Menulis Itu Mengabadikan Diri

Rabu, 2 Mei 2018 sore, penulis, editor sekaligus trainer kepenulisan terkenal, M. Iqbal Dawami, berbagi ilmu kepenulisan pada santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten. Hadir pada kegiatan itu, antara lain, Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Nurul H. Maarif dan Pembina Perpustakaan, Ustadz M. Eman Sulaiman.

Dalam kata pembukanya, Nurul H. Maarif menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam pada M. Iqbal Dawami yang berkenan menyempatkan diri mengunjungi dan berbagi ilmu pada para santri.  

“Saya juga baru ketemu dengan Kang Iqbal hari ini. Namanya sudah populer melalui karya-karyanya yang banyak. Kita beruntung bisa didatangi ilmu, bukan mendatangi,” ujarnya.

“Ini kehormatan untuk kita semua yang haus ilmu tulis-menulis,” sambungnya.
 
Bertempat di Pondok Baca Qi Falah, Iqbal Dawami, pria berputera dua asli Pandeglang Banten, yang telah menulis lebih dari 25 buku ini memberikan trik tulis-menulis. Baginya, menulis itu sangat penting dan tak bisa disepelekan.

“Verba volant, scripta manent. Yang terucap akan hilang dan yang tertulis akan abadi,” katanya mengutip pepatah Latin yang memberikan keyakinan pentingnya menulis.

Banyak yang memandang miring dunia tulis-menulis. “Apa penulis bisa menghidupi keluarganya? Ternyata menulis itu bisa menghidupi. Banyak orang menjadi kaya raya karena menulis,” kata Iqbal, yang telah menjalani profesi penulis selama 17 tahun ini.

“Dan profesi yang tidak pernah putus ya menulis,” sambung alumni MAPK Ciamis ini.

Dikatakan Iqbal, menulis haruslah diiringi niat yang kuat dan keyakinan yang kokoh, karena menulis itu menyebarkan kebaikan. “Dan insya Allah pada waktunya akan sukses,” katanya.

Tak kalah penting, Iqbal menyampaikan lima manfaat menulis. Pertama, menyehatkan hati dan pikiran. Bahkan, katanya, menulis bisa menyembuhkan penyakit. Kedua, mengabadikan diri sendiri. Ketiga, menyebarkan gagasan secara massif. Keempat, ajang promosi. Kelima, mendatangkan penghasilan.   

“Penulis Harry Potter, JK Rowling, termasuk yang membuktikannya. Menulis akan menghasilkan kekayaan dalam jumlah besar. Banyak lagi contoh yang lain,” ujarnya memotivasi.

“Kalau saya menulis, sering tulisan saya tidak selesai-selesai. Apa solusinya?” tanya Kholifah, siswa Kelas X SMA Qothrotul Falah.

Dalam jawabannya, Iqbal menganjurkan, menulis itu tidak harus langsung selesai. “Nulis itu perlu dicicil, kayak menabung. Nggak bisa langsung selesai. Dan saya nggak percaya menulis harus ada waktu khusus. Godaan menulis itu selalu tidak ingin menyelesaikan tulisannya. Makanya harus istikomah, walaupun hanya menulis satu paragraph setiap hari,” katanya.  

Menurut Iqbal, diantara penyakit calon penulis adalah ingin tulisannya langsung sempurna. “Tidak ada tulisan yang sekali jadi. Tidak ada yang langsung semupurna. Itu penyakit. Tulislah sejelek-jeleknya. Nanti akan dibaca ulang beberapa kali, sehingga tulisan menjadi bagus,” ujarnya.

Penulis Pseudo Literasi ini lalu menyontohkan novel Laskar Pelangi yang melegenda itu. “Itu diedit sampai sepuluh kali. Dan dulu judulnya bukan Laskar Pelangi, tapi Komedi Putar,” imbuhnya.

“Jadi ya, nggak usah banyak pikiran. Tulis saja apa yang dipikirkan,” nasihatnya. [nhm]