Tiga Ustadzah Ikuti Lombok Youth Camp 2018

Setelah melalui seleksi yang ketat, tiga ustadzah Pondok Pesantren Qothrotul Falah, yakni Uyun Rika Uyuni, Cahyati, dan Fitri Aryanti, berhasil mengalahkan ribuan pendaftar kegiatan Lombok Youth Camp for Peace Leader 2018. Mereka lolos dan mendapatkan kesempatan berkumpul dengan para pemuda se-Nusantara, pada acara yang diselenggarakan oleh Nusa Tenggara Centre yang bekerja sama dengan PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) UIN Jakarta bersama UNDP (United Nation Development Program).

Kegiatan yang diikuti oleh 200 pemuda dari berbagai Perguruan Tinggi Islam Negeri di Nusantara ini dimaksudkan untuk memperkuat wawasan ke-Indonesia-an, keislaman, nilai bina damai serta mengembangkan berbagai upaya nyata pemuda untuk mencegah kekerasan, radikalisme, dan ekstremisme, juga untuk mengkampanyekan Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

Ketiga ustadzah ini bersama dua teman kampusnya yang lain, menjadi peserta mewakili UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten. Merekalah yang terpilih menjadi peserta delegasi Prop. Banten. Dalam kegiatan kemah yang berlangsung lima hari ini, 21-25 Januari 2018, mereka dipertemukan dengan pemuda/i yang datang dari berbagai daerah. Mulai dari Lampung, Kerinci, Kalimantan, Solo, Yogyakarta, Jambi, Surakarta, Aceh, Papua, dan propinsi lainnya di Indonesia.

Kegiatan kemah pemuda yang dilaksanakan di Lombok Utara, tepatnya di Pantai Klui ini dibuka langsung oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A. Dalam sambutannya, Gubernur yang akrab disapa Tuan Guru Bajang ini mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta Lombok Youth Camp serta menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. Selain menyampaikan sambutan, Gubernur juga mengisi salah-satu rangkaian acara kegiatan kemah, yakni sebagai pemateri Majelis Harmoni 1 dengan tema Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

Acara kemah yang diikuti oleh berbagai pemuda dari suku, budaya, bahasa yang berbeda itu diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti majelis harmoni, mentoring, diskusi, out bon, site visit dan kegiatan menarik lainnya. Materi yang diberikan kepada para penerus bangsa ini juga sangat bagus, seperti Peran Pemuda dalam Merawat Nasionalisme dan Ke-Indonesiaan oleh MENPORA RI, Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan dan Ekstremisme oleh BNPT RI. Di kelas, sesuai kelompok yang sudah ditentukan oleh panitia, semua peserta diberikan ruang untuk berpendapat, bercerita tentang pengalaman di daerah masing-masing saat mentoring.

Di hari kedua, bersama teman-teman dalam kelompoknya, Uyun, Cahyati, Fitri, mengikuti kegiatan site visit, yakni berkunjung ke berbagai tempat di Lombok. Kunjungan pertama ke sebuah pemakaman di Lombok yang disebut dengan Loang Baloq. Kunjungan kedua ke tempat ibadah umat Hindu dan Islam yang terdapat dalam satu tempat. Tempat ibadah umat Hindu berada di area atas, dan di bawahnya adalah tempat ibadah umat Islam seperti mushalla dan air pancuran untuk berwudhu. Tempat ini dinamakan Pura Lingsar.

Melalui tempat ini, tercermin bahwa masyarakat Lombok menjunjung tinggi nilai toleransi dengan hidup harmonis dalam segala keberagaman di sekitarnya. Kunjungan ketiga yaitu Islamic Centre (IC) yang berada di Kota Mataram. Tak heran jika Lombok memiliki Masjid yang begitu megah seperti IC ini, karena Lombok memang terkenal dengan sebutan kota 1000 Mesjid.

Acara menarik lainnya dalam kemah ini yaitu atraksi budaya yang ditampilkan oleh masing-masing delegasi daerah. Ada yang menampilkan tarian daerah, lagu daerah, drama yang menganggkat legenda daerah, puisi dan yang lainnya. Dalam atraksi budaya ini tergambar kekayaan dan keindahan yang dimiliki Indonesia. Antusias peserta sangat tinggi dalam menyaksikan setiap atraksi budaya yang ditampilkan.

Selama lima hari dalam kegiatan Lombok Youth Camp ini, kebersamaan dan kekompakan 200 pemuda/i dari berbagai daerah ini terjalin dengan begitu hangat. Sampai mereka enggan untuk saling berpisah. Namun di hari kelima, kegiatan ditutup dengan meriah oleh Wali Kota Lombok Utara. Meski ada kesedihan, tapi peserta tetap mengikuti rangkaian penutupan itu dengan khidmat. Pakaian adat yang dikenakan oleh semua peserta menurut daerah masing-masing menambah warna keindahan kegiatan tersebut. Inilah Indonesia, dengan suku, agama, dan ras yang kita miliki.[Ayat]