Wisuda Santri XVIII: Haji Ace Sampaikan Empat Petuah Penting

Wisuda Ke-I8 Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten diselenggarakan pada Ahad, 14 Mei 2017, di Lapangan Upacara Qothrotul Falah. Selain keluarga besar Pondok Pesantren Qothrotul Falah, tampak hadir Dr. H. Ace Hasan Syadzily (Anggota DPR RI), Acep Dimyati, S.E. (Anggota DPRD Kab. Lebak), KH. Zainuddin Amir (Ketua Forum Maghrib Mengaji Lebak), Habib Abdillah, S.H.I. (Camat Cikulur), para kiai, wali santri, para guru dan tamu undangan lainnya.

Haji Ace – sapaan akrab Dr. H. Ace Hasan Syadzily – kali ini didaulat menyampaikan orasi ilmiah atau petuah perpisahan untuk santri. Dalam paparannya, alumni Ponpes Krakyak Yogyakarta dan Ponpes Cipasung Tasikmalaya ini pertama-tama merespon launching buku yang rutin diselenggarakan oleh pesantren.

Menurutnya, dirinya merasa terharu atas launching buku ini. “Saya sampaikan secara jujur, saya terharu. Sangat langka pesantren yang mentradisikan tulis-menulis. Padahal ini tradisi ulama-ulama kita,” ujarnya. “Karenanya tradisi ini harus terus dikembangkan,” imbuhnya.

Haji Ace lalu menyebut Syeikh Nawawi Tanara Banten, ulama kharismatik asli Banten yang karyanya lebih dari 100 buah. “Dan pesantren ini berupaya meneruskan tradisinya. Beruntung siapapun yang menitipkan putera-puterinya di sini. Saya melihat pesantren ini mengalami peningkatan yang luar biasa,” katanya.

Dalam orasinya, putera ulama besar Banten Alm KH. TB. Ravei Ali (Pendiri Ponpes al-Nidhamiyyah Labuan Pandeglang) ini banyak menyampaikan kutipan kitab kuning (turats) khas santri. Menurutnya, ada empat hal yang penting dilakukan oleh santri untuk mengarungi kehidupan yang kian hari kian banyak tantangan, untuk menuju kehidupan sesungguhnya yakni akhirat.

Pertama, senantaisa memperbaharui bahtera untuk mengarungi lautan. Mengutip nasihat Rasulullah Saw pada Abu Dzar al-Ghifari, Haji Ace menyampaikan: jaddid safinatak fa inna bahr ‘amiq (perbaharui bahteramu, karena sesungguhnya lautan itu dalam).

Menurutnya, dunia senantiasa mengalami perkembangan. Tidak ada yang kekal atau tetap di dalamnya. Semakin maju zaman, semakin besar tantangannya. Dan untuk menuju akhirat, maka semuanya harus mengarungi lautan dunia. Semakin jauh, maka semakin dalam dan ombak semakin besar.

“Melintasi lautan harus pakai perahu. Dan perahu itulah ilmu. Ilmu itu harus terus diperbaharui, karena tantangan yang dialami oleh kakek atau bapak kita berbeda dengan tantangan yang kita hadapi, ” ujarnya.

Kedua, menyiapkan bekal yang banyak karena jauhnya jarak perjalanan. Haji Ace lalu mengutip petuah: khudz al-zad kamilan fa inna al-safar ba’id (siapkan bekal yang purna, karena sesungguhnya perjalanan itu jauh).

“Bekalnya ya ilmu. Ilmu tidak akan memberatkan, melainkan meringankan. Ilmu itulah yang menyelamatkan kita semua kala mengarungi lautan yang banyak tantangan ini,” ujarnya.

Ketiga, ringankan beban perjalanan. Mengarungi lautan, akan sulit dilakukan bila terbebani oleh beban-beban yang berat apalagi berlebihan. Menurutnya, yang dimaksud beban perjalanan adalah beban material keduniawian.

“Kekayaan misalnya, bukan untuk ditumpuk, melainkan untuk disedekahkan,” ujarnya. Jika kekayayaan hanya ditumpuk, maka ini akan menjadi beban berat dalam perjalanan menuju kehidupan akhirat.

Keempat, ikhlas dalam beramal. Kegiatan apapun yang dilakukan, semestinya tidak diukur dari imbalan yang didapatkan.

“Jangan sekali-kali minta balasan apapun. Biarkan Allah Swt yang membalasnya. Menghafal, belajar atau ibadah, ikhlaskan saja karena Allah Swt,” terangnya.

Jika empat hal itu dilakukan oleh para santri, katanya, insya Allah mereka akan mendapatkan kehidupan yang baik dan kesuksesan yang sesungguhnya baik di dunia maupun di akhirat. Inilah yang semestinya menjadi orientasi semua orang.

Pada wisuda kali ini, tiga wisudawan didaulat untuk memyampaikan kata perpisahan dalam tiga bahasa: Arab, Inggris dan Indonesia. Mereka adalah Dewi Asiyah asal Cilegon (Bahasa Arab), Aenia Salsabila asal Malingping Lebak (Bahasa Indonesia) dan Asep Komaruddin asal Cileles Lebak (Bahasa Indonesia).

Sedangkan wisudawan terbaik diraih oleh Wahyu Nisa Hasanah asal Cikulur Lebak, berdasarkan berbagai pertimbangan baik akademik maupun ketekunan dan kedisiplinan selama menjalani kegiatan pendidikan di pesantren. Sedangkan Guru Teladan 2017 diraih oleh Sofiyan Sadeli asal Jakarta, S.Pd.I., juga karena berbagai pertimbangan baik intelektual maupun perilaku keseharian. Juga disampaikan perihal Gerakan Semut Ibrahim (GSI) yang telah berhasil mengumrahkan Bibi Nong.

Untuk memeriahkan dan menampilkan kekhasan wisuda Ponpes Qothrotul Falah, turut dilaunching tiga buku, yakni Nasihat untuk Santri karya KH. Achmad Syatibi Hambali (Inspira Yogyakarta), Kerahmatan Islam karya Nurul H. Maarif (Quanta Kompas Gramedia Jakarta) dan Fikih Keseharian karya Muhammad Yusuf (Pustaka Qi Falah Lebak). Ini tak lain untuk melanggengkan tradisi tulis-menulis para ulama sebelumnya.

Semoga saja, para wisudawan dan wisudawati yang baru saja resmi dilepas oleh pihak pesantren, bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Bisa meneruskan pengajian kitab kuningnya atau melanjutkan perkuliahannya ke berbagai kampus baik swasta maupun negeri.[nhm]