Hari Santri, Ansor Cikulur Adakan Lomba Ngeliwet

Untuk meramaikan Hari Santri, berbagai elemen pesantren mengadakan aneka kegiatan, baik yang serius maupun yang sifatnya ramai-ramai. Diantaranya PAC GP Ansor Kec. Cikulur Kab. Lebak Prop. Banten, yang mengadakan aneka perlombaan, Sabtu, 28 Oktober 2017 pagi.

Bertempat di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, PAC GP Ansor Cikulur menggelar perlombaan balap karung mengenakan helm, hafalan Awamil (kitab nahwu), rangking satu dan ngeliwet.

Ngeliwet, menjadi lomba yang menarik minat puluhan pesantren sekitar yang turut menjadi peserta. Berbagai peralatan, seperti panci, kastrol, kenceng, dll, dibawa oleh peserta. Aneka lauk juga dihidangkan dengan berbagai bumbunya oleh para chef bersarung ini.

Untuk lauk, panitia menyediakan jengkol sebagai lauk khas pesantren. Peserta tampak antusias dan sudah terbiasa dengan menu jengkol ini. “Sengaja kita sediakan jengkol untuk lomba ngeliwet, karena ini khas pesantren banget,” ujar Ketua PAC GP Ansor Cikulur, Muhammad Syukron.

Dibuka secara resmi oleh Camat Kecamatan Cikulur, Habib Abdullah, kegiatan ini mengusung tema “Menjadikan Santri sebagai Agent of Change”. Dikatakannya, dirinya bangga bisa hadir dalam kegiatan santri ini.

“Bahagia rasanya bisa hadir di sini. Saya melihat santri pakai sarung. Dan saya Camat, juga dulunya santri. Saya nggak anti dengan sarung dan saya juga bisa ngeliwet,” jelas Camat yang mengenakan sarung dan peci dalam sambutannya ini.

Menurut Camat, Cikulur adalah Kota Santri. “Cikulur bukan daerah industri. Saya termotivasi sebagai santri. Di Cikulur Camat itu punya tabarat, tabungan akhirat, karena banyak undangan pengajian di sana-sini,” ujarnya.  

Karena itu, imbuh Camat, santri tidak semestinya berkecil hati. “Hari Santri Nasional ini bukti bahwa santri itu dihargai atau diakui pemerintah sejak 2015. Bukan berarti dulu nggak diaku, cuma kurang booming. Sekarang kita harus memeriahkan kegiatan ini,” katanya lagi.

Bahkan menurutnya, tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan negara ini jika tidak ada keberadaan santri. “Santri itu garda terdepan melawan kemaksiatan,” ujarnya. “Namun di zaman ini, santri harus modern, karena mereka punya peranan penting bagi kemajuan bangsa ini,” ujarnya.

KH. Aang Abdurohman, SE., M.Pd., selaku tuan rumah dan perwakilan PC GP Ansor Lebak dalam sambutannya menyatakan, Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan yang posisinya berada di tengah-tengah (tawassuth).  

“NU nggak suka demo. Posisinya di tengah atau tawassuth dan lebih suka mendamaikan,” jelasnya.

Kiai Aang mengingatkan supaya umat Islam di Indonesia tidak mudah diadu-domba oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan ingin melihat negara ini berantakan. “Kalau sudah pecah, nanti tidak ada bedanya dengan Irak, Siria, dll,” ingatnya.

Menurutnya, ada kelompok tertentu yang ingin mengacaukan Indonesia melalui berbagai cara sehingga terjadi perang saudara. “Dulu musuh kita jelas, Belanda dan Jepang misalnya. Sekarang musuh kita nggak jelas. Nggak ikut aksi 212 dijadikan musuh. Isu Komunis jadi musuh,” katanya lagi.  

Karena itu, Kiai Aang mengingatkan, umat Islam terutama santri harus teliti dan jeli pada informasi. Jangan mudah meyakini informasi yang berkembang serampangan. “Kita harus memfilter informasi itu benar atau tidak. Dan karenanya, santri harus menjadi agen perubahan sekaligus harus menjadi penjaga perdamaian,” katanya berharap.

Pada pembukaan perlombaan ini, tampak hadir juga Masroem dari Polsek Cikulur, Ahmad Turmudzi dari PC GP Ansor Lebak, Ubaidillah selaku Bendum PC GP Ansor Lebak dan sebagainya.[nhm]