Pentas Seni Santri: Sejak Dulu Pesantren Mengawal Kebhinnekaan

Acara Wisuda Santri XVIII Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten dimulai dengan Penampilan Seni Santri, Sabtu, 13 Mei 2017, malam, di Lapangan Upacara Qothrotul Falah. Aneka hiburan santri, dari yang serius hingga yang kocak, dipertontonkan dengan meriah.

Tampak hadir Kepala SMA Qothrotul Falah, Kiai Abrudohman, M.Pd., Kepala MTs Qothrotul Falah, Ahmad Turmudzi, M.Pd., Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS), Nurul H. Maarif, guru-guru, para santri, wali santri, masyarakat sekitar, dan para alumni. Kegiatan malam terakhir wisudawan dan wisudawati inipun tampak kian meriah.

Lebih meriah lagi karena acara hiburan ini diberi sambutan sekaligus dibuka oleh Alumni Pondok Pesantren Qothrotul Falah yang juga Ketua Komisi Penyiaran Daerah (KPID) Propinsi Banten, Ade Bujhaerimi, M.Pd.

Dikatakannya, kegiatan pentas seni santri merupakan sebentuk maha karya santri di bidang hiburan. Ini menunjukkan jika santri terus melakukan kreatifitas dan terobosan.

“Dan pesantren, termasuk Ponpes Qothrotul Falah sejak dulu sudah mengawal tradisi seni yang menunjukkan kebhinnekaan,” ujarnya sembari mengritik lighting yang kurang sempurna.

Menurutnya, saat ini kebhinnekaan bangsa ini sedang diporak-porandakan oleh banyak pihak yang tidak suka melihat kesatuan bangsa ini. “Lagi-lagi melalui kreatifitas dan terobosannya, pesantren selalu bikin adem dan tenang,” ujarnya.

Ade Bujhaerimi juga menyatakan keuntungan bersekolah di pesantren. “Menyekolahkan anak di pesantren itu punya nilai plus. Jika di luar anak-anak sudah terkena virus HP, narkoba atau pergaulan bebas, maka di pesantren mereka tidak mengenal semua itu. Ini keuntungannya,” katanya lagi.

Bahkan, di saat sekolah-sekolah lain menjalani libur panjang Ramadhan, pesantren tetap konsisten belajar tanpa libur.

“Jangan sedih, kalau di pesantren kalian tetap belajar kitab kuning pada Ramadhan. Itulah nilai plus kalian di pesantren, yang tidak didapatkan di luar,” katanya memberikan semangat.

Terkait penampilan seni santri, tentu saja tidak ada yang sempurna 100 persen. “Salah atau keliru itu sudah biasa. Namun yang sesungguhnya salah itu yang tidak berani tampil,” katanya.

Usai sambutan, Ade Bujhaerimi lalu memukul bedug rebana sebanyak lima kali sebagai simbol dimulainya acara pentas seni. “Lima kali sebagai lambang rukun Islam dan Pancasila,” ujarnya menutup acara.[nhm]