Gus Zia Ingatkan Urgensi Kejujuran Laporan Pertanggungjawaban

Kepengurusan Organisasi Pelajar Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) masa bakti 2017-2018 segera berakhir, dan akan digantikan oleh kepengurusan berikutnya. Berbagai kegiatan atau program telah mereka selenggaralan selama kurun waktu setahun. Dan sebagai puncak pergantian kepengurusan, diselenggarakan Laporan Pertanggungjawaban atau LPJ, baik kepada dewan guru secara tertutup maupun kepada para santri secara terbuka.
 
Untuk LPJ kali ini terasa istimewa, karena dihadiri oleh Pengasuh Pegasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Jakarta, KH. Zia Ul-Haramein Ali Mustafa, Lc untuk memberikan motivasi baik untuk pengurus maupun santri, pada kegiatan LPJ terbuka, Sabtu, 3 Januari 2018, yang dihelat di lapangan upacara Pondok Pesantren Qothrotul Falah, dan dihari oleh santri, pengurus dan dewan guru.  

Sarjana lulusan Universitas Madinah ini putera semata wayang ulama terkenal di Indonesia yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal dua periode, yakni Alm. Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Dalam sambutannya, Gus Zia – sapaan akrabnya – memberikan nasihat menganai pentingnya LPJ.

“Organisasi tidak bisa berjalan tanpa adanya evaluasi-evaluasi”, ujar Kiai muda yang pernah tinggal lama di Amerika ini.  

Karena itu, menurutnya, sangat penting diadakannya LPJ sebagai bahan pertanggungjawaban dan evaluasi sebagai tolok ukur keberhasilan jalannya kegiatan dan akan menjadi pelajaran penting bagi kepengurusan yang akan mengemban roda organisasi selanjutnya.

Kiai muda nan gaul yang sering disapa Gus Zia ini juga menuturkaan, di dalam pesantren, melalui organisasi para individu pengurusnya digodok dan digembleng, sehingga saat keluar dari pesantren untuk terjun ke dunia perguruan tinggi atau masyarakat, mereka sudah siap dengan segala resiko dan tanggung jawaban sebagaimana diajarkan dalam organisasi.

Menurutnya juga, berorganisasi merupakan agenda penting untuk santri, sebab dalam organisasi santri bisa belajar lebih dewasa, tanggung jawab, dan mengontrol diri.  Jadi, santri tak cukup hanya belajar mengaji, tapi juga perlu untuk belajar organisasi. Di pesantrennya, yang dihuni santri mahasiswa dan siswa sekolah menengah, diterapkan Trilogi Santri, yakni dirasah (belajar), munadhdhamah (organisasi), dan istijmam (rekreasi). Ini untuk membentuk keseimbangan santri.

Tak lupa, Gus Zia mengingatkan urgensi kejujuran dalam LPJ. “Dalam sebuah laporan pertanggung jawaban, yang diutamakan adalah nilai kejujuran”, jelas mahasiswa S2 Universitas Indonesia ini.

Belau berharap, dalam setiap laporan LPJ OPPQ ini semuanya berdasarkan kejujuran dan fakta apa adanya. Sebab, apa yang terjadi di organisasi akan dipertanggungjawabkan di hari kelak di hadapan Allah Swt.[yat]