Tadarus “Islam Mengasihi, Bukan Membenci”

Gerakan Islam Cinta (GEC) menyelenggarakan Tadarus buku Islam Mengasihi, Bukan Membenci karya Nurul H. Maarif, Rabu, 30 Mei 2018 sore, di Millennia Book Store Cirendeu Ciputat Tangerang Banten.
 
Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan pada 2017, ini mengusung isu kasih-sayang Islam yang menjadi ajaran utama risalah langit yang dibawa Rasulullah Saw. Tidak hanya rahmat bagi manusia, namun bagi seluruh makhluk di alam raya ini.
 
Sebagai pemateri utama, hadir penulis buku, Nurul H. Maarif. Juga hadir Aida dan Eddy Aqdhiwijaya dari Mizan Wacana dan Gerakan Islam Cinta (GIC). Peserta yang datang dari berbagai kampus di sekitar Banten dan Jakarta itu juga tampak memenuhi ruangan tadarus.
 
Dalam paparannya, Nurul H. Maarif menyatakan, Islam adalah agama ramah, bukan agama marah. “Islam itu agama mengasihi, bukan membenci,” ujarnya.
 
Mengutip Hadis Rasulullah Saw riwayat Imam Abu Ya’la, Nurul menyebutkan bahwa seluruh makhluk adalah keluarga Allah (‘iyal Allah). “Dan yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi keluarganya,” ujarnya.
 
Nurul lalu mengibaratkan, kekeluargaan seluruh makhluk ini bagaikan kehidupan di dalam satu rumah. Hanya saja mereka beda kamar, sesuai selera dan pilihannya.
 
“Tuhan kita sama. Moyang kita tidak berbeda. Semestinya kita semua bisa berangkulan satu sama lain sebagai keluarga besar. Cuma sayangnya, terkadang ego kita yang tinggi menjadi hambatan serius. Kita merasa yang terbaik dan yang lain kita nilai salah, sehingga yang berbeda kita benci dan musuhi,” ujarnya.
 
Padahal jelas sekali, katanya, Rasulullah Saw dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan: “Orang-orang yang menyayangi akan disayangi Allah. Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi penduduk langit!”
 
Bagaimana jika nyatanya ada kelompok tertentu yang mengusung gagasan kebencian Islam, sehingga mereka bertindak radikal pada orang yang berbeda?
 
“Itu terjadi karena mereka hanya membaca satu buku. Bukan membaca banyak buku,” ujar Nurul.
 
Bagi Nurul, memahami Islam tidak bisa parsial apalagi sepotong-sepotong. Harus menyeluruh. Ada ayat perang, namun banyak sekali ayat kasih sayang. “Kenapa hanya peperangan yang ditonjolkan? Banyak nilai kasih sayang lainnya yang sangat kaya dalam Islam kok, yang juga sudah semestinya dikedepankan,” katanya.
 
Di akhir tadarus, Nurul berharap, generasi muda harus menjadi kelompok yang bersuara keras menebarkan kasih sayang, sehingga benar-benar terwujud kehidupan yang indah nan nyaman di negeri ini.[]