Milad Pesantren ke-26: OPPQ Gelar Istighasah dan Tumpengan

Senin, 31 Juli 2017, merupakan hari yang penuh sejarah dan kebahagiaan bagi seluruh  warga Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Tepat di tanggal tersebut, Qothrotul Falah telah mencapai usia ke-26 tahun semenjak didirikan berdasarkan Akte Nuzwar No. 8 tanggal 31 Juli 1991. Dalam perjalanannya yang terbilang cukup panjang dan matang, saat ini Qothrotul Falah telah hadir di tengah-tengah masyarakat untuk terus berupaya mencetak generasi bangsa yang cerdas dan berkakhlak mulia.

Perayaan Milad Pondok ini diinisiasi oleh Pengurus OPPQ Masa Bakti 2017-2018. Perayaan milad dikonsep sederhana, yakni tasyakuran dengan mengadakan istghasah dan tumpengan atau makan bersama guru dan santri-santri.  

Acara dimulai pada ba’da wiridan shalat Magrib di Majelis Putera dengan refleksi mengenai Pondok Pesantren Qothrotul Falah yang disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok pesantren yakni KH. Achmad Syatibi Hambali yang hangat disapa Abi oleh dewan guru maupun santrinya.

Dalam refleksinya,  beliau menceritakan sejarah mula berdirinya pesantren dan suka duka di balik semua proses yang telah dilewati. “Alhamdulillah, pondok ini telah memiliki perubahan yang sangat besar. Sekarang bangunan-bangunannya sudah cukup banyak dan bagus. Saya masih ingat, majelis putera ini yang pertama kali dibangun”, kenang Abi dalam refleksinya.

Semua guru yang hadir dengan suka cita mendengarkan dengan haru semua yang disampaikan oleh Abi. Di akhir refleksi yang disampaikannya, Abi menyampaikan terima kasih atas kepedulian semua pihak terhadap Milad Pondok.

“Saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh santri dan asatidz-asatidzah yang telah peduli dengan pondok, yang begitu perhatian dengan milad pondok. Saya merasa sangat bahagia. Saya tidak melihat hanya dari adanya nasi tumpengnya saya, tapi saya melihat di balik tumpeng ini, di balik acara ini, terdapat rasa cinta dan kepedulian yang sangat tinggi dari semua santri di sini akan Qothrotul Falah. Semoga ke depan QF semakin berkembang dan santrinya menjadi orang yang sukses dan bermanfaat”, ujar Abi sebagai kalam pamungkas refleksinya.

Setelah refleksi yang disampaikan oleh pimpinan pondok, acara yang dihadiri oleh seluruh dewan asatidz-astidzah dan santri ini dilanjut dengan istghasah yang dipimpin langsung oleh Ustadz Muhammad Yusuf Al-Hafidz. Usai Istighasah disambung dengan shalat Isya berjamaah.

Ba’da shalat Isya, seluruh santri dan guru berkumpul di lapangan dan di halaman kediaman pengasuh pondok. Suara gemuruh kembang api memecahkan rasa haru dan bahagia santri-santri. indahnya kembang api yang menghiasi langit malam, sebagai bentuk suka cita dari perayaan milad pondok saat itu.

Tak hanya berpesta kembang api, seluruh santri dan guru pun menikmati makan nasi liwet dan tumpeng yang telah disiapkan oleh pengurus. Meskipun saat usai shalat Isya saat itu kondisinya sedang mati lampu, namun tak menyurutkan kebahagiaan dan kebersamaan para santri. Dengan bermodalkan senter-senter dari dewan asatidz-asatidzah, semua santri terlihat begitu menikmati makan bersama malam itu dengan teman kelasnya masing-masing.

Acara yang diketuai oleh Tatu Aisyah ini berlangsung dengan cukup sederhana namun bermakna dan penuh kebersamaan. “Kami bersyukur akhirnya kami bisa mengadakan acara tasyakuran milad pondok ini. Ini adalah wujud kecintaan kami kepada pondok kami. Dan insya Allah ke depan akan direncanakan perayaan milad yang lebih meriah dari malam ini”, ungkap Tatu saat dimintai komentarnya mengenai acara milad yang dirancangnya bersama kawan-kawan.[Ayat]