjungannya, Kanjeng Nabi Muhammad Saw,” ujar inisiator GSI, Nurul H. Maarif.

GSI merupakan gerakan sosial santri yang diinisiasi oleh Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS), Nurul H. Maarif, dua tahun silam. Bentuk kegiatannya mengumpulkan uang recehan dari para santri setiap harinya.

“Santri itu jajannya banyak dan beragam nominalnya. Dari yang seribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu bahkan tiga puluh ribu. Setiap hari pasti jajan. Dari total santri yang ada, saya hitung total jajan mereka sekitar Rp. 640 juta pertahun. Semua jadi kotoran yang terbuang. Kita bisa bayangkan, andaikan uang itu dioffkan untuk jajan dan digunakan untuk kepentingan sosial, betapa banyak yang bisa kita lakukan sesungguhnya,” ujarnya.

“Tapi mana ada santri yang rela berhenti jajan?” sambungnya.

Melihat kenyataan ini, rasanya sayang sekali dana sejumlah itu tidak ada sedikitpun yang mengalir untuk kepentingan sosial. Lalu NHM berisiatif menarik sedekah tanpa paksaan, sekecil Rp. 500 setiap harinya pada para santri.

“Jika semua santri ikut proram ini, saya perkirakan selama setahun dana yang terkumpul bisa mencapai Rp. 40 juta. Dengan dana ini, kita bisa membantu guru-guru yang telah lelah mengajarkan ilmu pada para santri untuk berziarah ke Tanah Suci,” katanya.

Jika guru-guru harus menabung sendiri, berapa tahun waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan dana sejumlah itu, sementara gaji mereka tidak seberapa. “GSI niatan awalnya untuk membantu mereka mewujudkan cita-cita spiritualnya ini dan al-hamdulillah uji coba perdana berhasil. Semoga bisa memberikan kegembiraan bagi yang diberangkatkan,” katanya bangga.

Jika program ini lancar, insya Allah ke depan GSI akan memberangkatkan guru-guru lain secara bergiliran. Karena itu, kerjasama dan dukungan dari semua pihak sangat diharapkan. Apalah arti hadiah kecil ini, jika dibandingkan dengan jerih payah mereka melayani santri untuk menggapai cita-citanya?

Lalu, siapa lagi yang mau ikut peduli dan bergabung dengan Gerakan Semut Ibrahim (GSI) ini?[nhm]