Merancang Pameran Buku Pesantren

Sejumlah aktivis keagamaan, tepatnya para pengelola pesantren, dari Bogor, Bekasi, Jakarta, Tangerang, Lebak, Pandeglang dan Padang, berkumpul di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, Ahad, 17 September 2017, guna membahas rencana pelaksanaan pameran buku khusus pesantren atau Pesantren Book Fair.

Mereka adalah K. Sholahuddin Malik, M.Si. (Yasfi Bekasi), Dr. Hj. Erba Rozalina Zuliyanti, MA (UIN Bandung), Ahmad Ubaidillah, S.Sos., (Ponpes al-Falak/PSP Bogor), Ira D. Aini (PSP Bogor), Azizah Zubair (PSP Bogor), Bang Tion (Ponpes al-Raudhah Jakarta), Deden Z. Farhan (Ponpes al-Farhan Lebak), Siti Nur Asiyah, MM (Fatayat NU Lebak), Muh. Najmi Fathoni, M.I.K. (Ponpes al-Adib Pandeglang), KH. Ahmad Imron, SE (Ponpes Darul Falahiyyah Tangerang), dll.

Rencana kegiatan yang merupakan tindak lanjut dari Halqah Kiai Nusantara, yang diselenggarakan di Bogor, 28-31 Agustus 2017 oleh Pusat Studi Pesantren (PSP), ini dilontarkan oleh Bang Tion, aktivis literasi yang sudah malang-melintang di dunia perbukuan selama puluhan tahun.

Menurutnya, kegiatan ini penting diselenggarakan karena pameran buku selama ini cenderung umum dan tidak memiliki karakter khas pesantren. Perlu ada pameran buku alternatif dengan corak tertentu yang khas. Atas dasar itu, Pameran Buku Khazanah Pesantren ini penting dihelat sebagai alternatif bacaan.

Pelaksana pameran ini akan betul-betul selektif menentukan buku yang dipamerkan dan penerbit yang terlibat di dalamnya. Kegiatan yang dihelat untuk meramaikan kegiatan inipun dipilih yang sesuai dengan tradisi pesantren.

Rencananya, kegiatan ini akan diselenggarakan di Istora Senayan tahun depan dengan melibatkan ribuan santri dari berbagai pesantren sebagai pengunjungnya. Sebagai langkah awal, maka akan dilakukan persiapan yang memakan waktu sekurang-kurangnya enam bulan, termasuk mensurvey potensi sponsorsip.

Insya Allah, dengan kerja keras dan kerja cerdas, plus dukungan dari semua pihak yang peduli pada khazanah pesantren, kegiatan ini akan terselenggara secara baik, sehingga memberikan kemanfaatan terbaik untuk pesantren dan Indonesia.

Selain membahas rencana pameran buku, para aktivis keagamaan pesantren ini juga merancang rencana pembuatan buku sebagai karya bersama. Dikordinatori oleh PSP, beberapa kiai pesantren akan dimintai tulisannya tentang pengalamannya mengelola perbedaan, kebhinnekaan, kebangsaan, perdamaian dan selainnya.

Rencananya, kumpulan tulisan ini akan diterbitkan oleh PSP dengan tema besar “Suara Kiai dan Nyai: Merumuskan Pendidikan Damai dari Pesantren”. Semoga saja rencana-rencana maslahat ini dimudahan oleh-Nya, sehingga menghadirkan kemanfaatan untuk umat.[nhm]