Rawat Kebersamaan, MUSPIJA Banten Kunjungi Qothrotul Falah

Sejumlah pejabat teras Musyawarah Pimpinan Gereja-gereja (MUSPIJA) Propinsi Banten berkunjung ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, 15 Januari 2018 siang. Mereka adalah Pdt Pieter Faraknimella (Ketum), Pdt Benny Halim (Ketua-1), Pdt Andreas Loanka (Sekum), Pdm. Donny Lubianto (Sekpel), Pdt Youke Singal (Penasihat) & suami, Komisi Pemuda: Pdp Dwi Prasetyo, dan Pdp Gunadi.

Tidak banyak agenda yang dilakukan di Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Intinya hanya kunjungan silaturahim dan kekeluargaan biasa, untuk merawat kebersamaan dan persatuan sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Bineka Tunggal Ika. Karena itu tidak ada agenda-agenda yang spesifik.

Dari pihak pesantren, tampak hadir Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif, Kepala MTs Qothrotul Falah Ahmad Turmudzi, Waka Kurilum Agus F. Awaluddin, Pembina Tahfidz Muhammad Yusuf, Bendahara Dede Saadah, dan banyak lagi.

Pertemuan yang tidak begitu lama dan diiringi derasnya hujan ini berlangsung santai dan guyub. Dan di tengah-tengah kunjungan itu, MUSPIJA meminta Penulis Buku “Islam Mengasihi, Bukan Membenci” (Mizan: 2017), Nurul H. Maarif, untuk menandatangi buku karyanya, yang akan dibagikan pada jemaah gereja di bawah naungan MUSPIJA. Mereka memborong ratusan buku ini, karena dinilai memberi kesejukan dan kedamaian dalam keragaman.

Kunjungan ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini sebetulnya menjadi rangkaian kunjungan mereka ke beberapa tokoh di Banten, seperti Ketua MUI Prop. Banten Dr, KH. HM Romli di Serang dan sesepuh Banten Abuya Muhtadi Dimyati Cadasari Pandeglang. Tujuannya juga sama untuk menjalin kebersamaan di tengah situasi bangsa yang kian saling curiga satu sama lain ini.

Kunjungan non-muslim ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah, sebetulnya sudah sering terjadi. Pesantren ini terbuka dan menghargai perbedaan, karena itulah fitrah kemanusiaan. Andai Allah menghendaki semua umat ini beriman (Qs. Yunus [10]: 99) atau semuanya menjadi satu jenis/golongan (Qs. al-Maidah [5]: 48), sangatlah mudah bagi-Nya melakukan semua itu. Namun Allah menghendaki perbedaan, guna mengukur siapa yang terbaik di dunia ini.

Dalam sejarah Islam sendiri, kunjungan pendeta-pendeta atau non-muslim pada Rasulullah Saw bukanlah hal yang tabu. Mereka sowan untuk berbagai keperluan, seperti dialog atau tukar pikiran. Dan tentu saja, tuan rumah harus memberikan pelayanan terbaik, karena inilah dakwah Islam.[nhm]