Tausiah Tahun Baru Abah Waya

Pergantian tahun baru hijriyah dari 1438 H ke 1439 H di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten kali ini terasa berbeda, karena dihadiri seorang saleh bernama Abah Waya, dari Karawang Jawa Barat.

Pada peringatan pergantian tahun sebelumnya, para santri biasanya menyelenggarakan berbagai perlombaan yang diawali dengan pawai obor. Kali ini, selain diselenggarakan berbagai perlombaan seperti cerdas-cermat, nasyid, dll, juga digelar doa bersama akhir tahun dan awal tahun.

Untuk doa awal tahun, pembacaan istigatsah dipimpin oleh KH. Aang Abdurohman, SE., M.Pd. dan pembacaan doa oleh Ustadz Nurohmat al-Hafidh, dan dilakukan di Majlis Putra, dihadiri oleh seluruh santri dan para guru. Dan doa awal tahun dipimpin juga oleh Ustadz Nurohmat.

Pada doa awal tahun ini, Abah Waya, seorang saleh yang tuna netra, yang sering hadir di Pondok Pesantren Qothrotul Falah turut hadir dan berdoa bersama.

Bahkan pada 2 Muharram 1439 H malam, Abah Waya memimpin doa dan tahlil di hadapan para santri. Juga memberikan tausiah. Beliau mengingatkan, jika kita semua benar-benar mengaku umat Muhammad, maka sudah semestinya menjunjung kewajiban shalat yang lima waktu.

Islam, katanya, singkatan dari Isya, Shubuh, Luhur (dhuhur), Ashar dan Maghrib. Islam, katanya, juga bermakna Ingin Sekali Lakukan Ajaran Muhammad. Islam, katanya lagi, Internasional Sosial Liberti Anti Agresi dan Monoteisme.

Islam itu agama pemersatu di dunia, katanya. “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengatasinya,” ujarnya yang terkadang mengutip bahasa Inggris.

Mengutip Bung Karno, Abah Waya menyatakan, Islam itu agama yang berperadaban nan abadi. “Islam mau campur dengan siapa saja tidak masalah, asalkan akidah tidak campur. Musuh jangan dicari, ketemua jangan lari, itulah Islam,” ujarnya.[nhm]