Tantangan Jamaah Shubuh untuk Santri Baru

Al-hamdulillah, ratusan Santri Baru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten telah hadir di pesantren, Sabtu, 15 Juli 2017. Mereka telah bergabung dengan santri-santri lama dan mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Bagi mereka yang terbiasa hidup nyaman bersama keluarganya, tentu bukan perkara mudah menjalani kehidupannya yang baru di lingkungan pesantren. Kegiatan yang padat, makan ala kadarnya, komunikasi yang terbatas dengan keluarganya dan sebagainya, tidak mudah dijalani di masa-masa awal tentunya. Belum lagi soal kemandirian yang mulai dijalani.

“Semua akan terasa berat bagi santri-santri yang baru. Ini hal yang lumrah dan biasa terjadi. Seiring waktu, insya Allah semua akan berjalan normal. Karena itu, semoga keluarganya memaklumi dan mulai belajar mengikhlaskan anak-anaknya,” ujar Bunda Dede Saadah, Bendahara Pesantren.

Diantara tantangan yang tidak mudah diadaptasi, misalnya terkait bangun sebelum shubuh untuk shalat tahajjud dan jamaah shubuh. Dalam wawancara dengan beberapa wali santri, mereka di rumah banyak yang bangun paginya di atas jam 05.30. Bahkan tak jarang yang di atas jam 06.00. Tak jarang pula yang shalat shubuhnya terlewatkan.

Seiba di lingkungan pesantren, perlahan mereka dilatih bangun pagi-pagi buta. Ini tentu bukan perkara yang gampang. Dan ini dimulai di hari pertama. “Namun al-hamdulillah, dengan semangat yang tinggi, mereka bisa bangun pagi untuk berjamaah shubuh. Insya Allah kalau sudah terbiasa akan ringan,” ujar Ustadz Eman Sulaiman, Pembina Santri.

Bahkan untuk membangunkan mereka, sebagian pengurus berteriak: sahuurrrr… sahuuurr… sahuuurrr… Ini sebagai hiburan, supaya mereka tidak kaget dibangunkan bagi buta.

Tantangan lainnya, tentu saja menjaga kenyamanan mereka di lingkungan pesantren, sehingga mereka betah dan tidak lagi terus-menerus teringat keluarganya lalu ingin pulang.

“Kangen keluarga atau keluarga kangen anak, ini tantangan besar. Apalagi jika sering-sering ditengok, anak akan lebih sulit lagi beradaptasi dengan lingkungan pesantren karena akan selalu ingat rumahnya. Yang sudah tenang bisa mendadak galau,” ujarnya.

Request Poto-Video
Baru sehari berpisah antara orang tua dengan anaknya, rupanya rasa kangen sudah demikian memuncak. Terbayang terus di benak mereka bagaimana anak tersayangnya mulai belajar kemandirian di pesantren. Khawatir tidurnya, makannya, mandinya, nyuci pakaiannya dan lain sebagainya.

Tak jarang, karena rasa kangen dan penasaran yang tinggi, banyak wali santri yang ingin tahu kabar putera-puterinya. Kabar apa saja. Ada yang bertanya kesehatan, minta poto bahkan videonya. Untuk kepentingan itu, pesantren membuat grup WA untuk wali santri. Dan benar, berbagai permintaan bermunculan di sana.

“Ada yang ingin dipotoin wajah anaknya. Ada yang minta divideoin. Segala macam pokoknya. Banyak sekali request. He… Dan insya Allah kita akan melayani semuanya dengan sebaik-baiknya, karena ini menjadi tanggungjawab pesantren. Wali santri tak perlu khawatir,” ujar Ustadzah Cahyati, Pembina Santri.

Mudah-mudahan, dengan keakraban yang terbina indah antara wali santri dengan pihak pesantren, nilai-nilai kekeluargaan akan terjalin dengan menyenangkan. Tak lupa, pesantren senantiasa mohon masukan yang positif dari semua pihak untuk kebaikan seluruh santri.[nhm]