Tidak Ada Sukses yang Diawali dari Kebahagiaan

MTs Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten meyelenggarakan kegiatan Silaturahim dan Motivasi untuk Siswa dan Guru MTs/MA se-Kecamatan Cikulur, Selasa, 31 Oktober 2017.  Bertempat di Majelis Putera Qothrotul Falah, Kepala Bidang Pendidikan Madrasan (Penma) Kanwil Kemenag Propinsi Banten, Dr. KH. Mahfudin, M.Pd., didaulat sebagai pemberi materi tunggal.

Tampak hadir Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Qothrotul Falah, Nurul H. Maarif, Kepala MTs Qothrotul Falah, Ahmad Turmudzi, M.Pd., Pengawas Sekolah, Kepala MTs/MA se-Cikulur, guru-guru, dan para santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

Dalam sambutan singkatnya, Kepala MTs Qothrotul Falah Ahmad Turmudzi menyampaikan, bahwa kegiatan ini dihelat untuk memberi motivasi pada siswa dan guru, sehingga mereka lebih semangat dan giat lagi menjalani proses pembelajaran.

“Secara umum, madrasah-madrasah yang ada ini banyak keterbatasan atau pas-pasan. Kualitas gurunya pas-pasan, kualitas siswanya pas-pasan, fasilitasnya juga pas-pasan, dan semuanya pas-pasan,” ujarnya. “Untuk itu, pemberian motivasi menjadi penting dilakukan,” sambungnya.

Menurutnya, dalam rangkaian pembelajaran, materi yang diajarkan itu penting, namun jauh lebih penting metode yang digunakan. “al-Thariqah afdhal min al-madah, metode itu lebih penting ketimbang materi yang disampaikan,” katanya.

“Metode itu penting, namun guru lebih penting lagi. Dan guru itu penting, namun motivasi dan semangat guru itu jauh lebih penting,” ujarnya. “Motivasi dan semangat inilah yang penting sekali dipompa terus-menerus,” katanya lagi.

Merespon hal ini, dalam tausiahnya, Kabid Penma Dr. KH. Mahfudin, M.Pd., memberikan semangat bahwa santri atau siswa madrasah itu insan-insan unggulan. Banyak potensi hebat yang tersimpan dalam diri mereka.

“Santri itu kelas Nomor 1,” katanya.

Kiai Mahfudin lalu membagi jenis santri menjadi empat: cerdas, pintar, bodoh dan malas. “Dan sesungguhnya santri bodoh itu nggak ada. Yang ada adalah santri yang belum bertemu dengan guru yang pintar,” terangnya.

Kiai Mahfudin lalu menyontohkan kehebatan Yohanes Surya, pendiri Surya University, yang mampu mendidik putera-puteri Papua menjadi juara olimpiade Nasional, bahkan internasional. Ketika Yohanes belum menangani mereka, prestasi mereka biasa-biasa saja. Namun ketika ditangani oleh master sekelas Yohanes, prestasi mereka langsung melejit. Kuncinya ada pada guru yang mampu membangkitkan semangat siswa didiknya.  

Yang tak kalah penting, kata Pengasuh Ponpes Modern Arrahman Serang ini, adalah motivasi yang kuat dalam diri peserta didik atau santri.

“Ibarat telur, jika ia dipecahkan dari luar, maka ia akan mati dan membusuk. Namun jika dipecahkan dari dalam, didorong dan dipaksa dari dalam, maka akan muncul kehidupan,” katanya. “Dan motivasi terhebat itu muncul dari dalam diri sendiri, bukan dari orang lain,” imbuhnya lagi.

Diingatkannya juga, kesungguhan dan keseriusan untuk meraih sukses harus benar-benar ditanamkan kuat-kuat dalam diri santri. Kiai Mahfudin lalu mengutip komentar tokoh pendidikan dunia, Imam al-Ghazali.

“Ada puluhan pulau di depan kita, kata al-Ghazali. Ada langkah-langkah kecil untuk mencapainya. Juga ada langkah pertama, yaitu niat,” ujarnya. “Kita harus ingat niat kita hadir di pondok pesantren ini untuk apa,” sambugnya.

Dan untuk mencapai kesuksesan itu, niat atau langkah pertama harus segera dimulai dan prosesnya ditata dengan sebaik-baiknya. “Cara untuk mencapai tujuan adalah memulainya dari sekarang,” jelasnya mengutip motivator dunia Willian Feather. “Sebab tidak ada sukses yang diawali dari kebahagiaan,” ingatnya.

Di akhir paparannya, Kiai Mahfudin mengingatkan santri atau siswa untuk aktif di masyarakat maupun pemerintahan. “Santri harus hadir di tengah masyarakat sekaligus hadir di tengah negara,” katanya.[nhm]