Cicit Syeikh al-Jailani Obati Dahaga Spiritual Santri

Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten mendapat kehormatan dikunjungi oleh Syeikh Amin Muhammad Ali al-Dzahabi al-Jilani, yang juga cicit ke-26 sufi besar Tuanku Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Sabtu-Ahad, 24-25 Februari 2018. Beliau bermalam di kediaman pimpinan pesantren.

Kunjungan ini menjadi bagian dari kunjungan pentingnya ke beberapa tempat di wilayah Banten, termasuk ke tokoh kharismatik Banten, Abuya Muhtadi Dimyati Cadasari Pandenglang. Juga kunjungan ke Cilegon dan beberapa tempat lainnya.

Setibanya di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, beliau disambut antusias oleh para santri laki-laki dan perempuan, alumni dan masyarakat sekitar. Bahkan masyarakat luar Cikulur Lebak pun ramai berdatangan. Hadrah santri juga turut memeriahkan penyambutan ini. Mereka ingin melihat langsung cicit Syeikh al-Jailani itu dan tentu saja ingin mendapat doa keberkahan darinya.

Di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, beliau menjalani beberaga agenda penting. Misalnya, memberikan tausiah keagamaan, ijazah dzikir, juga berdoa bersama. Tausiah disampaikan pada malam Ahad, di Majelis Putera Qothrotul Falah.

Menjelang tausiah beliau bergembira dengan mendengarkan bacaan shalawat yang diiringi hadrah santri. Beliau tampak antusias, bahkan menari-menari dengan mengajak beberapa hadirin. Suasana ini menampakkan kecintaan yang besar pada Rasulullah Saw.

Dalam tausiahnya yang menggunakan Bahasa Arab dan diterjemahkan oleh Ustadz Muhammad Yusuf al-Hafidz, beliau banyak menyampaikan pentingnya menuntut ilmu, karena ia akan menjadi cahaya bagi kehidupan dan penerang di akhirat kelak. Ilmu juga akan menjadi wasilah diangkatnya derajat pemiliknya, baik di hadapan Allah Swt maupun manusia.

Mengutip sabda Rasulullah Saw, beliau menyampaikan bahwa junjungan umat Islam itu tidak mewariskan harta benda semisal dinar atau dirham, melainkan ilmu. Karena itu, siapa yang mengambil bagian ilmu, maka ambillan dengan sempurna, jangan sepotong-sepotong.

Beliau juga mewasiatkan pada hadirin untuk senantiasa menjaga shalat lima waktu dengan sebaik-baiknya. Jangan pernah melalaikan kewajiban fundamental ini. Selain itu, beliau juga memberikan beberapa ijazah dzikir untuk kalangan umum dan ijazah kitab pada beberapa orang.

Pada Ahad, beliau berkeliling pesantren, termasuk berdoa bersama di pemakaman pesantren. Para guru dan beberapa pengelola pesantren tampak mengiringi beliau. Semoga saja, kehadiran beliau memberikan keberhakan tersendiri bagi pesantren dan mampu menyegarkan dahaga spiritual santri.[nhm]